31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

KONI Jateng Kawal Atlet yang Terjerat Doping

TERANCAM SIA-SIA: Mualipi dan Mheni, dua binaragawan Jateng saat tampil di PON 2016 dan menerbut medali emas serta perak di kelas 60 kg dan 75 kg. Sayang keduanya tak lolos tes doping. (Ismu.p@radarsemarang.com)
TERANCAM SIA-SIA: Mualipi dan Mheni, dua binaragawan Jateng saat tampil di PON 2016 dan menerbut medali emas serta perak di kelas 60 kg dan 75 kg. Sayang keduanya tak lolos tes doping. (Ismu.p@radarsemarang.com)

SEMARANG – KONI Jateng akan melakukan pendampingan bagi tiga atletnya yang dinyatakan positif doping oleh PB PON pada pelaksanaan PON 2016 lalu di Bandung. Ketiga atlet tersebut bersama sembilan  atlet PON provinsi lain,  dalam waktu dekat ini dipanggil Dewan Disiplin Anti Doping bentukan Kemenpora dan Lembaga Anti Doping Indonesia.

Ketua Umum KONI Hartono mengakui, pihaknya sudah menerima surat pemberitahuan hasil tes doping dari PB PON yang diteken Ketua Ahmad Heryawan. Dalam surat no A26/3/1094/Kes/XII/2016 tertanggal 11 Desember 2016 itu, disebutkan bahwa PB PON telah mengirimkan sampel urine atlet peraih medali emas, perak dan perunggu di PON XIX ke National Dope Testing Laboratory (NDTL)  yang berakreditasi WADA (World Anti-Doping Agency) di New Delhi, India.

Dari sejumlah 476 sampel yang dikirim dan dianalisis NDTL, terdapat 12 sampel yang dinyatakan positif dan 464 negatif. Adapun tiga atlet yang disebutkan dalam surat tersebut, ada tiga atlet yang merupakan andalan Jateng, yaitu Jendri Turangan (peraih medali emas pacuan kuda kelas B), Mualipi (binaragawan peraih emas kelas 60 kg) dan Mheni (binaragawan peraih perak kelas 75 kg).”Kami akan mengirim pengurus KONI yang membidangi kesehatan untuk melakukan pendampingan,” katanya.

Hartono menambahkan, pihaknya sudah bertemu dengan salah satu atlet yang terkena doping. Dari hasil pertemuan itu, diketahui bahwa si atlet tidak merasa menggunakan obat-obat terlarang atau pun yang masuk dalam kategori doping selama berlaga di PON. ”Saya tanya, apakah mengonsumsi suplemen, dia bilang tak pernah. Hanya saja selalu minum kopi tiap hari, bahkan bisa sampai lima gelas. Saya berpikir, apa mungkin kopi bisa masuk katogori doping. Di sinilah susahnya tak ada buku juknis dari PB PON 2016 soal doping,” tambahnya.

Terkait dengan pemanggilan Dewan Disiplin Anti Doping? Hartono menyebut berdasarkan informasi yang diterimanya,  lembaga tersebut akan menanyakan kepada atlet, apakah akan membuka sampel B.

Jika pada pemeriksaan  sampel A yang dikirim ke NDTL , biaya ditanggung oleh PB PON, maka pemeriksaan sampel B ditanggung si atlet dengan biaya 200 dolar AS. Sebagaimana disebutkan Ketua dewan disiplin anti doping Cahyo Adi yang dilansir media, jika atlet tak keberatan dengan hasil sampel A maka otomatis dinyatakan positif doping. Sebaliknya, jika keberatan maka bisa meminta dibuka sampel B. ”Kalau hasilnya beda antara sampel A dan B, maka atlet dinyatakan tak bersalah dan pemeriksaan dihentikan. Namun jika hasilnya sama, maka proses berlanjut ke dewan disiplin,” katanya. (bas/smu)

Latest news

Related news