31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Shelter BRT Roboh

SEMARANG- Lengkap sudah persoalan yang membelit pengelola Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang. Selain tengah diguncang kasus pencurian, penggelapan dan korupsi, ternyata sejumlah shelter BRT mulai jebol. Seperti shelter BRT  di Jalan Prof Hamka, depan kantor Kecamatan Ngaliyan Semarang.

Shelter tersebut roboh sejak Selasa (17/1) dini hari lalu. Akibatnya, pelayanan pengguna angkutan massal di wilayah tersebut terganggu. Sebab, setiap bus BRT yang melintas, tidak ada yang berhenti di shelter tersebut. Kondisi shelter yang roboh itu dibiarkan berserakan begitu saja.  Belum diketahui secara pasti penyebab robohnya shelter BRT ini. Karena pihak terkait belum memberi penjelasan.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi kejadian, tampak tiang-tiang besi terlepas dari landasan cor. Baik atap maupun badan shelter ringsek. Beruntung tidak sampai menimpa warga yang melintas.

Menurut warga sekitar lokasi, Ima, 35, diperkirakan shelter BRT tersebut roboh pada Selasa (17/1) dini hari sekitar pukul 02.00. Ia sendiri mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab robohnya shelter tersebut. Namun yang jelas, kata dia, shelter roboh pasca ada truk kontainer melintas.

“Kondisinya hujan deras sekitar pukul 02.00, tiba-tiba ada suara brak. Shelternya ambruk. Entah ambruk akibat terkena angin atau keserempet truk kontainer,” kata wanita yang dini hari itu jaga warung rokok tak jauh dari lokasi.

Dikatakannya, truk kontainer tersebut melaju pelan dari arah utara (Jrakah) menuju ke selatan (arah Boja). “Kondisinya, sedang hujan dan sepi. Nggak ada orang. Di lokasi sini hanya ada dua orang, yakni saya dan bapaknya penjual warung nasi kucing,” ujarnya.

Setelah mendengar suara keras tersebut, Ima berusaha mengecek dan melihat shelter BRT tersebut telah roboh dalam kondisi hancur. “Nggak tahu apakah kena angin atau keserempet badan kontainer. Kalau keserempet bisa jadi benar, karena posisi atap shelter agak menjorok ke badan jalan. Kalau sopir kontainer tidak melihat karena kondisi gelap, bisa jadi badan kontainer menyerempet atap shelter,” jelasnya.

Hingga hari ini, kata dia, belum ada penanganan. Sehingga infrastruktur shelter tersebut masih dibiarkan ringsek di lokasi. “Petugas keamanan kecamatan kemarin sudah mengecek, tapi apakah sudah dilaporkan apa belum saya tidak tahu,” katanya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, mengaku telah mengecek lokasi shelter BRT yang roboh tersebut. “Saya tanya orang di sekitar lokasi, tidak ada yang tahu persis apa penyebabnya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Namun yang jelas, lanjut Suharsono, prinsipnya pengelola BRT Trans Semarang harus segera memperbaiki shelter tersebut. Sebab, hal itu akan mengganggu pelayanan BRT Trans Semarang. “Jika tidak, bagaimana sopir akan menaikkan atau menurunkan penumpang di shelter itu?” katanya setengah bertanya.

Bus BRT Trans Semarang yang menimbulkan polusi asap. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)
Bus BRT Trans Semarang yang menimbulkan polusi asap. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)

Ke depan, lanjut dia, shelter BRT harus didesain dengan konstruksi yang lebih bagus. Bagaimana mungkin, shelter yang digunakan sebagai pelayanan masyarakat mudah ambruk begitu saja.

“Beruntung, ambruknya shelter tersebut tidak mengakibatkan korban jiwa. Tapi  perlu antisipasi, pembangunan shelter harus memenuhi standar nasional Indonesia, yakni shelter yang kuat, aman nyaman dan artistik,” ujarnya.

Dikatakan, pelayanan BRT yang telah beroperasi sejak 2008 atau 8 tahun silam, dibiayai mahal. Selama 2016 lalu saja, pengelolaan dan perawatan BRT menelan biaya kurang lebih Rp 70 miliar.  Tetapi, pengelolaan BRT Trans Semarang masih kerap dijalankan tak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Selain shelter yang mulai rusak, sejumlah armada BRT kondisinya juga jauh dari kelayakan. Bahkan, tak sedikit yang menimbulkan polusi asap. Belum diketahui apakah armada BRT tersebut melewati uji emisi atau tidak.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Tri Wibowo, mengaku, telah menerima laporan terkait ambruknya shelter BRT Trans Semarang di depan kantor Kecamatan Ngaliyan tersebut. “Sudah kami perintahkan untuk segera memperbaiki. Nanti akan dibangun baru. Mengenai penyebab robohnya shelter, kami juga belum tahu persis. Yang jelas, akan kami tangani,” katanya.

Sementara itu, terkait sejumlah kasus yang membelit BLU Trans Semarang, penyidik Polrestabes Semarang terus memeriksa enam saksi. Selain itu, penyidik juga tengah memanggili pihak operator koridor untuk diperiksa. “Masih memeriksa saksi, termasuk manggali dari pihak operator koridor dulu,” ungkap Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Wiyono Eko kepada Jawa Pos Radar Semarang Kamis (19/1).

Namun demikian, Wiyono enggan membeberkan nama operator koridor yang dipanggil. Menurut dia, pemanggilan ini guna mengumpulkan keterangan dengan harapan menambah bukti kuat dalam membongkar skandal BRT ini. “Didalami dulu, nanti kalau sudah betul-betul datanya lengkap, baru mengarah ke pihak lain,” terangnya.

Penanganan skandal BLU Trans Semarang ini, lanjut dia, memerlukan waktu yang tidak singkat. Menurut Wiyono, penyidik dalam menangani kasus ini tidak tergesa-gesa lantaran perlu kehati-hatian.

“Kita tidak grusa-grusu. Kita bertahap, mengumpulkan saksi-saksi dulu, dokumen lengkap, jelas, baru gelar perkara. Setelah itu menetapkan siapa yang menjadi tersangkanya,” katanya.

Terkait waktu pemanggilan terhadap Joko Umboro Jati, mantan Kepala BLU Trans Semarang UPTD Terminal Mangkang, Wiyono menjelaskan nantinya penyidik yang menentukan. “Penyidik yang tahu. Nanti kalau sudah mengarah ke sana kan akan dipanggil juga,” ujarnya. (amu/mha/aro)

Latest news

Related news