31 C
Semarang
Jumat, 7 Mei 2021

Wilayah Kedu Waspadai Anthrax

PURWOREJO -Temuan adanya warga di Gunungkidul yang terjangkit anthrax setelah mengomsumsi daging sapi yang diduga menularkan penyakit tersebut, membuat kekhawatiran virus itu akan menyebar ke wilayah sekitar. Utamanya, di wilayah eks karesidenan Kedu.

Pemkab Purworejo, misalnya, langsung melakukan langkah antisipasi. Sejumlah kambing yang dijual pedagang di Pasar Hewan Botorejo Purworejo, diambil sampel darahnya. Pengambilan sampel darah dilakukan oleh petugas dari Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DP2KP) setempat.

Dinas lantas mengirimkan sampel darah sepuluh kambing untuk diteliti Balai Besar Veteriner (BB Vet) Wates Yogyakarta, pada Jumat (20/1) kemarin. DP2KP ingin mengetahui apakah ada kandungan spora anthrax dalam sampel darah tersebut.

Kepala Bidang Peternakan DP2KP Purworejo Ir M Riyanto mengatakan, sampel darah kambing berasal dari Kaligesing. “Kami tidak sulit menemukan kambing-kambing di sana, karena memang banyak pedagang sekitar Menoreh yang berjualan di pasar itu.”

Pengambilan darah dilakukan oleh dokter hewan dinas. Setelah kulit dilukai dan darah keluar, dokter mengoleskan kapur batangan hingga darah meresap ke dalamnya.

Riyanto menyampaikan, penggunaan kapur merupakan prosedur standar pengambilan sampel, ketika terjadi dugaan penularan anthrax. “Jika mengandung bakteri, maka spora anthrax akan berkembang dalam kapur itu. Metode konvensional tidak dapat menemukan adanya bakteri anthrax.”

Kendati demikian, belum ada laporan ternak di Kabupaten Purworejo yang terinfeksi bakteri anthrax. “Tim kami menyisir di desa-desa perbatasan dengan Girimulyo Kulonprogo, tempat ditemukan dugaan serangan anthrax, posisi Purworejo aman.” Dikatakan, pengambilan sampel darah merupakan langkah antisipasi.

Dokter hewan DP2KP Purworejo drh Qosim mengatakan, pencegahan anthrax di kawasan perbukitan dilakukan dengan memantau mobilitas ternak antarkabupaten. Pengawasan dilakukan secara ketat, mengingat anthrax merupakan penyakit yang sulit dideteksi. Jika ada hewan terinfeksi, maka tanah di kawasan itu ikut tercemar spora.

Terpisah, Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik, Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM, dr. R. Ludhang Pradipta Rizki, M.Biotech, Sp.MK menjelaskan, kasus temuan indikasi anthrax di Kulonprogo cukup mengejutkan. Menurut Ludhang, manusia dapat terinfeksi melalui salah satu dari ketiga kemungkinan. Yaitu melalui kulit, melalui inhalasi atau melalui ingesti (makanan).

Kondisi tersebut, bergantung dari jalan masuknya endospora bakteri bacillus anthracis ke dalam tubuh. Anthrax kulit (cutaneous anthrax), misalnya, umumnya banyak dijumpai pada manusia. Yakni, berkisar 95 persen dari kejadian anthrax.

“Hal ini ditandai dengan adanya lesi di kulit tampak melepuh berisi cairan disekitarnya tampak merah dikelilingi peradangan di tangan, lengan dan kepala pasien,” jelas Ludhang kepada wartawan, Jumat (20/1) kemarin.

Ia menjelaskan, WHO dalam buku pedoman anthrax menyebutkan bahwa athrax kulit ini disebabkan oleh spora bakteri kontak dengan luka yang sebelumnya ada di tubuh kita. Anthrax kulit, sambung Ludhang, bisa juga disebabkan dari gigitan serangga (biting fly) yang membawa spora bakteri dari hewan ternak yang terinfeksi anthrax.

Dari Gunungkidul dilaporkan, Pemkab setempat melalui dinas terkait telah membentuk tim khusus (timsus). Langkah ini sebagai antisipasi terhadap kasus anthrax di Girimulyo Kulonprogo. “Sebagai langkah awal, kami langsung berkoordinasi dengan UPT Puskeswan dan dokter hewan untuk mengantisiapasi masuknya anthrax ke sini,” ungkap Kabid Peternakan DPTP Gunungkidul Suseno Budi Suseno Budi.

Dikatakan, upaya pencegahan mendesak dilakukan, mengingat Gunungkidul sebagai gudang ternak, dengan jumlah populasi ternak cukup besar. Ia menjelaskan, anthrax bisa menyebar melalui udara. Bupati Gunungkidul Badingah meminta instansi terkait bersama-sama mencegah virus anthrax agar tidak masuk ke Gunungkidul.

Untuk diketahui, peternak dan pedagang hewan ternak di Gunungkidul resah dengan adanya temuan penyakit anthrax pada ternak di wilayah mereka. Seperti disampaikan oleh Sardi, peternak sapi warga Siyono, Playen. Ia khawatir penyakit tersebut dapat menyebar dan menjangkiti ternak.

“Kami minta masyarakat segera ambil langkah mengantisipasi penyakit tersebut, belum lagi wilayah kami rentan karena memiliki banyak ternak,” ujar Sardi.

Mardi, seorang pedagang ternak di Pasar Hewan Siyono Harjo juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap temuan anthrax di Kulonprogo. Dikatakan, Pasar Hewan Siyono Harjo termasuk salah satu lalu lintas hewan ternak terbesar di DIY. Ia meminta pemerintah bertindak cepat untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Fita Yulia Kisworini, menegaskan, pihaknya menyiagakan Puskesmas untuk mencegah penyakit tersebut. Jika ada indikasi penularan, maka tenaga medis siap melakukan pengobatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto menambahkan, pihaknya menyerahkan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) terkait kewaspadaan pada penyakit anthrax. (jpg/isk)

Latest news

Related news