31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Pemprov Diminta Gagas Industri Garam

SEMARANG – DPRD mengaku prihatin dengan belum adanya industri pengolah garam berskala besar di Jateng. Padahal, provinsi ini merupakan salah satu daerah penghasil garam yang cukup besar. Kondisi itu membuat kesejahteraan petani garam sangat memprihatinkan dan sektor garam tidak bisa maju.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Yudhi Sancoyo mengatakan, industri garam skala besar dibutuhkan masyarakat. Sebab, jika hanya industri kecil yang digarap petani garam, hasilnya belum memenuhi standar untuk garam industri. ”Ini otomatis berimbas pada harga di pasar yang murah. Dengan begitu nasib petani garam sulit sejahtera,” katanya.

Kehidupan petani garam di Jateng menurutnya memprihatinkan. Produksi garam yang mereka hasilkan berupa garam rakyat masih membutuhkan sentuhan industri sehingga menghasilkan garam yodium untuk konsumsi industri dan rumah tangga. Padahal, sepanjang jalur pantura banyak masyarakat yang menggantungkan hidup menjadi petani garam. ”Ironisnya selama ini masih belum ada industri garam skala besar yang bisa menampung produksi garam dari petani. Padahal ini bisa menjadi peluang bagus untuk mengurangi pengangguran,” ujarnya.

Ia mencontohkan, di Kabupaten Pati jumlah produksi garam dari petani mencapai 260.000 ton. Bahkan, itu merupakan produksi garam terbanyak kedua setelah Jawa Timur. Tetapi karena masih berupa garam krosok, maka serapan di masyarakat terutama untuk kebutuhan industri masih sangat kecil. ”Bayangkan kalau ini diolah sedikit oleh industri besar, jelas akan membuat harga semakin mahal dan berimbas kesejahteraan petani,” tambahnya.

Dewan meminta agar Pemprov Jateng bisa peduli dengan nasib petani garam. Salah satunya dengan mulai mencari investor atau membangun pabrik pengolah garam rakyat berskala besar. Dengan begitu, nantinya garam rakyat bisa tertampung dan diproses menjadi garam layak konsumsi untuk mencukupi kebutuhan garam bagi masyarakat dan industri di Jateng. (fth/ric/ce1)

Latest news

Related news