31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Cik Meme Revolusi Lunpia dari Pikulan ke Gerai Modern

Bicara Semarang, pasti tidak lepas dari lunpia. Hanya saja, banyak orang masih bingung, mana lunpia yang asli. Sebab, nyaris semua pedagang mengkalim ’asli’ lewat papan nama yang mereka pasang.

AJIE MAHENDRA

REVOLUSI lunpia bisa dibilang fantastis. Dulu kudapan berbahan dasar tunas bambu alias rebung ini dijual keliling. Sekarang, sudah ada gerai modern, lengkap dengan fasilitas pendukung. Membuat pembeli betah menunggu pesanan mereka yang sedang digoreng.

Budi Djatmiko Sugiarto atau Tan Yok Tjay, generasi kedua Lunpia Mataram sekaligus generasi keempat Lunpia Semarang menceritakan, lunpia sudah ada sejak 1870 silam. Saat itu, pasangan Mbok Wasi dan Tjoa Thay Joe yang menjualnya.

Sebelum menikah, kedua dedengkot lunpia itu merupakan rival bisnis. Masing-masing punya konsep lunpia sendiri. Lunpia Mbok Wasi berisi potongan kentang dan udang. Sementara lunpia versi Tjoa Thay Joe berisi rebung dan telur.

”Saya tidak tahu bagaimana ceritanya mereka bisa menikah. Yang jelas, setelah menikah, lunpianya ikut digabungkan. Isinya jadi rebung yang dipadu dengan udang dan telur,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Generasi kedua Lunpia Semarang diserahkan ke putri mereka, Tjoa Po Nio, pada 1930.

Tan Yok Tjay bercerita, industri lunpia di generasi kedua ini masih sebatas rumahan. Tjoa Po Nio kemudian menikah dengan Siem Gwan Sing yang juga pengusaha jajanan. Di awal pernikahan, usaha lunpia Tjoa Po Nio agak mengendur karena harus membantu suaminya berdagang jajanan. Tapi bisnis itu tidak berkembang pesat. ”Akhirnya Tjoa Po Nio menyarankan suaminya untuk jualan lunpia. Hasilnya, bisnisnya langsung melesat. Hingga nama Lunpia Semarang bisa terkenal,” paparnya.

MODERN: Meliani Sugiarto alias Cik Meme dan gerai Lunpia Delight di Jalan Gajahmada. (Nurchamim@radarsemarang.com)
MODERN: Meliani Sugiarto alias Cik Meme dan gerai Lunpia Delight di Jalan Gajahmada. (Nurchamim@radarsemarang.com)

Pasangan generasi kedua Lunpia Semarang ini mewariskan dinasti lunpia ke tiga anak mereka mulai 1960. Generasi ini memutuskan tidak mengusung nama Lunpia Semarang, tapi sesuai dengan nama tempat mereka berjualan.

Mereka adalah Siem Swie Hie (Lunpia Pemuda), Siem Swie Kiem (Lunpia Gang Lombok), dan Siem Hwa Nio (Lunpia Mataram). Dengan berganti brand, praktis mereka menjadi pesaing bisnis. Meski bersatus kompetitor, mereka masih tetap menjaga hubungan persaudaraan.

Sekarang Lunpia Mataram dipegang ketiga anak Siem Hwa Nio yang menikah dengan Tan Hok Tjwan. ”Termasuk saya,” beber Tan Yok Tjay.

Dipaparkan, Lunpia Semarang generasi pertama dan kedua berjualan keliling. Belum pakai gerobak. Hanya dipikul, kemudian berjalan dari kampung ke kampung lain sambil teriak-teriak ’lunpia!’. Jika ada yang beli, baru menggulung lunpia, kemudian digoreng. ”Dari dulu memang disajikan hangat. Kalau ada yang beli cuman satu biji, tetap dilayani,” kenangnya.

Ketika Tan Yok Tjay menerjuni bisnis lunpia, sudah pakai gerobak. Tapi masih keliling. Dia ingat betul bagaimana beratnya mendorong gerobak lunpia. Maklum, saat itu dia masih duduk di bangku sekolah dasar. ”Kelas 2 SD saya sudah bantu jualan. Malah saya lebih suka jualan daripada sekolah,” kenangnya.

Awalnya, gerobak lunpia tersebut ngetem di dekat Pasar Johar setelah berkeliling kampung. Di sana, lunpianya laku keras. Tapi tidak selamanya lunpia yang dibawa laris manis. Kadang malah sisa banyak. Ketika sisa, dalam perjalanan pulang, gerobak itu mampir di Jalan Mataram.

Ada salah satu pemilik toko di Jalan Mataram yang mempersilakan Tan Yok Tjay berjualan persis di depan tokonya. ”Orang itu baik banget. Saya disuruh berhenti di depan tokonya,” katanya.

Di sana, pembelinya lebih banyak ketika mangkal di Pasar Johar. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjualan di sana dan meninggalkan Pasar Johar. Kini, penerus Tan Yok Tjay adalah Melani Sugiarto alias Tan Siaw Mei. Dia masih mengusung nama Lunpia Mataram yang kini berjualan di Jalan Mataram, dan Meliani Sugiarto alias Tan Siaw Lian atau Cik Meme yang membuka gerai Lunpia Delight di Jalan Gajahmada.

Tan Yok Tjay menjelaskan, dinasti lunpia asli Semarang memang sengaja dibuat beda nama. Cita rasanya pun jika diamati dalam-dalam, juga beda. Mengenai penjual lunpia di luar dinasti Lunpia Semarang yang mengaku-ngaku asli, Tan Yok Tjay tidak mempersoalkan.

”Biarkan saja ada yang memakai nama Lunpia Mataram. Toh mereka juga jualan di Jalan Mataram. Sama-sama cari rezeki kok,” tegasnya santai.

Cik Meme mengaku, sengaja melakukan inovasi lunpia. Dari yang gerobak, menjadi gerai modern sarat fasilitas. Inovasi ini merupakan penyempurnaan dari generasi sebelumnya. Dari cara penyajian, kemasan, tempat jualan, cita rasa, hingga melahirkan rasa baru.

”Saya tahu persis apa yang menjadi kekurangan generasi sebelum saya. Wong saya juga sudah terjun di dunia lunpia sejak kecil,” paparnya.

Terutama, lanjutnya, soal tempat jualan. Kalau gerobak, tidak mungkin menyediakan kamar kecil. Padahal, pembelinya rata-rata dari luar kota untuk oleh-oleh. Mereka butuh toilet untuk buang air karena perjalanan jauh.

”Secara kebersihan juga. Kalau di tempat tertutup, lebih higienis daripada tempat terbuka di pinggir jalan,” ucapnya.

Lunpia Delight juga sudah lolos higienis dari Dinas Kesehatan dengan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Lunpia ini juga satu-satunya yang mengantongi sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebagai pelayanan tambahan, Lunpia Delight menyediakan delivery service.

”Lunpia kan sudah menjadi warisan budaya dunia tak benda. Jadi harus dilestarikan. Salah satunya lewat inovasi. Mengikuti perkembangan zaman, tanpa meninggalkan pakem aslinya,” cetus Cik Meme. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news