31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Sekolah Kebudayaan dan Pewarisan Tradisi

Oleh: Djawahir Muhammad

MENURUT Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminto, 1987) tradisi merupakan segala sesuatu (adat, kepercayaan, kebiasaan, aturan, dan ajaran) yang turun-temurun dari nenek moyang. Berangkat dari pengertian ini, tradisi senantiasa dipandang memiliki dimensi waktu yang lampau. Oleh karena itu tidak semua tradisi sesuai atau cocok dipakai pada masa kini, apalagi untuk  masa depan.

Pandangan serupa itu tentu tidak semuanya benar, karena tidak semua tradisi yang bernuansa masa lalu tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini. Justru  sebaliknya, ada bentuk-bentuk tradisi berupa kearifan lokal – misalnya aphorisma atau kata-kata mutiara (wise word) – yang berpotensi ”menjernihkan” pemikiran di dunia sekarang yang ingar-bingar.

Aphorisma (Jawa) yang sudah tidak tepat lagi diimplementasikan pada masa kini yang semakin efektif dan efisien semisal pepatah ”alon-alon asal kelakon”. Sedangkan yang masih layak dilakukan semua orang adalah pepatah ”aja cedhak kebo gupak”, yang melarang kita berkoneksi dengan pelaku-pelaku kriminal, koruptor, dan pengguna narkoba, misalnya.

Tetapi di manakah tradisi yang ”adiluhung” atau kesalehan-kesalehan sosial itu sekarang dapat diperloleh? Orang-orang tua yang semakin sibuk kian kehabisan waktu untuk berkomunikasi atau menyampakan ajaran filsafat Jawa kepada anak-anak mereka. Guru-guru di sekolah tidak lagi mengajarkan mata pelajaran budi pekerti yang sudah dihapuskan dari kurikulum. Sedangkan masyarakat sebagai institusi sosial di mana tradisi dilakukan sudah berubah ke arah kekinian, tidak dapat menjadi parameter perilaku atau acuan norma-norma tradisional. Pemerintah pun kurang peduli dengan kondisi ini, terbukti menurut catatan dari Unicef (WHO) hampir setiap hari terdapat kepunahan bahasa-bahasa ibu (bahasa tradisional) dari seluruh dunia, dan tidak ada penyelamatan yang sistematis dari lingkungan/ pemerintah setempat.

Keacuhan

Di Semarang (dan Jawa Tengah, bahkan Indonesia) juga terjadi keacuhan (ketidakpedulian) pada bentuk-bentuk tradisi dan budaya setempat. Banyak contoh dapat dikemukakan, misalnya lenyapnya beberapa warisan budaya (ancient heritage) antara lain penggusuran bangsal Kabupaten Semarang, lenyapnya Aloon-Aloon Semarang, robohnya beberapa gedung di Kota Lama. Perubahan bentuk Warak Ngendog, perubahan Manten Kaji menjadi Manten Semarangan, lenyapnya sejumlah kampung tradisional, dan lain-lain.

Pada beberapa kota di Jawa Tengah juga terjadi perubahan bentuk dari pusat-pusat kota tradisional menjadi mal atau pusat pertokoan. Kecenderungan selera dari bentuk arisitektur pribumi menjadi  arsitektur modern, berkurangnya perhatian sebagai penutur bahasa lokal, hilangnya ”dolanan bocah” berganti berbagai rupa permainan elektronik, berkurangnya minat generasi muda terhadap profesi pertanian, dan lain sebagainya.

Ancaman pengikisan terhadap nilai-nilai tradisi dan budaya di satu sisi, dan kurangnya perhatian pada infrastruktur dan fasilitas pendidikan, niscaya menyebabkan kepunahan bentuk dan nilai-nilai tradisi berlangsung semakin cepat. Dalam konteks ini kita tentu tidak boleh menuding kemajuan teknologi dan informasi sebagai pnyebabnya, karena kemajuan teknologi dan informasi merupakan sunatullah yang niscaya dihindari. Ia bahkan menjadi tuntutan zaman. Begitu pula, tradisi memang akan selalu menoleh ke belakang. Tetapi meninggalkan tradisi begitu saja tentu bukan tindakan yang mulia, bahkan menunjukkan perilaku yang kurang beradab!

Jadi, salah satu solusi untuk mempertahankan warisan tradisi dalam dunia yang semakin riuh dan ingar-bingar ini adalah dengan mengambil spirit (semangat) tradisi yang tak kunjung padam. Bentuk bisa berubah atau menyesuaikan, tetapi spiritnya yang kontekstual harus tetap dipertahankan, menjadi roh bagi setiap warga kota dalam melanjutkan eksistensinya.

Sekolah kebudayaan, sebuah lembaga di mana kita bisa mengkaji dan mengembangkan tradisi dan budaya lokal di tengah arus budaya global, mungkin layak menjadi solusinya. Sekolah alam ini akan memberikan materi berupa sejumlah modul yang terdiri atas elemen tradisi dan budaya kota atau daerah yang menjadi objek kajiannya. Sebuah sekolah non degree, tidak mempersoalkan usia siswa, tanpa SPP, dan tidak ada ujian akhir. Semata-mata berdasar minat dan kepedulian! Lebih baik jika Anda tertarik dan mau berkontribusi, kami tunggu kesediaannya melalui forum ini, wassalam! (*)

Latest news

Related news