31 C
Semarang
Kamis, 13 Mei 2021

Sengaja Tularkan Resep, Biar Makin Dikenal

Nama roti Ganjel Rel, terdengar asing dan kini langka di pasaran. Tapi siapa sangak, cita rasa kuliner asli khas Semarangan ini masih menjadi klangenan masyarakat. Bagaimana nasibnya kini?

ROTI Ganjel Rel telah ada sejak penjajahan kolonial Belanda. Sayang, makanan khas Semarang ini kurang begitu populer di masyarakat. Terlebih para generasi baru sekarang ini, sudah semakin tak mengenalnya.

“Makanan ini baru tenar ya akhir-akhir ini setelah dibagi-bagikan secara gratis pada masa wali kotanya Pak Soemarmo HS. Ya, sekitar tujuh sampai delapan tahun yang lalu,” ungkap Faishal Aushafi, salah satu generasi pembuat Roti Ganjel Rel kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (21/1) kemarin.

Roti Ganjel Rel ini lebih dominan berwarna coklat, berbentuk kotak seperti kayu pengganjal rel kereta api. Ketika dimakan, sedikit alot dan keras. Kalau dilihat dari teksturnya, memang agak kasar. Namun, kekenyalan rasa dan sensasi ketika dimakan, membawa cita rasa tersendiri.

“Awalnya dulu itu kan gaplek. Tapi seiring berjalannya waktu, kami memodifikasi teksturnya lebih empuk, supaya anak muda suka. Kalau tidak dimodifikasi, pada gak suka dan khawatirnya makanan khas ini hilang,” ujarnya.

Cara membuatnya, kata Faishal, resepnya mudah. Yakni dengan melarutkan gula sama telur dibarengkan. Setelah menyatu, baru dimasukan air, kemudian memasukan tepung dan bumbu. Setelah adonan tersebut mencampur, baru diaduk merata hingga tidak ada yang menggumpal. Baru minyak dimasukin. Itu proses ini sekitar 20 menitan. Lantas dimasukkan oven, kurang lebih 45 menit di suhu 155 atau 160 derajat celsius. “Untuk membuat roti ini, saya memakai gula palm. Karena sekarang, cari gula Jawa sangat susah. Kalaupun ada, banyak gula yang dicampur pati,” terangnya.

Ukuran Roti Ganjel Rel sangat variatif. Namun, rata-rata pedagang membuat dengan ukuran 30 x 10 sentimeter. Namun banyak pelanggan yang sengaja membeli bahan mentah di tempatnya, yakni berupa adonan yang sudah berupa paketan seberat 600 gram. “Saya membuat satu paket, tinggal tambah telur minyak sama air. Satu paket ini bisa jadi dua adonan, ya sekitar 60-an potongan kecil ukuran,” jelasnya.

Di Kota Semarang sendiri, pedagang yang membeli bahan mentah di tempatnya hanya bisa dihitung dengan jari. Apalagi para pedagang sudah banyak yang bisa membuat Roti Ganjel Rel, setelah dia ajari. Menurutnya, resep ini sengaja ditularkan dengan banyak orang, dengan harapan agar makananan Roti Ganjel Rel tidak hilang ditelan zaman.

“Kalau bakul sendiri yang datang tahun lalu, ada 6 yang membeli bahan di kami. Jadi rata-rata tiap pelanggan membeli bahan bisa sampai 42 kg. Mereka kebanyakan yang ajari juga,” jelasnya.

Faishal mengakui, menekuni pembuatan Roti Ganjel Rel juga belum lama. Baru sejak delapan tahun silam. Menu dari resep membuat makanan ini didapat turun temurun dari orangtuanya bernama Marzuki Asrori kelahiran tahun 1961 yang sekarang telah meninggal. Resep dari Marzuki Asrori ini, merupakan warisan turun temurun dari kerabatnya.

