31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

3 Pelajaran Hidup Terpatri di Hati

SEMARANG – Ribuan warga dari berbagai unsur, mulai Muspida, jajaran PNS, tokoh agama, tokoh masyarakat serta kelompok-kelompok pengajian menghadiri pengajian 40 hari meninggalnya Ibunda Hendrar Prihadi, Kamis (19/1) malam.

Pengajian diawali dengan salat Isya berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan Yasin Tahlil dipimpin oleh Ketua MUI Jateng KH Ahmad Daroji.

Pada acara tersebut, wali kota teringat tiga pelajaran hidup dari almarhumah Sutarni Sunarso yang terkenang hingga sekarang. ”Semasa hidupnya Ibu telah mengajarkan minimal tiga pelajaran hidup kepada kesepuluh anak-anaknya. Tiga hal ini sangat terpatri di hati saya,” ujarnya saat tahlilan 40 hari wafatnya Sutarni Sunarso, di kediaman rumah dinas wali kota.

Ketiga pelajaran hidup tersebut adalah nilai-nilai menghormati atau menghargai, kerja keras, dan menjadi bermanfaat bagi orang lain.

”Saya anak paling bungsu. Meski kakak-kakak saya nakal kepada saya, ibu pesan agar saya tidak boleh melawan, harus tetap menghormati. Jika saya ketahuan melawan, saya akan dimarahi ibu,” urainya.

Kemudian, lanjut Hendi, sapaan akrabnya, bila ingin mendapat rezeki harus bekerja keras. Pernah suatu saat ketika sakit dan kata dokter harus istirahat di rumah. Kemudian ia ditegur oleh ibundanya kalau anakku di rumah saja bagaimana nasib rakyat-rakyat Semarang yang membutuhkan tenaga dan pikiran. ”Kasihan wargamu nang yang butuh tenaga dan pemikiran untuk Kota Semarang. Kalau masih bisa berdiri dengan kuat usahakanlah datang ke kantor,” tiru Hendi Perkataan Almarhumah.

Nilai bermanfaat di sini bukan hanya untuk orang-orang tertentu yang jika dibutuhkan saja. Melainkan semua orang dari berbagai lapisan masyarakat tanpa terlebih dahulu harus meminta bantuan atau pertolongan.

Menutup pengajian, wali kota meminta segenap jamaah pengajian agar dapat memaafkan kesalahan bundanya dan juga memohon keikhlasan untuk mendoakan ibundanya. (zal/ce1)

Latest news

Related news