33 C
Semarang
Selasa, 14 Juli 2020

Disorot, Bola-Bola Beton di Trotoar

Belum Ramah Pejalan Kaki

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

SEMARANG – Pembangunan trotoar di sejumlah ruas jalan protokol di Kota Semarang belum memenuhi aspek standar layaknya trotoar jalan yang nyaman bagi pejalan kaki. Di sejumlah titik, trotoar yang dibangun justru tidak ramah bagi pengguna area pedestrian tersebut. Seperti trotoar Jalan Imam Bonjol yang kini dipasang bola-bola beton.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di Jalan Imam Bonjol, desain trotoar memang cukup unik dan menarik. Fisik trotoar didesain lebih nyentrik dengan tinggi kurang lebih 20 sentimeter dari aspal jalan raya. Setiap ruas diberi tempat duduk berupa kursi unik yang terbuat dari besi tempa. Setiap jarak kurang lebih 7-10 meter, kursi ditancapkan secara permanen di trotoar. Di sekeliling trotoar terdapat pohon menghijau. Termasuk deretan rangkaian pot berisi berbagai macam bunga (vertical garden).

Sedangkan di tengah badan trotoar terdapat desain tactile paving warna oranye membentuk garis lurus. Pejalan kaki belum banyak yang tahu, apa maksud desain tactile paving tersebut? Ternyata itu merupakan desain trotoar masa kini yang memuat dan menyediakan khusus untuk penyandang disabilitas, terutama tunanetra. Sedangkan di tepi trotoar dipasang bola-bola beton warna oranye.

”Menurut saya, bola-bola dari beton itu sebenarnya tidak perlu. Itu malah berisiko mengenai orang atau pengguna jalan. Setahu saya, tidak ada standar trotoar semacam itu,” ungkap Ketua Koalisi Pejalan Kaki Kota Semarang (KPKS), Theresia Tarigan, kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Theresia mengatakan, pembangunan trotoar seperti di Jalan Pemuda, Jalan MH Thamrin dan Jalan Sriwijaya, juga belum menunjukkan tanda-tanda ramah untuk pejalan kaki maupun kaum difabel. ”Yang mengecewakan lagi, trotoar di Jalan Dr Sutomo Kalisari masih mepet. Itu kan semula nabrak-nabrak pohon. Itu pembatas pohon langsung sebelahnya jalur kuning. Di Jalan Kelud juga sama. Jalan Pemuda juga masih licin dan kotor,” bebernya.

Ia menilai, pembangunan trotoar di Kota Semarang lebih fokus pada penataan dan estetika kota. Sebaliknya, kepentingan pejalan kaki justru terabaikan. ”Dulu pihak Dinas Bina Marga Kota Semarang berjanji trotoar itu ramah difabel. Tapi, hingga kini masih nol besar. Belum menunjukkan trotoar ramah difabel. Sekarang ini masih banyak trotoar yang tidak standar,” katanya.

Theresiana mengakui, Kota Semarang telah tertinggal jauh dengan kota besar lainnya, seperti Kota Surabaya yang telah rapi dan bisa menyediakan trotoar yang aman untuk pejalan kaki dan kaum difabel. Begitu juga di Bali, trotoar sekarang telah dipasangi tiang-tiang untuk menghalau kendaraan yang nekat naik melewati trotoar.

”Di Bali sudah memasang tiang-tiang kalau sepeda motor naik ke atas trotoar lewatnya muter-muter. Tapi kalau kursi roda masih bisa, pelan. Kalau di tempat kita kan pasangnya berbaris,” ujarnya.

Selain itu, pembangunan trotoar hendaknya diawali pada daerah pinggiran atau permukiman. Bukan langsung di jalan protokol atau perkotaan. Menurutnya, hal ini lebih memudahkan para pejalan kaki dalam beraktivitas menuju perkotaan. ”Trotoar dibangun mulai dari pusat kota, kalau menurut saya itu salah. Kalau di kota-kota lain seperti Surabaya, Wali Kota Bu Risma membangun trotoar itu dari permukiman untuk mencari angkutan umum. Biasanya jalan kaki mulai dari rumah. Kalau dari pusat kota itu kan beauty action atau cuma mempercantik wajah kota,” katanya.

Sehingga pihaknya meminta kepada pemerintah supaya dalam membangun trotoar bersifat universal dengan mengedepankan kenyamanan dan keamanan. Termasuk dalam hal penerangan yang sangat dibutuhkan para pejalan kaki. ”Kalau bisa trotoar didesain universal saja lah. Menurut saya trotoar dipasangi bola-bola itu tidak perlu. Yang perlu itu dipasangi lampu penerangan jalan dan pepohonan. Kalau saya melihat, pemasangan lampu-lampu di trotoar masih minim, belum ada,” ujarnya.

