31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Temukan Reruntuhan Sebuah Candi

MUNGKID-Warga lereng Merapi kembali digegerkan dengan temuan belasan batu yang diduga merupakan reruntuhan bangunan candi, Rabu (18/1) pagi. Bebatuan tersebut, ditemukan di tengah arel perkebunan milik warga. Tepatnya, di Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Penemuan bermula dari penelitian yang dilakukan Dwi Yatim Mantora, seorang pemerhati budaya dari Paguyuban Sastra Jendra Hayuningrat. Tora menjelaskan, penemuan berawal dari dua batu prasasti. Yakni, Prasasti Salingsingan yang sebelumnya ditemukan di Candi Asu, Dukun; dan Prasasti Tihang di Srumbung. Dalam dua prasasti yang berhasil diterjemahkan itu, berisikan tentang bangunan suci, persawahan, dan tanah perdikan.

”Dalam prasasti tersebut, Raja Mataram memberikan hadiah kepada selirnya, berupa bangunan suci (candi). Setelah kami telusuri, salah satunya kami temukan di Dusun Ngandong,” jelas Tora saat ditemui di lokasi penemuan batu, kemarin.

Bersumber dari batu prasasti pula, ditempat berbeda, Tora mengaku menemukan batu yoni di Dusun Tegal Surat dan Kwayuhan, Desa Wates, Dukun. Juga situs bebatuan yang diduga merupakan reruntuhan candi di Dusun Batur, Desa Ngargomulyo dan Dusun Gintung, Desa Kalibening, Dukun. Serta, ditemukan pula batu berbentuk lumpang dan lesung di Dusun Ndemo, Desa Kalibening, Dukun.

Sebelum ditemukan, Tora bersama warga setempat melakukan survei dan melakukan penggalian di beberapa tempat di kebun Dusun Ngandong. Beberapa kali gagal, akhirnya ia mencoba menggali gundukan tanah di kebun milik warga bernama Topo. Tora dibantu Kepala Dusun setempat, Suratno, dan warga lain. Bermodalkan cangkul, mereka melakukan penggalian kurang lebih 1,5 jam. Akhirnya, ditemukan bebatuan yang dimaksud dalam prasasti tersebut.

”Sementara ini, kami temukan 15 bebatuan yang posisinya tidak tersusun rapi. Ditemukan di kedalaman setengah meter di atas permukaan tanah,” kata Tora. Sejak kemarin, lokasi penggalian sudah dilingkari garis kuning polisi.

Ia menduga, belasan batu yang ditemukan tersebut, merupakan pecahan bagian selasar candi. Tora juga berkeyakinan, masih ada bebatuan serupa di radius sekitar 50 meter di seputaran tempat kali pertama bebatuan ditemukan.

”Dilihat dari bentuk dan tekstur batu, bangunan tersebut merupakan bangunan Hindu peninggalan kerajaan Mataram Kuno.”

Kepala Dusun Ngandong, Suratno, memaparkan, penemuan semacam itu, baru sekali ini terjadi di wilayahnya. Ia mengaku kaget karena sebelumnya tidak ada satu pun warga yang pernah menemukan batuan sejenis. Padahal, kawasan itu merupakan lahan perkebunan yang setiap hari digarap.

”Lahannya milik Pak Topo, selama ini dipakai untuk menanam cabai. Tapi, belum pernah ditemukan bebatuan semacam itu.”

Pasca penemuan, Suratno segera berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Ngargomulyo untuk langkah tindak lanjut. Ia berharap, dengan ditemukannya bongkahan bebatuan yang diyakini peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, ke depan dapat menjadi destinasi wisata sejarah.

”Pak Topo, pemilik lahan tidak keberatan, seandainya nanti akan dilakukan penggalian tahap berikutnya. Sebab, kalau bisa menjadi tempat wisata, kemungkinan besar perekonomian warga bisa terangkat,” pungkas pria yang 11 tahun menjabat sebagai Kadus itu.

Terpisah, Kepala Pokja Perlindungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Sugeng Widodo mengaku belum mengetahui temuan batuan yang diduga merupakan reruntuhan bangunan candi.

Sugeng meminta temuan bebatuan tersebut diamankan. Ia juga mengimbau warga untuk tidak mengubah susunan batu. Jika sudah ada laporan warga yang masuk, Sugeng bersedia turun ke lapangan meninjau lokasi temuan.

”Tolong (bebatuan) jangan diangkat dulu. Didata titik-titik mana saja yang diduga terdapat bebatuan serupa,” pinta dia.

Menurut Sugeng, temuan bebatuan seperti itu, tidak hanya kali ini terjadi. Sebelumnya, juga sempat ditemukan bebatuan di sekitar lereng Merapi. Persisnya, di Kecamatan Dukun.

Bebatuan itu di antaranya berupa lingga yang merupakan tempat peribadatan umat Hindu. Jika memang di kawasan Merapi ditemukan dan terbukti tempat peninggalan sejarah yang besar, tidak menutup kemungkinan sekitar lokasi bisa menjadi objek wisata.

”Bisa saja menjadi obyek wisata. Tetapi harus melalui penelitian terlebih dahulu. Kita tinjau dan upayakan penyelamatan lebih lanjut dan harus direncanakan dengan matang,” sambungnya. (cr1/isk)

Latest news

Related news