31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Konsisten Sediakan Barang Dagangan Asli

Kendati muncul beragam toko baru yang lebih modern, namun eksistensi toko alat tulis Nam Bie tak perlu diragukan. Terbilang sebagai toko legendaris di Kota Semarang, Nam Bie mampu bertahan dan dipercaya pelanggan hingga puluhan tahun. Apa rahasianya?

SIGIT ANDRIANTO

TOKO Nam Nie yang bergerak di bidang jual beli alat-alat tulis ini, bertempat di bangunan kuno peninggalan Belanda. Setiap harinya, tidak sedikit pembeli dan supplier yang datang ke toko legendaris di Kota Semarang ini. Meskipun banyak toko alat tulis baru bermunculan, Nam Bie yang berdiri sejak 1983 ini, tetap menjadi pilihan mereka yang sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan toko yang berlokasi di Jalan Pemuda ini.

Tidak mungkin orang datang ke suatu tempat tanpa ada yang spesial. Begitu pula di Nam Bie, ada hal spesial yang membuat pelanggan toko ini setia hingga kini. Ditemui di tokonya, Agus Wahyudi, pemilik Nam Bie mengatakan bahwa eksistensi Nam Bie hingga saat ini tidak lepas dari upayanya untuk selalu menyediakan barang asli.

Ia menceritakan, sebelum krisis moneter, barang hanya dapat dibedakan menjadi dua, asli dan palsu. Kini, banyak barang dengan kualitas KW bermunculan di pasaran. Namun, hanya barang aslilah yang dijual di toko Nam Bie. ”Sekarang banyak bermunculan barang-barang KW. Namun kami selalu menyediakan barang asli. Kami sudah lama bergelut di bidang ini, sehingga kami cukup tahu mana yang asli dan palsu,” pria ramah ini menerangkan.

Hingga sekarang, Agus selalu menjaga kepercayaan pelanggan. Agus selalu membawa Nam Bie menyesuaikan perkembangan dan perubahan zaman. Hal inilah yang tampaknya mampu mengantarkan Nam Bie tetap jaya, meskipun dalam perjalanannya juga terjadi banyak lika-liku.

TETAP EKSIS: Toko alat tulis Nam Bie tetap eksis di antara bangunan-bangunan baru menjulang tinggi di Semarang. (Sigit.andrianto@radarsemarang.com)
TETAP EKSIS: Toko alat tulis Nam Bie tetap eksis di antara bangunan-bangunan baru menjulang tinggi di Semarang. (Sigit.andrianto@radarsemarang.com)

Nam Bie, diceritakan Agus, bukan didirikan keluarganya. Namun keluarganya semula membeli pada zaman Belanda pada 1938. Saat itu masih berupa firma. Hal ini ia ketahui dengan adanya surat jual beli berbahasa Belanda yang ditulis tangan dan masih ia simpan hingga kini.

”Hingga saat ini masih ada akta jual beli bahasa Belanda. Sayangnya surat itu ada di brankas dan kuncinya patah di dalam. Nanti saya akan cari tukang kunci untuk membukanya,” kata Agus yang merupakan generasi kedua ini.

Tidak hanya pelanggan yang setia dengan toko alat tulis ini. Bahkan pekerja di Nam Bie banyak yang bekerja di toko ini mulai 80-an. Dan hingga kini masih bertahan. Mereka cocok bekerja dengan keluarga Agus yang begitu memberikan perhatian kepada mereka.

”Saya tipenya tidak membandingkan antara satu dengan lainnya. Jadi ketika mereka sudah pada batasnya, ya sudah. Saya tidak akan menekan. Nyatanya, mereka sudah hampir puluhan tahun kerja di Nam Bie,” kata Agus sembari tersenyum.

Namun, eksistensi Nam Bie sedikit terkendala dengan tidak adanya lahan parkir. Lokasi toko Nam Bie yang berada di ujung, dekat persimpangan, membuat pelanggan kesulitan memarkirkan kendaraannya.

Untuk membuat lahan parkir dengan menggunakan sebagian bangunan Nam Bie, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, bangunan yang digunakan untuk toko ini kategori bangunan cagar budaya, sehingga tidak dapat sembarangan dilakukan renovasi. ”Untuk merenovasinya juga tidak mudah lho..,” ujar Agus.

Selain itu, Agus juga merasa agak kerepotan untuk melakukan perawatan bangunan yang terhitung tinggi ini. Terlebih perawatan harus sesuai dengan aturan yang ada. Sementara itu, tembok toko yang mulai lembab membuatnya cepat ditumbuhi jamur. (*/ida/ce1)

Latest news

Related news