33 C
Semarang
Sabtu, 4 Juli 2020

Bupati Prihatin Kasus Petani Surokonto

Another

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

KENDAL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal turut prihatin atas tiga petani asal Desa Surokonto Wetan, Kecamtan Pageruyung yang divonis delapan tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Kendal. Yakni atas kasus dugaan penyerobotan tanah milik Perhutani KPH Kendal.

Keprihatinan tersebut disampaikan Bupati Kendal melalui Kepala Kesbangpol Kendal Ferinando Rad Bonay saat ditemui di Kantornya, Kamis (19/1) kemarin. Namun ia menampik tudingan jika Pemkab dianggap hanya berpangku tangan terhadap masalah petani Desa Surokonto Wetan. Justru sejak awal, pemkab sudah memperingatkan warga dan melakukan mediasi antara petani dengan pihak Perhutani.

Menurutnya, Bupati Kendal Mirna Annisa bersama Forkopimda sudah mendampingi warga sejak awal akhir 2015. Pemkab Kendal sudah semaksimal mungkin membantu warga dalam penyelesaian persoalan lahan eks PT Sumur Pitu.

Feri menceritakan, kasus ini bermula ketika PT Sumur Pitu melepaskan tanahnya untuk kepada PT Semen Indonesia. Yakni sebagai lahan pengganti karena PT Semen Indonesia telah menggunakan lahan milik Perhutani yang saat ini telah didirikan pabrik di Kabupaten Rembang.

Padahal, selama ini warga telah menggarap lahan tersebut dengan sistem sewa kepada PT Sumur Pitu. Warga tidak terima dan berusaha menguasai lahan dengan alasan sudah sejak dulu merawatnya. Bahkan warga mengklaim sudah sejak nenek moyang, lahan tersebut digarap warga.

Bupati Mirna, lanjut Feri, saat itu membela petani. Namun sayangnya warga tidak memiliki bukti baik surat kepemilikan atau surat keterangan yang sah, jika tanah tersebut telah digarapnya. Akhirnya Bupati melakukan mediasi agar warga tetap bisa menggarap lahan tersebut.

Bupati juga mengunjungi Desa Surokonto mendengar keluhan warga, sebagian besar ada yang menginginkan saat Perhutani masuk, warga masih bisa garap. Akhirnya ditemukan jalan tengah, yakni Pemkab memohon kepada Perhutani agar warga tetap diberikan kesempatan untuk menggarap lahan. Permohonan tersebut disetujui Perhutani. Tetapi sebagian kecil warga ada yang bersikeras ingin memiliki lahan tersebut.

“Kesepakatannya saat itu, Perhutani mempersilahkan warga menanam di sela-sela pohon hutan. Bahkan Perhutani, siap menerapkan pola tanam, yaitu 6 meter diolah warga, kemudian 3 meter ditanami pohon oleh Perhutani. Dengan demikian warga tetap untung dan tidak dirugikan,” tambahnya.

Menurut Ferry, jika mereka menerima solusi tersebut sejak awal, kasus ini tidak perlu terjadi. “Malah dari PT Semen Indonesia siap memberikan dana CSR ke warga Desa Surokonto Wetan dan melakukan pembinaan serta pelatihan-pelatihan,” jelasnya.

Namun usaha Bupati berakhir sia-sia. Sebagian petani menolak, warga ingin menguasai lahan ditangkap. Yakni tiga terdakwa Nur Aziz, Sutrisno dan Mujiono dinyatakan bersalah oleh majelis hakim karena menyerobot lahan. “Jadi kami tidak diam saja dengan kasus ini,” tambah Feri. (bud/ida)

Latest News

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

239 Tenaga Kebersihan Dapat KIS

BATANG – Guna menjamin kesehatan 239 tenaga kebersihan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batang, Pemkab setempat melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memberikan Kartu Indonesia Sehat...

Uang di Bawah Kasur Lenyap

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Unit Reskrim Polsek Tingkir berhasil mengungkap kasus pencurian uang sebesar Rp 8,4 juta dari rumah Sunarmi, 41, warga Jalan Sonotirto, Pancuran,...

Lawan Hoax Lewat Komik

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG –  Dua dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Udinus, Godham Eko Saputro  beserta Toto Haryadi, memiliki cara unik untuk melawan pemberitaan palsu (hoax)...

XL Perluas Jaringan Luar Jawa

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - PT XL Axiata Tbk tahun ini melanjutkan pembangunan jaringan data, khususnya di luar Jawa. Hal ini sebagai komitmen dalam memperluas ketersediaan...

Selundupkan Sabu di Kacang, 2 Diringkus

PEKALONGAN–Petugas Lapas Kelas 2A Pekalongan kembali menggagalkan upaya penyelundupan narkotika jenis sabu dan ekstasi ke dalam lapas. Dua terduga pelaku berhasil dibekuk petugas gabungan...

Antisipasi Habisnya Minyak Bumi

SEMARANG - Universitas Diponegoro (Undip) kembali mengukuhkan dua guru besar dari Fakultas Teknik. Dua guru besar tersebut adalah Prof Dr Andri Cahyo Kumoro dan...