Diakui, saat ini warga Kota Semarang juga sering melakukan aktivitas olahraga malam. Sehingga lampu penerangan jalan harus lebih maksimal. ”Keamanan, kalau sekarang ini kan juga masyarakat yang melakukan aktivitas olahraga runner malam hari. Seperti di Jalan Sriwijaya, kita lari sering jatuh karena trotoar naik turun, masih tinggi. Jadi kita larinya di aspal di bawahnya trotoar,” jelasnya.

Pihaknya juga menyayangkan pemerintah yang belum menunjukkan ketegasan dalam memberikan kenyamanan pejalan kaki. Hal ini dilihatnya masih banyak trotoar yang beralih fungsi untuk tempat parkir dan mangkal PKL.

Theresiana mengimbau kepada pemerintah agar tidak asal-asalan dalam melakukan penertiban PKL. Menurutnya, langkah pemkot sebelum melakukan penertiban hendaknya diimbangi dengan disediakannya tempat terlebih dahulu.

”Sebelum membangun trotoar, setiap kelurahan aktif mencari tempat atau ruang alternatif untuk jualan PKL. Jadi camat dan kelurahan mendata, diumumkan harus sudah kosong, tapi harus diimbangi dengan penyiapan tempat untuk memindah mereka, mencarikan ruang. Pak Wali Kota memberikan kebijakan memberikan ruang kepada PKL, baru dilakukan penertiban,” ujarnya.

”Kalau gak ada penegakan, PKL liar akan semakin banyak. Sebenarnya banyak PKL yang pemiliknya pengusaha kaya. Jadi, jangan dibilang lagi isu perut,” tambahnya.

Pengamat urban desain Universitas Diponegoro (Undip), Totok Rusmanto, mengatakan, tampilan trotoar yang ada di beberapa titik di kota Semarang, tidak dimungkiri memang memperindah tata ruang kota. Namun dalam melakukan upaya ini juga harus memperhatikan beberapa hal, termasuk pengoptimalan fungsi trotoar.

Di beberapa titik trotoar, ia katakan, digunakan untuk shelter BRT Trans Semarang yang membuat fungsi trotoar untuk pejalan kaki menjadi terganggu. Hal ini diperkirakan karena kurangnya lahan trotoar yang tersedia. ”Mungkin karena memang lahannya kurang, jadi trotoar yang digunakan untuk shelter bus itu memakan semua trotoar dan susah untuk dilewati pejalan kaki,” ujarnya.

Termasuk kurangnya lahan menyebabkan bola-bola beton berukuran kecil dipasang di trotoar. Ia mencontohkan, di Bandung, bola-bola yang dipasang di trotoar berukuran besar sehingga dapat difungsikan untuk tempat duduk. Sedangkan bola-bola di trotoar Semarang, khususnya di Jalan Imam Bonjol dinilainya terlalu kecil. ”Kalau di sini kan lahannya sempit, jadi kalau bola-bolanya besar, makin habis nanti,” kata dia.

Bola-bola ini, dijelaskan olehnya, sebenarnya memiliki fungsi yang baik untuk para pengguna trotoar. Keberadaan bola-bola ini dapat memberikan pengaruh psikologis bagi pengendara kendaraan untuk tidak berjalan terlalu dekat dengan trotoar, sehingga membahayakan pengguna trotoar.

”Seperti dulu di sepanjang Jalan Dr Cipto ada tanaman rendah di trotoar yang fungsinya juga sama, tapi sudah lama hilang. Hanya saja kalau yang ini berbentuk bola-bola,” ujar perancang kawasan Simpang Lima Semarang ini.

Disinggung masalah tanaman, ia juga menyoroti masalah trotoar di Semarang yang masih belum memberikan keteduhan. Dengan cuaca yang cukup panas di Semarang, harus ada pohon rimbun yang dapat membuat trotoar menjadi lebih teduh. Sehingga membuat pengguna trotoar lebih nyaman.

”Tapi juga harus dengan perencanaan matang, agar adanya pohon yang teduh tidak merusak trotoar yang ada. Di Semarang yang cukup teduh ada di sekitar Lawang Sewu. untuk yang lainnya belum,” ujarnya.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Tengah, Satrio Nugroho mengapresiasi langkah Pemkot Semarang yang mulai memperhatikan desain trotoar. ”Sudah lumayan ada universal desain. Secara desain fisik sudah cukup bagus meski baru beberapa titik,” kata Satrio.

