31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

​31 Rumah Terendam Banjir

KENDAL—Hujan yang mengguyur Kendal, Minggu malam (15/1) kemarin, menyebabkan 31 rumah warga dan belasan hektare sawah di Desa Sojomerto, Kecamatan Gemuh diterjang banjir 50-70 sentimeter. Banjir diakibatkan Sungai Blukar di desa setempat meluap akibat debit air sungai melimpah.

Kepala Desa, Sojomerto Ahmad Mawardi saat dikonfirmasi mengatakan bahwa sedikitnya 11 hektare sawah yang ditanami padi dan jagung terendam banjir. Selain itu, sebanyak 31 rumah di Dusun Klantung dan Karanggantung juga diterjang banjir. Dari 31 rumah tersebut, terdiri atas 10 rumah di Dusun Klantung, 4 rumah di Dusun Karanggantung dan 7 rumah di Dusun Karanganyar. Kondisinya mengkhawatirkan, lantaran posisi rumah berada di bantaran sungai. Dikhawatirkan bisa roboh, karena posisi sungai tergerus arus.

“Banjir air bercampur lumpur saat kejadian semalam setinggi 70 sentimeter. Arus yang cukup deras mulai tampak di jalan menuju Dusun Klantung dan Dusun Karanggantung. Bahkan jalan tidak tampak, karena air mengalir deras,” tandasnya.

Lantaran tingginya banjir di dua dusun tersebut, mengakibatkan jalur lalulintas tidak bisa dilalui. Bahkan warga kebingungan, lantaran rumah mereka terancam roboh diterpa banjir.

Menurut Mawardi, 10 rumah di Dusun Klantung memang harus segera direlokasi. Sebab setiap Sungai Blukar banjir, selalu menggerus tepian sungai. Sehingga dikhawatirkan akan membuat rumah roboh diterpa banjir.

Khumaedi, 40, warga Dusun Klantung, Desa Sojomerto yang juga korban banjir mengaku tidak tahu harus pindah kemana. Sebab, rumah tersebut satu-satunya rumah hunian yang ia miliki.

“Saya tidak punya tanah di tempat lain. Tanah dan rumah ini, merupakan satu-satunya harta yang kami sekeluarga miliki. Saat ini, yang bisa kami lakukan hanya memperkokoh pondasi bangunan agar aman dari gerusan sungai jika banjir,” tuturnya.

Diakuinya, jarak tepian sungai dengan rumahnya memang sangat dekat, kurang dari setengah meter. “Saya sudah tidak memiliki tanah, apalagi rumah di tempat lain. Makanya saya tetap bertahan,” akunya

10 rumah tetangganya yang berada di tepian sungai dalam kondisi mengkhawatirkan. Bahkan, sebagian sudah ada yang pindah rumah. Namun ada juga yang bertahan. Yakni dua sudah pindah, delapan lainnya masih bertahan. Yakni Bejo, Jukeri, Sumani, Suroso, Sukei, Jukeri, Cahyono dan Remin serta dirinya. “Sedangkan yang sudah pindah yakni Kaslan pindah ke Kalimantan dan Andi Subkhan pindah ke kecamatan lain,” lanjut Khumaedi.

Camat Gemuh M Fatoni langsung meninjau lokasi bencana banjir bandang tersebut. Ia langsung melakukan koordinasi dengan PSDA (Pengairan Sumber Daya Air) Jawa Tengah agar melakukan normalisasi Sungai Blukar khususnya di Desa Sojomerto. “Daerah aliran sungainya tidak jelas, sudah melenceng dari aslinya. Hal itu, karena terdapat pendangkalan di beberapa tempat sehingga harus dikembalikan ke aliran aslinya,” ujar Toni.

Toni mengaku beruntung, lantaran banjir tidak bertahan lama. Banjir yang melanda dua dusun tersebut cepat surut. “Jadi meski tinggi, banjir tidak lama. Hanya beberapa jam saja, setelah itu hilang dan normal kembali,” akunya. (bud/ida)

Latest news

Related news