31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Andalan Wisata Baru Pemkab Demak

Potensi wisata mangrove di sepanjang pesisir Kabupaten Demak mulai Kecamatan Sayung hingga Wedung, cukup menjanjikan. Untuk mengoptimalkannya, Pemkab Demak kini terus berupaya merehabilitasi kawasan mangrove yang bertahun-tahun rusak menjadi tujuan wisata baru.

MESKI belum tergarap dengan baik, namun dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang positif. Wisata mangrove ini diharapkan dapat melengkapi wisata religi yang tumbuh subur di Kota Wali. Wisata mangrove yang kini dapat dinikmati, setidaknya ada 4 titik. Yaitu, bentangan hutan mangrove di pesisir Desa Bedono dan Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung. Kemudian, mangrove di pesisir Desa Tambakbulusan, Kecamatan Karangtengah, mangrove di Desa Morodemak, Keacamatan Bonang dan mangrove di tanah timbul Dukuh Gojoyo, Desa Wedung, Kecamatan Wedung.

Meski demikian, yang menjadi perhatian para pengunjung, baru wisata mangrove di Desa Bedono. Sebab, lokasinya terhubung langsung dengan wisata religi Makam Syech Mudzakir yang terletak di tengah laut. Akses menuju kawasan wisata mangrove ini dapat dilalui dengan sepeda motor maupun naik perahu dari warung apung Pantai Morosari.

Hutan bakau atau mangrove di wilayah Desa Bedono memang terus tumbuh lebat. Bahkan, hutan tersebut kini telah menjadi jujukan wisatawan asing maupun domestik. Mereka menyewa perahu nelayan setempat sehingga bisa meningkatkan pendapatan warga sekitar yang mayoritas nelayan.

Kasi Penataan, Penaatan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (LH), Pemkab Demak, Sulhan mengatakan, sejak ditanam beberapa tahun lalu secara bertahap, kini hutan bakau banyak yang hidup dan berkembang dengan baik. Menurutnya, pada 1999, ada sekitar 300 ribu mangrove. Dalam perkembangannya, pada 2014 sudah ada 800 ribu batang mangrove. “70 persen batang mangrove yang ditanam mampu bertahan hidup sampai sekarang,” katanya.

Dia menuturkan, daerah yang mangrovenya tumbuh lebat dibuat sebagai wilayah konservasi mangrove. Sejak terbitnya peraturan tentang tata ruang dan wilayah (RTRW) pada 2011 sudah ditetapkan, bahwa daerah sepanjang pantai antara Sayung hingga Wedung menjadi hutan lindung mangrove.

Karena itu, Dinas LH Pemkab Demak terus berupaya menjaga kelestarian lingkungan hutan mangrove yang sudah berkembang lebat tersebut. “Kami berupaya bekerjasama dengan masyarakat setempat termasuk membuat peraturan desa (Perdes) tentang pengelolaan lingkungan mangrove yang ada di daerah masing-masing,” katanya.

Tidak hanya mangrove, namun juga soal ekosistem sekitar mangrove termasuk keberadaan burung kuntul yang banyak beterbangan dan beranak pinak di hutan mangrove tersebut. Burung-burung dengan leher panjang berbulu putih bersih itu, tidak boleh diganggu dan ditembak. Ini sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang keanekaragaman hayati ekosistem. Selain itu, ada pula Perda Nomor 8 Tahun 2005 tentang hutan lindung. “Jadi, sepanjang sempadan pantai Demak telah dilindungi UU dan Perda,” kata Sulhan.

Hanya saja, kawasan yang menjadi pilot project baru difokuskan di Desa Bedono, Kecamatan Sayung. Bahkan, di Desa Bedono ini, hutan mangrove yang mengarah ke wisata religi makam Syech Mudazkir telah dibuat jalan atau tracking untuk wisatawan agar bisa melihat dalam kawasan hutan mangrove tersebut. “Kini, sudah banyak wisatawan yang berkunjung ke hutan mangrove ini. Mereka biasanya sewa perahu ke nelayan. Hasilnya lumayan bisa mengantongi Rp 600 ribu sekali sewa perahu. Upaya ini untuk mendukung terwujudnya ekowisata,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Demak, Rudi Santosa mengungkapkan bahwa wisata mangrove terus dikembangkan dan akan menjadi objek wisata pendukung Demak bahari. “Kami mengembangkan dan menindaklanjuti terus. Kami berharap, wisata mangrove ini menjadi andalan Kabupaten Demak. Kami melihat Pantai Morosari yang dilengkapi dengan kawasan mangrove mengandung potensi yang besar untuk dikembangkan,” katanya.

