31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Bareskrim Tahan Ketua RT Karangayu

BALAI KOTA – Ketua RT Kenconowungu 1 RT 2 RW 2, Kelurahan Karangayu, Kecamatan Semarang Barat, Ong Budiono, merasa menjadi korban kriminalisasi. Hanya gara-gara polemik iuran RT, Budi—sapaan akrab Ong Budiono, kini malah ditetapkan tersangka dan ditahan atas dugaan pengancaman dan pemerasan, oleh penyidik Bareskrim Mabes Polri.

Pelapornya adalah seorang investor supermarket Giant, Setiadi Hadinata, warga Jakarta, yang mengembangkan bisnisnya di wilayah Kelurahan Karangayu, Semarang Barat. Bukannya diselesaikan secara kekeluargaan, masalah ini malah justru berbuntut panjang.

Prihatin atas kasus itu, perwakilan warga Kenconowungu 1 RT 2 RW 2, Kelurahan Karangayu, Kecamatan Semarang Barat, mengadu kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Senin (16/1). Mereka ditemui oleh Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Joko Santoso, Wiwin Subiono dan anggota DPRD Danur Rispriyanto. Mereka meminta agar DPRD Kota Semarang bisa menjembatani untuk menyelesaikan masalah warga tersebut.

”Saat ini, Pak RT sudah ditahan oleh penyidik Bareskrim Mabes Polri sejak seminggu lalu. Alasannya untuk penyidikan,” kata salah satu warga, Tandi, saat melakukan audiensi di kantor DPRD Kota Semarang, kemarin.

Kasus ini bermula pada 2012. Sebagai Ketua RT, Ong Budiono bersama warga menjelaskan tentang aturan-aturan yang ditetapkan warga. Termasuk adanya membayar iuran rutin sebagaimana yang disepakati warga. Di antaranya iuran keamanan, sampah, bantuan pembangunan jalan, pemasangan CCTV, perawatan taman, dan seterusnya. Saat itu, Setiadi selaku pendatang menyanggupi untuk membayar iuran-iuran tersebut. ”Tetapi, Setiadi hanya dua kali mengikuti pertemuan jumpa warga yang digelar rutin bulanan. Dia juga tidak pernah membayar uang iuran yang telah disepakati,” katanya.

Dari sinilah, polemik ini muncul. Bahkan hingga 2 tahun, tanggungan iuran tersebut tak dibayar. Totalnya lebih dari Rp 5 juta. Sejauh ini, lanjutnya, Setiadi hanya membayar Rp 600 ribu. Sedangkan tanggungan dana iuran lainnya tidak dibayar. Tetapi di lain kesempatan, Setiadi justru mengirimkan surat pernyataan, bahwa Setiadi menyatakan bukan termasuk warga RT 2. Melainkan warga RT 1. ”Dalam surat tersebut, Setiadi menyampaikan bahwa uang yang sudah disumbangkan ke RT 2 tidak perlu dikembalikan,” katanya.

Bukannya menyelesaikan masalah itu, Setiadi justru melaporkan Budi selaku Ketua RT ke Polsek Semarang Barat dan Polrestabes Semarang atas dugaan tindak pidana pemerasan. ”Tapi pelaporan terkait dugaan tindak pidana pemerasan tersebut dinyatakan tidak cukup bukti. Sehingga kasus tersebut tidak ditindaklanjuti,” katanya.

Budi bersama warga pun melayangkan gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Dalam gugatan tersebut, warga meminta ganti rugi materiil senilai Rp 100 juta dan imateriil Rp 1 miliar. Namun gugatan tersebut telah dinyatakan kalah. Baik di tingkat pertama maupun di tingkat banding. Saat ini statusnya masih Kasasi.

Nah, karena laporan Perdata inilah, Setiadi melaporkan Budi ke Mabes Polri atas dugaan tindak pidana pengancaman dan pemerasan. Tersangka dinyatakan melanggar Pasal 369 KUHP dan Pasal 336 KUHP. Ong Budiono saat ini telah ditetapkan tersangka dan ditahan oleh penyidik Bareskrim Mabes Polri.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Joko Santoso menyayangkan kasus tersebut terjadi. Seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan hati dingin. Menurutnya, Ketua RT termasuk struktural roda pemerintah paling bawah. Sehingga hal seperti ini seharusnya bisa diselesaikan secara baik-baik. Pihaknya juga akan melihat secara langsung lokasi bangunan ruko yang dimaksud. Tujuannya untuk memastikan apakah benar ruko itu berdiri di wilayah RT 2 RW 2. Termasuk mengecek apakah ruko tersebut telah melengkapi perizinan atau tidak. ”Jika tidak, kami juga akan menindaklanjuti dengan minta Satpol PP untuk segera melakukan tindakan tegas,” katanya. (amu/zal/ce1)

Latest news

Related news