31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Siswa Kepo, Mengapa Tidak?

Oleh : Nur Rakhmat,S.Pd.

PAK sedang membaca apa?” tanya Sinta ketika saya yang sedang membaca buku pada waktu jeda istirahat di perpustakaan.

Sebuah pertanyaan sederhana dari seorang siswa kepada guru yang mungkin sudah jarang kita temui saat ini. Terlebih pertanyaan tersebut muncul bukan saat proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Tentu, peristiwa tersebut menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Apalagi di zaman yang serba dikelilingi oleh kemajuan teknologi yang memiliki ekses semakin menipis dan memudarnya rasa ingin tahu sisswa. Kemudian bagaimana cara untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa atau menumbuhkan kekepoan siswa di era yang semakin digital dan modern ini?

Menjadi Teladan Siswa

Ya! Keteladanan guru adalah langkah pertama dan utama yang harus dilakukan agar siswa memiliki rasa ingin tahu atau kepo. Tentu keteladanan guru yang terkait dengan perilaku positif dan pembiasaan positif yang mendukung siswa agar semakin tahu materi pelajaran atau ilmu pengetahuan dalam proses belajar yang dijalaninya.

Apalagi tugas guru dalam proses belajar mengajar tidak hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran. Tetapi dalam lingkup yang lebih luas, guru juga mempunyai kewajiban untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan baik secara langsung maupun tidak langsung. (Slameto, 2010:97).

Selanjutnya apa saja keteladan guru yang dapat dilakukan untuk mendorong siswa agar lebih kepo akan ilmu pengetahuan, guna mencapai tujuan pembelajaran dalam proses pendidikan yang dilaluinya. Hemat kami, ada tiga bentuk keteladanan guru yang dapat dijadikan patokan.

Yang pertama, guru harus banyak membaca. Dengan banyak membaca, otomatis tingkat pengetahuan guru semakin meningkat. Dan pengetahuan yang dimiliki guru juga semakin up date. Tentu hal ini menjadikan siswa lebih tertarik mengikuti pembelajaran kepada guru yang lebih banyak membaca daripada seorang guru yang hanya banyak bicara tetapi sedikit membaca.

Selain karena pengetahuan yang dimiliki guru semakin baru dan semakin kekinian, guru yang lebih banyak membaca juga akan lebih mudah dan menarik dalam menjawab pertanyaan siswa. Jawaban yang diberikan ke siswa juga semakin kaya dan variatif serta tidak monoton saja. Sehingga dalam proses pembelajaran, siswa tidak merasa bosan dan semakin senang karena pengetahuan yang dimiliki guru juga semakin banyak.

Selain itu, guru yang semakin banyak membaca juga lebih besar pengaruhnya dalam mendorong karakter kognitif atau pengetahuan siswa. Mengapa demikian? Ini dikarenakan, guru yang semakin luas pengetahuannya, dalam proses pembelajaran juga akan lebih fleksibel dan bijak serta tidak kaku dalam merespon setiap tindakan siswa. Tentu hal ini akan merangsang daya kreativitas siswa dalam menyikapi setiap permasalahan yang diberikan guru. Dan tentunya hal ini akan lebih mempermudah guru untuk mencapai tujuan pembelajaran karena dalam segi kognitif atau pengetahuannya siswa sudah meningkat lebih baik.

Kemudian bentuk keteladan kedua yang bisa dilakukan guru adalah mempunyai semangat tinggi dalam proses belajar dan mengajar. Mengapa harus memiliki semangat tinggi? Karena baik langsung maupun tidak langsung, saat seorang guru memiliki semangat dalam mengajar dan mendidik siswanya, ada pengaruh yang sangat besar juga bagi siswa.

Dan sudah pasti, pengaruh yang utama tersebut adalah siswa juga semangat dalam belajar! Dan jika siswa sudah semangat dalam belajar, tentu dalam proses belajar mengajar dengan guru baik di kelas maupun di luar kelas, siswa juga akan semakin mudah dan lancar. Selain itu, proses ataupun hasil pembelajaran yang dirasakan oleh guru maupun siswa akan lebih bermakna pula.

Tentunya, proses ataupun hasil pembelajaran yang bermakna ini tidak lepas dari semangat tinggi guru dan siswa yang bisa berjalan seiya dan sekata. Dalam istilah kerennya, antara semangat guru dan siswa sudah ada chemistry yang baik untuk mencapai tujuan bersama dalam proses belajar mengajar

Nah, di sinilah peran guru sebagai motivator ulung bagi siswa dibutuhkan. Apalagi dalam proses belajar antara siswa yang satu dengan yang lain mempunyai motif atau tujuan yang juga berbeda satu sama lain. Tentunya guru juga dituntut untuk lebih mendalami apa motif dan tujuan dari masing-masing siswa tersebut.

