31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Bamiyan-Borobudur dalam Pameran Warisan Budaya

MUNGKID— Palestina dan Indonesia melakukan kerja sama pameran budaya bangsa antardua negara di komplek Taman Wisata Candi Borobudur. Pameran tentang warisan budaya dua negara itu bertujuan untuk pelestarian di tengah rusaknya situs Bamiyan di Palestina akibat perang. Pameran digelar atas kerja sama Pemerintah Indonesia bersama UNESCO. Bertajuk “Simpang Budaya: Bamiyan dan Borobudur”.

“Melalui pameran ini, kami berupaya memberikan toleransi budaya bahwa apa yang terjadi di kedua negara tersebut jangan sampai terjadi di Indonesia,” jelas Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hari Widianto.

Dia mengatakan, dua negara yang memiliki warisan dunia dan hancur akibat perang yakni Afganistan serta Syria. “Melalui pameran ini, kami berupaya memberikan toleransi budaya bahwa apa yang terjadi di kedua negara tersebut jangan sampai terjadi di Indonesia,” jelas Hari.

Pameran yang berlangsung di museum Karmawibangga komplek Taman Wisata Candi Borobudur Magelang, itu sendiri akan berlangsung hingga 2 Februari mendatang. Sesuai dengan tema, pameran yang digelar memamerkan landskap Lembah Bamiyan serta Candi Borobudur. Bamiyan merupakan situs warisan dunia yang ada di negara Afganistan, sedangkan Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia yang ada di Indonesia.

“Dengan pameran ini, kami ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa meskipun Indonesia berbeda-beda agama, namun tetap melestarikan warisan dunia. Jangan sampai warisan ini menjadi sesuatu yang terinduksi secara fisik maupun informasinya,” terangnya.

Selain itu, pesan yang ingin disampaikan adalah untuk mempromosikan dialog antarbudaya, perdamaian dan saling pengertian antara masyarakat Indonesia dan Afganistan dengan memanfaatkan potensi dua situs warisan dunia UNESCO di masing-masing negara.

Kepala Kantor UNESCO di Jakarta, Bernads Allens Zako menambahkan, inisiatif dari pameran tersebut berawal dari kedekatan hubungan kerja antara Indonesia dan Afganistan.

“Pameran di Borobudur ini merupakan kegiatan tahap akhir. Sebelumnya, pameran juga digelar di Museum Nasional Afganistan di Kabul, Museum Nasional di Jakarta, dan Galeria Mall di Jogjakarta,” sebutnya.

Dijelaskan Bernards, dalam pameran ini menyoroti lima nilai penting yang dimiliki oleh kedua situs tersebut, yaitu nilai sejarah, material, pendidikan, ekonomi dan sosio-spiritual. Nilai-nilai tersebut dituangkan dalam panel-panel yang dapat dilihat dan dibaca oleh masyarakat.

Sehingga diharapkan dapat mengundang apresiasi yang lebih besar terhadap kedua peninggalan cagar budaya serta meningkatkan pemahaman lintas budaya yang lebih tinggi di antara masyarakat kedua negara dan masyarakat secara umum. (vie/lis)

Latest news

Related news