31 C
Semarang
Minggu, 16 Mei 2021

Kementan Terjunkan Tim Khusus Tangani Antraks

UNGARAN–Kementerian Pertanian (Kementan) menerjunkan tim khusus sebagai langkah untuk mengantisipasi penyebaran virus antraks ke daerah lain. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan saat ini penyebaran antraks masih di wilayah Jogjakarta.

“Tim kami sudah turun dan dianggap sudah aman, kami bergerak cepat. Kami isolasi semua daerah yang kena,” kata Amran di sela kunjungan kerja di Kantor BPPT Jateng di Bergas, Kabupaten Semarang, Senin (23/1) kemarin.

Disebutkan Amran, dua daerah yang masuk dalam kategori wilayah terisolasi. Namun Mentan tidak menyebutkan dua wilayah yang masuk dalam kategori terisolasi secara pasti. Pihaknya juga sudah melakukan pemusnahan hewan ternak yang mengidap antraks. “Dan sapi (terkena antrak) sudah dimusnahkan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Amran membantah adanya kemungkinan sumber penularan antraks berasal dari sapi impor. “Jangan dihubungkan, itu terlalu jauh,” katanya.

Ditegaskan, pemerintah tidak gagap pada penanganan antraks maupun penyakit lain yang bersumber dari hewan. “Masih ingat dulu rabies di Kalimantan Barat? Pagi terima laporan, malam berangkat, langsung selesai. Juga saat salah satu wilayah di Kalimantan kena rabies, kemudian di Bali dan Pontianak, kami bergerak cepat, karena punya tim khusus,” katanya.

Dalam penanganan antraks ini, pemerintah lebih mengedepankan penanganan preventif atau pencegahan meski langkah kuratif atau pengobatan tetap dilakukan. Selain itu, lanjutnya, masyarakat sebenarnya bisa secara mudah melakukan antisipasi penularan melalui proses pemasakan yang benar. “Kalau daging sapi dimasak panas tertentu, suhu tinggi, tidak akan ada sumber penyakit,” tuturnya.

Di Kabupaten Semarang, Bupati Mundjirin mengakui jika di wilayahnya pernah terjadi serangan antraks pada hewan ternak. Hal tersebut terjadi pada 1991. Sekitar 1.500 sapi milik PT NAA di Kecamatan Tengaran terjangkit penyakit yang disebabkan bakteri bacillus anthracis itu. “Dan sebagai langkah antisipasi, lahan di eks peternakan PT NAA tidak boleh digunakan untuk aktivitas apapun,” katanya.

Setiap tahun Pemkab Semarang juga melakukan uji laboratorium pada tanah dan hingga saat ini, terakhir pada 2016 lalu, hasilnya menunjukkan negatif. “Langkah pencegahan lain yakni dengan terus melakukan sosialisasi dan pengawasan ternak. Termasuk pengawasan lalu lintas ternak dan di rumah pemotongan hewan,” katanya.

Mundjirin juga berharap para peternak sapi di Kabupaten Semarang tidak terlalu was-was terkait penyakit tersebut. Pasalnya, pihak Pemkab Semarang selalu mengupayakan pencegahan dengan pemeriksaan hewan ternak secara rutin.

Beberapa waktu lalu, peternak sapi perah di Desa Jetak Kecamatan Getasan mengkhawatirkan adanya penularan virus antraks ke wilayahnya. Desa Jetak merupakan wilayah ternak sapi perah dan penghasil susu sapi terbesar di Kabupaten Semarang. (ewb/ida)

Latest news

Related news