31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Tawarkan Kesempatan Jadi Jutawan di Jepang

SEMARANG – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) Jawa Tengah memberi kesempatan bagi fresh graduate yang ingin menjadi jutawan di Jepang. Disnaker membuka pendaftaran sejak 20 Januari hingga 28 Februari mendatang.

Kepala Disnaker Jawa Tengah, Wika Bintang menjelaskan, program magang kerja selama tiga tahun di Jepang ini terbuka bagi pemuda usia 21 tahun-27 tahun. Tidak ada batasan kuota. ”Gaji magangnya cukup besar. Rp 10 juta-Rp 15 juta per bulan. Biasanya, pas pulang ke Jateng, mereka bisa membawa pulang Rp 300 jutaan,” ucapnya, Senin (23/1).

Dijelaskan, pendaftaran program ini tidak dipungut biaya. Tapi untuk visa dan medical check up, ditanggung pendaftar. Untuk tiket pesawat dibayari pemerintah. Sedangkan syarat yang harus dipenuhi calon peserta, adalah ijazah pendidikan minimal SMA atau SMK, dan menguasai bahasa Jepang tingkat dasar.

Syarat yang paling berat, lanjutnya, harus punya fisik yang sehat. Ujiannya, mengelilingi Lapangan Tri Lomba Juang sejauh 3 km dalam 15 menit. Selain itu ada sit up, hingga push up. Mirip latihan tentara. Tes tersebut akan digelar 6-10 Maret. ”Banyak peserta yang tidak lolos gara-gara tes ini. Dari pengalaman sebelumnya, hanya 20 persen yang lolos dari total pendaftar,” bebernya.

Karena itu, tahun ini pihaknya akan mengambil 70 peserta untuk diberi pelatihan fisik selama satu bulan. Latihan ini akan dipimpin langsung oleh anggota TNI Angkatan Darat (AD). Dengan begitu, kemungkinan lolos seleksi fisik, akan lebih besar. ”Syarat lain, belum pernah menjalani operasi, tidak bertindik, dan tidak bertato,” tegasnya.

Jika ujian fisik lolos, maka akan ada general check up di laboratorium. Jika dinyatakan sehat, akan ada tes wawancara dan penguasaan bahasa Jepang, serta matematika dasar.

Wika menjelaskan, perusahaan di Jepang meliputi berbagai sektor. Untuk lulusan SMK, akan disesuaikan dengan jurusan masing-masing. Misalnya otomotif, maka akan ditempatkan di pabrik sesuai bidangnya. ”Kalau lulusan SMA, harus ada sertifikat dari lembaga keterampilan,” imbuhnya.

Setelah kontrak kerja selama tiga tahun usai, selanjutnya mereka akan dijemput untuk dipulangkan ke Indonesia. Sebelum dibawa ke daerahnya, akan diberikan pelatihan kewirausahaan oleh Kementerian Tenaga Kerja di Lembang, Bandung. Kemudian diberi modal sejumlah sekitar Rp 60 juta per orang. ”Harapannya, kalau sudah berangkat tidak boleh ikut lagi, maka diberi modal agar bisa berwirausaha sesuai keterampilan yang dimiliki,” katanya.

Meski begitu, selama ini banyak pula peserta yang bisa langsung diangkat sebagai karyawan tetap di perusahaan di Jepang dengan penghasilan sekitar Rp 20 juta per bulan. Biasanya bagi mereka yang rajin, dan mahir berbahasa Jepang.

Sejauh ini peminat masyarakat untuk ikut program ini cukup banyak. Bahkan untuk Jateng rata-rata per tahun diberangkatkan sekitar 600 orang. Meski yang mendaftar mencapai lebih dari 1.000 orang.

Sementara itu, Sekretaris Komisi E DPRD Jawa Tengah, Hasan Asyari mengatakan, program praseleksi dari provinsi mestinya  diperbanyak. Hal itu untuk memberikan kesempatan bagi pendaftar agar peluang untuk lolos seleksi lebih besar.

”Jangan cuma 70 orang, lebih banyak akan lebih baik. Pemprov mesti memfasilitasi warganya, agar kesempatan bekerja dan memiliki pengalaman di Jepang lebih besar, utamanya tentu untuk mengurangi angka pengangguran,” ujarnya. (amh/ric/ce1)

Latest news

Related news