31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Menhub Minta Senioritas Taruna Dihilangkan

STOP KEKERASAN: Para taruna Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang melakukan persiapan upacara sebelum peresmian Balai Mas Pardi, kemarin.(Adityo.dwi@radarsemarang.com)
STOP KEKERASAN: Para taruna Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang melakukan persiapan upacara sebelum peresmian Balai Mas Pardi, kemarin.(Adityo.dwi@radarsemarang.com)

SEMARANGKasus tewasnya salah satu taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda Jakarta, yakni Amirulloh Adityas Putra, mendapatkan kecaman dari Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi. Ia menilai peristiwa tersebut merupakan hal yang memalukan bagi institusi pelayaran, terutama yang berada di bawah Kementerian Perhubungan.

Budi mengatakan, jika peristiwa tersebut berdampak pada pandangan masyarakat terhadap sekolah kejuruan yang berada di bawah Kementerian Perhubungan yang selama ini memiliki prestasi, bahkan menghasilkan duta bangsa sekaligus devisa di luar negeri.

”Peristiwa itu membuat kita malu, bahkan hati kami terluka. Apalagi mencoreng nama institusi dan bisa jadi dianggap jika institusi di bawah kementerian ini tak beradab,” katanya usai menjadi inspektur upacara sebelum meresmikan Balai Mas Pardi Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) di Jalan Singosari, Semarang, Kamis (12/1) kemarin.

Ia berpesan kepada Taruna PIP Semarang agar kejadian serupa tidak terulang di Semarang, termasuk di sekolah pelayaran milik Kementerian Perhubungan lainnya. Bahkan dengan tegas Budi meminta senioritas dihilangkan dari pola pikir. ”Anggapan senior itu hebat harus dihilangkan, terlebih lagi melakukan kegiatan yang tidak patut atau menjurus ke tindak kekerasan atau pidana,” tegasnya.

Budi mengatakan proses pendidikan yang mirip dengan pendidikan militer yang selama ini diterapkan di sekolah pelayaran, dinilainya tidak lagi menjadi pendidikan yang bagus dalam membentuk karakter. Sebab, hal itu justru berpotensi penggunaan cara-cara kekerasan, bahkan menjurus ke arah tindakan kriminalitas.

”Senioritas bisa dihilangkan dengan kegiatan positif, contohnya ekstrakurikuler, nanti akan ada kebijakan khusus untuk mengawasi para taruna,” katanya.

Kementerian Perhubungan sendiri, lanjut Budi, tidak akan tinggal diam jika di masa yang akan datang ada peristiwa yang sama. Ia mengaku tidak akan menoleransi dan siap melakukan tindakan tegas berupa pemecatan ataupun  langsung diambil, termasuk proses hukum karena pemukulan seperti apa pun sudah masuk tindak pidana.

”Kalau ada senior yang melakukan tanpa melalui peradilan akan kami usut.  Bisa diberhentikan. Sikap tegas ini diambil agar para siswa atau taruna bisa menjadi patriot bangsa yang berwibawa,” ujarnya.

Direktur PIP Semarang, Capt Wisnu Handoko mengaku, jika di PIP Semarang dalam kurun waktu lima tahun terakhir menggunakan pola pengasuhan taruna saling asih, asah, dan asuh. Sehingga kegiatan seperti kekerasan kepada adik kelas atau bullying tidak terjadi di lingkungan PIP Semarang.

”Karena yang melakukan akan kami tindak tegas. Kami juga melakukan pengawasan bekerja sama dengan pihak lainnya, seperti TNI AL dan lainnya. Kami juga menempatkan pengasuh khusus yang tinggal di asrama, sehingga tidak terjadi hal negatif seperti praktik bullying dan kekerasan,” katanya. (den/aro/ce1)

Latest news

Related news