Menurutnya, hutan mangrove kini telah tumbuh lebat sehingga membentuk lorong-lorong alur sungai yang menarik untuk ditelusuri. Upaya Pemkab Demak untuk menanami pesisir pantai dengan mangrove pun terus dilakukan hingga sekarang. Tidak hanya dinas instansi terkait, namun banyak pihak swasta yang juga turut menanam mangrove. Sebelumnya, Dinas Pariwisata juga sedang berkonsentrasi mengembangkan objek wisata di Desa Tambakbulusan, Kecamatan Karangtengah. Setahun lalu, kampung pesisir ini sudah dicanangkan sebagai rintisan desa wisata. Selain objeknya, juga ada event yang digelar, termasuk potensi tari perahu di pantai berpasir putih tersebut. Ada pula, track mangrove, gardu pandang dalam kosenp wisata bahari.

Untuk mengembangkan wisata itu, Dinas Pariwisata bersinergi dengan Dinas LH dan Bappeda, termasuk dalam menyiapkan lokasi penjualan souvenir. Sebab, wisatawan sudah mulai mengunjungi desa wisata itu.

Direktur Anwusa, Sumirah juga mengatakan, pihaknya juga terus berupaya menata kawasan Pantai Morosari. Belum lama ini, bangunan utama tempat wisata kuliner telah diperbaiki. Kini, tempat tersebut kembali dilirik para wisatawan untuk plesiran. “Akses jalan sudah dibetonisasi,” katanya.

Menurutnya, unit usaha wisata bahari Morosari yang semula minus Rp 35 juta, saat ini telah berhasil mendapat pemasukan Rp 37 juta atau tercapai target sekitar 204,3 persen. Karena itu, upaya pengembangan terus dilakukan. Apalagi, kini makin banyak peziarah yang mengunjungi makam Syech Mudzakir yang berada di timur Pantai Morosari, termasuk menggunakan perahu yang tersedia di wisata bahari tersebut.

Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono MMR dalam berbagai kesempatan menyampaikan, rapat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atau kegiatan-kegiatan dinas dan instansi yang harus dilaksanakan di luar kantor diintruksikan diselenggarakan di Restoran Morosari Sayung. Selain untuk membantu unit usaha Perusahaan Daerah Aneka Wira Usaha (Perusda Anwusa), juga dimaksudkan untuk mengembangkan potensi daerah, termasuk potensi wisata bahari dan hutan mangrove.

Menurutnya, banyak potensi yang belum dikelola optimal. Salah satunya Morosari, yang masuk bagian unit usaha wisata bahari Perusda Anwusa. “Karena itu, kami sepakat dengan ide menyelenggarakan semua rapat SKPD di Restoran Morosari. Ini bisa membantu pemasukan Perusda Anwusa,” katanya.

Menurutnya, perubahan cukup signifikan di Perusda Anwusa harus terus didukung agar hasilnya lebih optimal. Seperti mengarahkan kegiatan SKPD ke Morosari dan memperbaiki segala sarana prasarana yang telah rusak. Upaya Pemkab Demak untuk mengembangkan wisata mangrove dan religi di Pantai Sayung sampai Wedung juga telah disampaikan Bupati Demak HM Natsir.

Bupati pernah menyampaikan bahwa Pantai Morosari Sayung dapat dikembangkan menjadi lokasi wisata yang jika dijalankan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi Singapura-nya Demak. Bahkan, bisa melebihi Singapura.

“Kalau Singapura dapat seperti itu, mengapa Morosari tidak. Karena itu, kami meyakini Pantai Morosari dapat melebihi Singapura. Kita berupaya menuju kesana dalam beberapa tahun ke depan,” ujar HM Natsir.

Dia juga menambahkan, selain Morosari, sepanjang pantai utara Demak sebetulnya mengandung potensi wisata religi yang bagus untuk dikembangkan. Menurutnya, banyak makam bersejarah yang dapat menjadi jujukan wisatawan atau peziarah. “Banyak makam bersejarah ada di pesisir Pantai Demak mulai dari Sayung sampai Wedung,” katanya.

Jika potensi wisata religi itu dirangkai dengan wisata mangrove yang memanjang antara Sayung sampai Wedung, akan menjadi alternative baru bagi pelancong untuk menikmati wisata yang cukup mengasyikkan di pesisir pantai utara Demak tersebut.

