33 C
Semarang
Selasa, 22 September 2020

21 Nelayan Jateng Ditangkap

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

SEMARANG – Para nelayan di Kabupaten Pati, terutama pengguna alat tangkap cantrang, meminta jaminan keamanan saat melaut. Sebab, toleransi larangan penggunaan cantrang selama enam bulan ini tidak dibubuhi keterangan yang mempunyai kekuatan hukum.

Hal itu dipaparkan Sulawi, nahkoda kapal cantrang asal Juwana Pati saat berdialog dengan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di Kantor Kecamatan Juwana, Rabu (18/1). Dia meminta Pemprov Jateng untuk memberi perlindungan kepada nelayan agar bisa melaut tanpa ada rasa khawatir. “Terutama ketika melaut di luar perairan Jateng,” katanya.

Rasmidi Waluyo, salah satu nelayan membeberkan, sudah banyak nelayan Jateng yang ditangkap keamanan laut di kawasan Kaltim, Kalsel, Kalbar, hingga Makassar. “Bahkan salah seorang teman kami baru saja di penjara tiga bulan di Banjarmasin karena masalah ini, ” ujarnya.

Dijelaskan, pelanggaran kawasan perairan itu tergolong tanpa disengaja karena nelayan memang tidak tahu di mana batas zona perairan Jateng dan Kalimantan. Jika sudah tertangkap, petugas menyita ikan yang sudah ditangkap kapal tersebut. “Ikan hilang, masih ditambah denda ratusan juta rupiah,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menjelaskan, akan mengkomunikasikan keluhan nelayan itu kepada unsur keamanan laut, khususnya di wilayah laut Jawa dan Kalimantan. Solusi lain, harus ada pelatihan menyeluruh, khusus pengetahuan batas-batas perairan agar nelayan tak lagi berurusan dengan unsur keamanan.

“Nanti saya akan telepon Pak Tito (Kapolri Jenderal Tito Karnavian) dan Kepala Staf Angkatan Laut serta unsur terkait. Karena ironis, kita kesulitan melaut di negeri sendiri,” ucapnya.‎

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Jateng, Lalu M Syafriadi meminta agar semua kapal yang mencari ikan di wilayah Laut Jawa, dilengkapi dengan GPS. Ketika ditangkap, nahkoda langsung mengunci GPS tersebut agar bisa digunakan sebagai bukti bahwa nelayan tidak melanggar perbatasan.

Lalu menjelaskan, banyak nelayan yang komplain terkait penangkapan tersebut. “Mereka bilang pelanggaran zona tersebut karena sedang berlindung dari badai. Jadi agak masuk sedikit ke perbatasan. Toh saat itu sedang off atau tidak menebar jaring,” paparnya.

Karena itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan provinsi lain. Terutama dengan provinsi yang menangkap nelayan asal Jateng. “Kami tetap memikirkan nasib nelayan yang ditangkap. Saya sebagai kepala DKP Jateng, meminta provinsi yang menangkap agar menghadirkan saksi ahli untuk mendudukkan perkara secara benar,” imbuhnya.

Dari datanya, sejak awal 2017 ini, sudah ada 21 nelayan yang ditangkap di luar daerah. Rinciannya, 13 kapal di Sumsel, 5 kapal di Makassar, dan 3 kapal di Banjarmasin. (amh/ric)

Berita sebelumyaTiga Oknum Polisi Positif Nyabu
Berita berikutnyaKejar Target

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Istri Sempat Cemburu dengan Organisasi

RADARSEMARANG.COM - Kesibukan Nanang Husni Faruk di berbagai organisasi diakui oleh istirnya, Oki Meriana Kusumastuti. Bahkan ia sampai cemburu, karena waktu Nanang lebih banyak...

Saking Lapangnya, Penumpang Berlari pun Bisa

RADARSEMARANG.COM - BEBERAPA waktu lalu seorang teman menyarankan agar saya menulis pengalaman menggunakan bandara baru Ahmad Yani Semarang. Baru kali ini saya memenuhinya. Kebetulan...

Liyangan Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG-Pemerintah Kabupaten Temanggung telah menetapkan 7 situs, bangunan atau struktur sebagai benda cagar budaya. Ketujuh cagar budaya tersebut adalah situs Liyangan, Camdi Pringapus,...

Lepas 1.305 Mahasiswa

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Sebanyak 1.305 mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga diterjunkan ke masyarakat dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pelepasan para mahasiswa dilakukan...

Pegawai Kejari Tertipu Rp 400 Juta

SEMARANG – Seorang pegawai Kejaksaan Negeri Semarang (Kejari) harus rela kehilangan uang senilai Rp 400 juta, setelah tergiur dengan iming-iming Maria Endang, warga Perum...

Pohon Kelapa Timpa Atap Rumah Warga

PURWOREJO--Angin kencang mengakibatkan sebuah pohon kelapa setinggi lebih dari 14 meter tumbang dan menimpa rumah warga di wilayah RT 1 RW 2 Desa Tangkisan...