“Jadi Awalnya itu dari bibi (bulek) saya yang sekitar tahun 50-an sudah membuat Roti Ganjel Rel. Terus dilanjutkan sama orang tua saya. Jadi resep ini diberikan secara glondongan sama saya, tepat sebelum satu tahun abah (ayah, red) saya meninggal,” jelasnya.

Diakuinya, orang tuanya sejak awal atau tahun 1995, sudah bergelut dengan penjualan bahan roti. “Saat resep Roti Ganjel Rel masih dipegang bibi, belum diturunkan kepada orang tua saya. Waktu itu, gaungnya memang belum seramai sekarang ini,” imbuhnya.

Kini banyak orang di Kota Sekarang, sudah bisa membuat Roti Ganjel Rel sendiri. Meski begitu, di antara mereka nyaris tidak ada yang secara langsung berhubungan dengan pelaku sejarah Roti Ganjel Rel.

“Selain bibi saya, ada juga pembuat Roti Ganjel Rel yang legendaris. Kalau tidak salah, 2 sampai 3 tahun lalu, meninggal dunia. Cuma tidak diturunkan kepada anak cucunya. Orang Pecinan kalau tidak salah,” jelasnya.

Diakuinya, usaha pembuatan adonan genjel rel miliknya banyak diorder dari berbagai daerah. Di antaranya pesanan datang dari daerah Jawa Timur, Tangerang, Kuningan, Jakarta dan Temanggung. Bahkan, kenalannya warga Tlogosari ingin membuka usaha kuliner Ganjel Rel di Belanda. “Pas pulang ke Semarang datang ke rumah. Waktu itu, abah saya masih ada, ya ngobrol-ngobrol ingin diajari membuat Roti Ganjel Rel ini. Dia punya kafe di Belanda,” terangnya.

Diakuinya, Faishal lebih condong membuka usaha dalam bentuk adonan, meskipun bisa membuat sendiri Roti Ganjel Rel. Padahal, dalam hitungan jam, jari-jarinya mampu membuat ratusan biji Roti Ganjel Rel mulai dari adonan hingga proses pemasakan.

“Pernah dapat pesanan 170 potong, ya paling membuat 3 jam dibantu dua orang karyawan. Pesanan dari Jawa Timur kala itu. Memang untuk bahan-bahan yang masih kesulitan itu gula. Barang lainnya mudah didapatkan di Kota Semarang sendiri,” jelasnya.

Roti Ganjel Rel, pada dasarnya lebih banyak ditemukan di Kota Semarang lantaran makanan ini merupakan khas Kota Semarang. Meski begitu, banyak juga makanan yang menyerupai Roti Ganjel Rel yang bisa dijumpai di kota-kota lain di luar Kota Semarang.

“Kalau yang serupa itu ada roti gambang, roti Perancis, ada juga yang dari Turki. Memang kalau yang mencatat di buku tidak ada. Kemarin saya saat ngobrol denga dosen Undip, di Turki ada roti yang mirip dengan makanan ini, namanya roti rempah,” ujarnya.

Faishal mengakui, Roti Ganjel Rel kurang dikenal masyarakat. Karena itu, pihaknya bertekad memasarkan akan lebih dikenal lebih luas lagi. Dirinya ingin makanan khas Kota Semarang terus dilestarikan. Bahkan dalam waktu dekat ini, akan menyelenggarakan pelatihan yang bekerjasama dengan Kelurahan Jati Barang untuk membuat Roti Ganjel Rel.

“Ini menjadi tanggung jawab orang Semarang untuk melestarikannya. Kebetulan 12 Pebruari 2017, saya akan mengadakan pelatihan pembuatan Roti Ganjel Rel yang pesertanya ibu-ibu juga,” katanya.

Selain itu, mahasiswa jurusan Tasawuf Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini menargetkan pemasaran Roti Ganjel Rel di tempat-tempat kuliner yang ada di Kota Semarang. Bahkan, pihaknya telah mendaftarkan makanan ini ke Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) November 2016 lalu. “Ke depan saya mau masuk ke Pandanaran. Saat ini, masih membuat packaging-nya,” pungkasnya. (mha/ida)

Latest news

Related news