33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Jual Pakaian Bekas untuk Operasional Sekolah

Kisah Sumarni, Bersusah Payah Kembangkan PAUD di Perbatasan

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Semangat guru yang satu ini patut diapresiasi. Dia bersusah payah memajukan pendidikan usia dini di wilayahnya. Mencari solusi dengan berbagai cara, hingga membangkitkan semangat bersekolah warga.

MUKHTAR LUTFI, Mungkid

UANG pecahan Rp 20 ribuan, Rp 10 ribuan, dan beberapa uang koin dibungkusnya ke dalam sebuah plastik bening. Uang itu berjumlah Rp 200 ribu lebih sedikit. “Ini hasil penjualan baju, dua hari ini,” kata Sumarni, 33, warga Dusun Kalipelus, Desa Wuwuharjo, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Lokasinya perbatasan dengan Purworejo.

Bukan baju baru yang dijualnya. Tapi, baju bekas yang berhasil dikumpulkannya dari kawan, sahabat, dan relasinya. Ini bukan bisnis. Baju bekas itu lantas dijual seharga Rp 1000-Rp 5000.

Siapa pembeli baju bekasnya? “Baju bekas ini kita jual di warga setempat. Ternyata banyak yang berminat. Karena memang masyarakat di sini, bisa dikategorikan menengah ke bawah. Dan setiap datang baju bekas, selalu habis terjual,” ucapnya.

Hasil penjualan baju yang jumlahnya tidak menentu, ia gunakan untuk memenuhi operasional sekolah. Toh, jumlah uang yang terkumpul, tetap saja bisa untuk membeli kebutuhan lain. Seperti alat tulis kantor (ATK) dan sarana bermain anak.

Marni mengaku, jika ada yang mau donasi bantuan berupa baju bekas, ia siap menerima. “Kalau ada, kita siap mengambilnya,” ucap perempuan berhijab ini.

Ya, ibu satu anak ini sudah sejak 2013 mengabdikan diri di PAUD Flamboyan di dekat rumahnya. Ada dua guru lain seperjuangan. Namanya: Rikanah dan Rosidah. Sejak bergabung di PAUD itu, dia tak digaji. Tak dapat uang operasional. “Dari SPP bulanan yang hanya Rp 10 ribu per anak, tidak cukup untuk membiayai operasional sekolah,” katanya. Saat ini, kata dia, siswanya hanya 17 anak. Hanya 10 persen dari jumlah anak usia dini yang ada di dusunnya. “Kesadaran untuk bersekolah masih rendah,” kata aktivis muslimat ini.

Proses menyadarkan masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke PAUD, tidaklah mudah. Apalagi, kata Marni, mayoritas masyarakat setempat berada di bawah garis kemiskinan. “Sejak dirintis, sekolah ini masih numpang di rumah warga. Baru Januari kemarin, pindahan ke gedung baru, bantuan dari desa di atas tanah wakaf,” kata Marni.

Di tengah keterbatasan ini, kata dia, pendidikan untuk anak usia dini masih belum bisa diterapkan maksimal. Fasilitas bermain anak sangat minim. “Padahal, anak-anak ini kan belajar dengan cara bermain.”

Sehingga, lanjutnya, untuk memenuhi semua kebutuhan sekolah, Marni harus putar otak. Berbagai upaya telah dilakukan. Mulai meminta bantuan pemerintah hingga donatur. “Bantuan yang kita harapkan, sebenarnya lebih pada kebijakan. Karena itu lebih penting,” katanya.

Meski begitu, kata Marni, bantuan tetap saja ada, meski tetap sangat terbatas. “Maka, saya selalu cari solusi.” Kendati demikian, Marni mengaku tidak akan mengalah dengan kondisi yang ada. Sebab dia selalu punya mimpi untuk memajukan pendidikan anak di lingkungannya. (*/isk)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Jalin Sinergi dengan Semua Kalangan

DEMAK - Dadim 0716 Demak yang baru, Letkol Inf Abi Kusnianto memiliki banyak pengalaman selama bertugas diberbagai daerah. Pria kelahiran Jambi berdarah Kebumen Jawa...

KBI Dorong Petani Gunakan Resi Gudang

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA - Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Jakarta mendorong masyarakat Indonesia memanfaatkan Sistem Resi Gudang (SRG) lebih masif lagi seperti di India yang sangat...

Cegah Sabotase, Cek Rel Kereta Api

RADARSEMARANG.COM, KEBUMEN – Kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang banyak digunakan masyarakat pada masa liburan Natal dan Tahun Baru ini. Untuk memastikan...

Sendang Kering, Warga Sulit Air

SALATIGA – Warga Dusun Ploso, Kelurahan Ujung – Ujung Kecamatan Pabelan kesulitan mendapatkan air bersih. Sendang atau mata air yang selama ini menjadi cadangan...

Pemesanan Paket Liburan Menurun Hingga 25 Persen

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemesanan paket liburan melalui travel agent menurun hingga 25 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan salah satunya disebabkan pola perjalanan dan sistem...

Akan Buka Lagi setiap Minggu Pagi

RADARSEMARANG.COM - KOMUNITAS Generasi Pesona Indonesia (GenPI) membantah jika Pasar Semarangan Tinjomoyo disebut mangkrak. Pasar ini tidak buka sementara lantaran sedang dilakukan evaluasi dan...