Terutama di jalan protokol, hal yang saat ini menjadi problem adalah belum maksimalnya sosialisasi penggunaan trotoar secara benar. Termasuk minimnya rambu untuk penyandang disabilitas, banyak yang belum paham.

”Minimnya sosialisasi ini mengakibatkan trotoar setelah selesai dibangun justru digunakan di luar pejalan kaki. Misalnya, digunakan parkir, berjualan PKL dan seterusnya. Ini masih menjadi persoalan di Kota Semarang,” ujarnya.

Dalam kacamata arsitek, kata dia, sebenarnya desain trotoar di Kota Semarang masih ada yang perlu dievaluasi. Secara keindahan, menurutnya, telah memenuhi syarat estetika. Tetapi secara infrastruktur trotoar di Semarang perlu dievaluasi. ”Misalnya, adanya tiang-tiang berupa besi dan hiasan bulat mirip bola. Desain tersebut sebenarnya sebagaimana diterapkan di trotoar Kota Bandung,” katanya.

Menurutnya, adanya tiang-tiang besi dan hiasan berbentuk bulat di tepi trotoar justru memiliki kelemahan dan memiliki risiko bagi pejalan kaki penyandang disabilitas. ”Secara ide memang bagus. Mungkin itu kreativitas kontraktor. Saking kreatifnya kemudian dikasih bola. Tapi sebenarnya itu membahayakan bagi pejalan kaki tunanetra. Kita cenderung menganggap aman karena belum terjadi kecelakaan. Sebetulnya itu bahaya,” tegasya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Iswar Aminudin, mengatakan, pihaknya akan memperluas pembangunan trotoar dengan desain humanis di Kota Semarang. ”Ini untuk mempercantik trotoar di Kota Semarang. Kami menghendaki agar trotoar dibenahi. Sebab, trotoar menjadi bagian sarana dan prasarana transportasi publik. Orang setelah naik bus, bisa jalan kaki melalui trotoar,” katanya.

Ia mengakui, saat ini pembangunan trotoar masih terkendala banyaknya tiang-tiang listrik yang telanjur berdiri di trotoar jalan. Bahkan di satu titik trotoar hingga terdapat 5-7 tiang utilitas. Sehingga hal itu sangat mengganggu revitalisasi trotoar. ”Ke depan kami sudah menyiapkan solusi. Di antaranya, dengan penerapan sistem ducting atau penataan instalasi kabel bawah tanah. Sudah kami lakukan kajian, DED-nya baru kami kerjakan. Nanti penggarapan percontohannya dilakukan di daerah Segi Tiga Emas (Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran dan Jalan Gajahmada, Red),” katanya. (mha/sga/amu/aro/ce1)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Meniti Prestasi Atlet Semarang

SEMARANG - Kejuaraan Bulutangkis USM Wali Kota Open ke 44 tahun 2017 mendapat sambutan baik dari para pelatih PB di Semarang. Adanya kelas madya...

Guru Dibekali Advokasi Hukum

SALATIGA - Sebanyak 40 perwakilan guru dari 4 kecamatan mendapatkan Pembekalan Advokasi Hukum dari Bagian Hukum Setda Kota Salatiga. Korupsi dan tertib administrasi menjadi...

Waspadai Terorisme saat Coblosan

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID - Terbongkarnya rencana aksi teror saat Pilkada serentak di Jawa Barat, membuat aparat keamanan harus meningkatkan kewaspadaan. Termasuk dalam pengamanan pelaksanaan Pemilihan...

Kampanyekan Cara Menggendong Anak yang Benar

RADARSEMARANG.COM - Bukan hal sepele, cara menggendong yang baik menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Hal inilah yang sedang dikampanyekan oleh Komunitas Semarang Babywearers....

Belajar Kimia Unsur yang Menyenangkan dengan RPOVJ

RADARSEMARANG.COM - GURU mengajar di kelas memiliki sebuah harapan agar kegiatan belajar mengajar (KBM) berjalan lancar, asyik dan menyenangkan. Dengan pengelolaan kelas yang baik...

Hendi Kembali Terima Penghargaan Tertinggi

SEMARANG- Setelah menerima penghargaan Upakarti dari pemerintah pusat atas inovasinya mengembangkan industri kecil menengah (IKM), kini atas inovasinya tersebut, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi...