31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

PKL Barito segera Digusur

SEMARANG- Dinas Perdagangan Kota Semarang terus melakukan sosialisasi terhadap keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Barito atau sepanjang tanggul Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Sembari menunggu proses pembebasan lahan, PKL Barito ini akan segera digusur. Rencananya, PKL Barito ini akan dipindah dan ditempatkan di Pasar Klitikan Penggaron Kecamatan Pedurungan.

“Februari ini merupakan sosialisasi terakhir bagi PKL di sepanjang Barito maupun warga yang tinggal di sekitar tanggul Sungai Banjir Kanal Timur,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (19/1).
Dikatakannya, diperkirakan pada Agustus mendatang, sungai BKT telah dimulai pengerukan proyek normalisasi. Menurut Fajar, pengerukan BKT akan dimulai dari utara menuju selatan.

“Total bangunan yang terkena dampak kurang lebih 1.250 bangunan berada di 12 kelurahan,” ujarnya saat melakukan sosialisasi di Balai Kelurahan Rejosari, Semarang Timur, kemarin. Sejauh ini, kata dia, tidak ada masalah yang krusial. Kurang lebih 200 PKL yang ikut sosialisasi kemarin, juga tidak ada yang komplain.

“Kami minta semua PKL dan penghuni tanggul BKT legawa. Mereka menyadari bahwa mereka tinggal di bantaran sungai BKT, yang sebetulnya tidak berhak, karena tanah yang ditempati adalah tanah negara,” kata Fajar.

Dikatakannya, pemkot telah memikirkan solusi bagi warga yang terkena dampak proyek pembangunan tersebut. Jadi, tidak asal gusur.

“Pemkot sudah menyediakan lahan untuk para PKL di Pasar Klitikan Penggaron, Pedurungan. Tahun ini, pembangunan Pasar Klitikan yang sempat mangkrak dilanjutkan. April nanti, pembangunan Pasar Klitikan mulai dikerjakan lagi,” ujarnya.

Nantinya, Pasar Klitikan akan dimanfaatkan untuk menampung para PKL Barito. Setelah proyek pembangunan Pasar Klitikan rampung, para PKL dipindah untuk menempati Pasar Klitikan Penggaron. “Mereka memahami bahwa tinggal di bantaran sungai itu menyalahi aturan,” katanya.

Namun demikian, sejumlah PKL Barito mengaku masih kebingunan nanti teknisnya seperti apa. Mereka masih menyangsikan apakah nasib mereka nantinya benar ditanggung pemerintah kota.

Salah satunya, Safi’i, 53. Ia mempertanyakan apakah Pemkot Semarang akan benar-benar memperhatikan. “Saya belum tahu apakah nanti mendapat ganti rugi atau tidak. Termasuk apakah pemkot membiayai sarana dan prasarana angkutan untuk boyongan ke Pasar Klitikan atau tidak, kami belum mengetahui,” akunya.

PKL lain, Slamet, 51, mengatakan, pihaknya akan mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah. Termasuk mendukung rencana pembangunan revitalisasi Sungai BKT. Tetapi, ia berharap Pemkot Semarang menanggung biaya pindah, termasuk memberi ganti rugi. Sebab, kalau membiayai sendiri, para PKL banyak yang tidak mampu. “Harapan kami,  pemkot membantu untuk pemindahan,” katanya. (amu/aro)

Latest news

Related news