31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Daerah Bingung Kembangkan Pariwisata

SEMARANG – Tidak sedikit pemkab/pemkot yang masih kebingungan mencari sumber dana untuk mengembangkan potensi desa wisata, terutama yang berkaitan dengan objek wisata alam. Praktis, potensi-potensi yang masih tersembunyi, tidak tereksplor secara maksimal. Ini sangat disayangkan lantaran zaman sekarang, mayoritas wisatawan tengah memburu objek wisata berkonsep alam.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Jateng, Urip Sihabuddin menjelaskan, sebenarnya selama ini banyak kesempatan bagi pemkab/pemkot mendapatkan suntikan dana. Dari Alokasi Dana Desa (ADD) misalnya. Anggaran tersebut bisa dimanfaatkan untuk menggarap akses atau infrastruktur ke objek wisata alam di masing-masing desa. ”Laporannya selama ini, mereka tidak bisa menggali potensi pariwisata karena kepentok dana. Padahal, sumber dana sudah ada,” ucapnya, Jumat (13/1).

Contoh lain, lanjutnya, ketika pemprov memberi kesempatan mengajukan bantuan keuangan untuk pengembangan pariwisata lewat Musrenbang, tidak ada satu persen yang mengusulkan. ”Hanya Kota Semarang saja yang sudah mengusulkan untuk pengembangan pariwisata, itu pun untuk Kota Lama, bukan alam,” imbuhnya.

Menurut Urip, fenomena ini terjadi lantaran kepala daerah memang tidak tahu ada potensi wisata alam yang bisa dioptimalkan. Sebab, warga desa juga jarang proaktif menunjukkan ada wilayah yang bisa dikemas menjadi objek wisata.

Karena itu, pihaknya mengajak para kepala daerah untuk lebih jeli mengembangkan desa wisata. Urip mencontohkan, di Banjarnegara, ada waduk yang pantas dikemas menjadi objek wisata alam. ”Saya meminta para kepala daerah, untuk aktif terlibat mengeksplorasi objek wisata alam yang belum populer,” katanya.

Urip mengatakan, sebenarnya wisata alam masih banyak yang belum tergali. Terlebih di Jateng banyak daerah yang memiliki area pegunungan. Meski diakui akses menuju lokasi masih banyak kendala.

Pihaknya juga meminta supaya atraksi seni dan budaya yang telah ditinggalkan masyarakat, kembali dibangkitkan kembali. Misalnya tradisi sedekah bumi yang biasanya tiap desa memiliki keunikan dan caranya sendiri.

”Orang saat ini sudah tak ingin berwisata di tempat modern, tapi alam dan budaya. Ini perlu diangkat kembali. Desa wisata juga tidak butuh biaya, karena keseharian warganya sudah jadi daya tarik bagi wisatawan terutama wisatawan asing,” katanya.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Disporapar Jateng, Prambudi Trajutrisno menambahkan, saat ini desa wisata di Jateng yang teregistrasi ada sejumlah 147 lokasi yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Sedangkan yang berpotensi untuk dikembangkan ada sekitar 400 lokasi. ”Potensi terbanyak ada di Kabupaten Magelang, Wonosobo, Banjarnegara, Kabupaten dan Kota Semarang, Jepara, Solo dan sekitarnya. Kalau di kota istilahnya bukan desa wisata, tapi kampung wisata,” bebernya. (amh/ric/ce1)

Latest news

Related news