“Saya sudah melihat langsung potensi itu, termasuk saat berziarah di Makam Syech Mudzakir. Kami juga melihat ada tanah timbul di wilayah Wedung yang juga dapat menjadi lokasi wisata bahari. Antara lain di Morodemak, Bonang, di Onggojoyo Desa Wedung dan Desa Babalan,” jelasnya.

Seperti diketahui, selain Makam Syech Mudzakir yang kini banyak didatangi peziarah, makam Auliya yang dapat dikembangkan antara lain Makam Habib Abdullah Baalawi di Dukuh Sodong, Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung. Kemudian, beberapa makam tua di wilayah Bonang, Kecamatan Bonang dan di wilayah Kecamatan Wedung. Misalnya saja, Makam Al Habib Sayyid Husain yang terletak di kampung terpencil, Dukuh Nggojoyo, Desa Wedung, Kecamatan Wedung menjadi salah satu tempat jujukan ziarah warga Demak.

Untuk menuju ke tempat itu, harus melalui jalan setapak yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Sebab, di kanan kiri jalan cor beton itu banyak ditumbuhi rerumputan tinggi. Lokasinya berjarak sekitar 4 kilometer dari jalan raya Bonang-Wedung. Makam Waliyullah yang masih trah bumi jazirah Arab dan masih terkait dengan silsilah Habib Hasan bin Yahya Semarang ini setiap Jumat Wage digelar haul oleh warga sekitar. Makamnya berada di tengah areal pertambakan dan di tengah pemakaman umum kampung setempat.

Sayyid Husain merupakan salah satu penyebar dan pejuang agama Islam di pesisir Pantura Wedung Demak. Di zaman Kewalian dan Kasultanan Demak Bintoro ketika itu, peran Sayyid Husain sangat besar. Bersama Syech Basir Alqodri, Desa Botorejo, Kecamatan Wonosalam, ia termasuk penasehat bidang agama Sultan Raden Fatah.

Selain itu, makam Syeh Bur Watu yang ada di areal persawahan Desa Mutih, Kecamatan Wedung. Di sekitar makam tua ini, ada sumur tua yang airnya tidak mengering saat kemarau. Karena itu, sumur tersebut menjadi salah satu sumber penghidupan bagi warga sekitar. “Kami garap serius potensi mangrove ini, termasuk yang ada di Pantai Morosari,” katanya.

Bupati bertekad menghubungkan jalur atau akses pesisir Sayung sampai Bonang dengan jalan yang memadai. Sejauh ini, jalan penghubung masih ada yang terputus akibat terjangan abrasi yang tiada henti. Karena itu, selain membangun jalan yang juga berfungsi sebagai penahan abrasi, juga terus dilakukan penanaman mangrove. “Wisata mangrove tentu menjadi destinasi wisata baru di Demak ini. Kami optimistis wisata mangrove dapat berkembang dengan baik,” katanya.

Komisi B DPRD Demak juga mendukung upaya Pemkab Demak untuk mengembangkan wisata mangrove di wilayah Kecamatan Sayung, termasuk di Desa Timbulsloko. Karena itu, penanaman mangrove yang hingga kini terus dilakukan berbagai pihak termasuk oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) patut diapresiasi.

Ketua Komisi B, Marwan menegaskan bahwa pihaknya meminta pemerintah daerah mendukung dan memberikan anggaran yang cukup untuk pembangunan infrastruktur utamanya akses ke kawasan mangrove di pesisir pantai yang terkena abrasi dan rob tersebut.

“Kalau tanaman mangrove ini terus berkembang dan berhasil dijadikan sebagai daerah wisata, maka abrasi dan rob bisa dikurangi. Sebab, penanganan secara berkelanjutan terus dijalankan,” ujar dia.

Menurutnya, pemerintah harus ikut turun tangan agar daerah pesisir tersebut secara serius dibuat sebagai lokasi wisata pantai. “Ini supaya kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat betul-betul hidup, bergairah dan bangkit lagi setelah sekian lama dihajar abrasi dan rob,” imbuh Marwan, legislator asal Mranggen ini.

Kepala DKP Pemkab Demak, Hari Adi Soesilo menambahkan bahwa tanaman mangrove di pesisir utara Sayung menjadi benteng bagi perkampungan sekitar. Tanpa ada mangrove, gelombang air laut dengan mudah masuk ke kampung tersebut. “Abrasi dan rob sudah terjadi lama. Salah satu penanganan yang dilakukan adalah dengan cara menanam mangrove,” kata dia. (hib/ida)

Latest news

Related news