Seorang guru juga dituntut lebih mendalami karakteristik masing-masing siswa untuk lebih menumbuhkan semangat siswa yang berbeda pula. Tentunya, guru dituntut lebih jeli dalam melihat potensi yang ada pada masing-masing siswa. Di sinilah guru berperan menjadi motivator ulung bagi diri dan siswanya.

Lalu langkah apa saja yang bisa dilakukan guru untuk menjaga semangat siswa? Di antaranya guru bisa menggunakan media pembelajaran yang tepat saat proses belajar mengajar berlangsung. Dan guna mencapai hasil optimal, media pembelajaran yang digunakan sebaiknya bukan hanya satu media. Tetapi seorang guru harus mampu menggunakan banyak media agar pembelajaran semakin variatif dan menarik serta tentunya semangat siswa dan guru juga semakin meningkat.

Selain itu, guru juga bisa memberikan stimulasi yang menarik guna menantang daya pikir siswa agar lebih meningkat. Guru juga bisa memberikan kebebasan yang bertanggung jawab serta dukungan dan bantuan kepada siswa saat menghadapi kesulitan dengan harapan, semangat siswa semakin baik dan kreativitas serta daya nalar siswa juga semakin baik pula.

Kemudian agar semangat siswa selalu ideal, guru juga harus pandai mengatur strategi dalam pembelajaran. Mengapa demikian? Karena jika guru bisa mengatur ritme pembelajaran dan dalam pembelajaran guru bisa memvariasikan teknik dan metode pembelajaran yang baik, sikap kritis siswapun akan tumbuh. Terlebih saat ini kita menggunakan kurikulum nasional dimana pendekatan pembelajaran yang digunakan harus saintifik dengan sikap 5 M sangat dikedepankan. Apa itu 5 M, mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan.

Lalu bentuk keteladan ketiga yang bisa dilakukan guru agar dapat menumbuhkan sikap rasa ingin tahu siswa atau kekepoan siswa adalah guru juga harus kepo. Ya, guru harus kepo jika siswanya ingin kepo juga. Dan kepo atau rasa ingin tahu bagi guru hukumnya wajib.

Mengapa seorang guru wajib memiliki rasa ingin tahu tinggi atau kepo banget? Karena guru adalah pendidik yang profesional. Maka guru harus selalu belajar, belajar, dan belajar. Selain agar pengetahuan yang dimiliki semakin meningkat, hal yang belum dikuasai atau belum dimengerti oleh guru akan bisa terpenuhi.

Sehingga tidak ada lagi guru yang ketinggalan zaman, tidak ada lagi guru yang kurang pengetahuan dan tidak ada lagi guru yang gaptek (Gagap teknologi) di era yang semakin meningkat pesat perkembangan ipteknya ini.

Selain itu, dengan guru selalu belajar dan selalu mempunyai rasa ingin tahu dalam ranah yang dimilikinya atau di luar ranah yang dimilikinya, tingkat standar pendidik yang dimiliki guru juga semakin baik. Sehingga salah satu standar pendidikan dari delapan standar pendidikan yang ada sudah terpenuhi.

Selanjutnya, dengan guru yang mempunyai rasa ingin tahu, siswa juga termotivasi untuk lebih tahu pula. Siswa terinspirasi untuk mengikuti gurunya yang mempunyai rasa ingin tahu. Sehingga dampaknya siswa juga turut serta terdorong untuk belajar, belajar, dan belajar. Sehingga peran guru sebagai inspirator bagi siswanya dari sudut pandang ini terpenuhi.

Namun, sebagai guru kita juga harus mampu melindungi siswa dari ancaman yang sifatnya mengancam rasa ingin tahu siswa akan hal positif. Karena bukan tidak mungkin, muncul kepo yang sifatnya negatif pada siswa. Sehingga di sinilah komunikasi yang efektif dan terbuka antara guru dan siswa diperlukan. Dengan harapan antara guru dan siswa mampu bekerja sama dan mampu belajar bersama guna kemajuan dalam menuju proses maupun hasil belajar dan mengajar yang lebih bermakna.

Akhirnya, sebagai pendidik profesional, mari sebagai guru wajib mempunyai rasa ingin tahu yang positif agar siswa juga terinspirasi untuk selalu meningkatkan karakter positifnya dan kita sebagai guru juga mampu meningkatkan kompetensi yang kita miliki sebagai bekal menjaga tingkat keprofesionalitasan kita serta sebagai sarana dalam meningkatkan kecerdasan bangsa guna mencapai Indonesia yang lebih baik dan lebih bermartabat. Amin…semoga. (*/ida)

Latest news

Related news