SELALU RAMAI : Warteg Bu Tia tak kekurangan modal, meski menggratiskan makanan pada jam tertentu tiap hari dan selama hari Jumat. (ISTIMEWA)
SELALU RAMAI : Warteg Bu Tia tak kekurangan modal, meski menggratiskan makanan pada jam tertentu tiap hari dan selama hari Jumat. (ISTIMEWA)

Saban Jumat, Wateg Ibu Tia di bilangan Klipang Raya, Sendangmulyo mematok harga santapan berupa doa. Konsumen tidak perlu merogoh kocek sepeserpun, asal makan di tempat. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

WARUNG makan dengan cat oranye ini menyediakan banyak varian lauk pauk. Mulai dari rames, sop, serta lauk khas warteg pada umumnya. Dari berbagai lauk tersebut, ada beberapa yang disuguhkan gratis. Yaitu empat gorengan dan es teh setiap hari dari pukul 10.00-16.00, dan penyet mangut pukul 12.00-12.30.

Sementara khusus Jumat, semua menu gratis. Termasuk yang tergolong mahal seperti ikan dan daging sekalipun. Tapi gratisan itu hanya pukul 06.00-09.00. Lepas dari jam itu, konsumen harus membayar sesuai tarif yang berlaku.

Penjaga warung, Karyoto menjelaskan bahwa sesuai amanat pemilik warteg, tidak boleh membedakan pembeli yang mampu dan yang tidak. “Semua tetap diberi gratis tanpa pandang bulu,” ucapnya.

Meski gratis, pemilik warteg berukuran 5×6 meter ini tidak menurunkan kualitas citarasa masakan. Menu yang diberikan gratis, tidak ada bedanya jika dijual pada jam non gratis.

Jika bisa santap gratis, konsumen diharapkan mendoakan secara ikhlas untuk kelancaran usaha warteg ini. “Doanya tidak perlu berucap apalagi keras, cukup dibatin saja, kami sudah berterimakasih. Jadi disini makan gratis, bayarnya dengan doa,” katanya sembari tertawa kecil.

Meski tak tahu persis, menurutnya, program sedekah ini sudah berjalan satu tahunan. Karyoto juga menerangkan sudah ada dua cabang lainnya yakni di Jalan Pucang Gading dan Jalan Tlogosari, semuanya menerapkan sistem yang sama, hanya berbeda jadwal jamnya saja dalam memberikan makan gratis.

Menurutnya, memberi menu gratis ini tidak mengurangi laba penjualan. Saban hari di luar jam gratis, warung tetap dipadati konsumen. Dapur pun selalu memasak menu-menu kembali jika habis. Biasanya, menu yang masih hangat, dikeluarkan kembali menjelang makan siang. “Alhamdulillah ramai terus setiap hari, meski kadang baru buka pukul 05.00 pagi, ada saja yang datang sarapan,” tambahnya.

Tak hanya bagi pelanggan yang makan di tempat saja, pemberian cuma-cuma juga berlaku pada pelanggan yang membeli untuk dibawa pulang. Hal ini karena banyak kalangan rumahan yang membeli menu untuk dinikmati keluarga di rumah. “Pembeli yang membungkus makanan juga banyak, agar adil dan merata kita beri gratis empat gorengan bagi yang mbungkus lima makanan, tapi hanya berlaku pada pukul 10.00-16.00 saja,” katanya.

Tidak berkurangnya rezeki itu, dibuktikan dengan agenda piknik bagi semua karyawan warteg di tiga cabang. Minimal satu bulan sekali, semua karyawan diajak berwisata bersama keluar kota. Setiap karyawan juga kerap diisikan pulsa telepon dan diajak makan di restoran.

“Pikniknya memang tidak jauh. Paling Umbul Sidomukti, Pantai Bandengan, Ngrembel, dan tempat lain yang tidak perlu menginap. Tapi kami senang. Wong difasilitasi,” terangnya. (*/ida)