SEMARANG – Pemprov Jateng mematok target agar new company (newco) pengelolaan Jateng Park sudah dibentuk dalam minggu ini. Jika molor, kemungkinan besar proyek Jateng Park di Desa Susukan Wana Wisata Penggaron, dipindah ke Tlogo, Tuntang.

Awalnya, newco tersebut akan dibentuk PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) sebagai tangan panjang Pemprov Jateng, dengan PT Palawi milik Perum Perhutani. Tapi Pemprov Jateng menilai, jika Perum Perhutani mendelegasikan lewat PT Palawi, pembentukan newco akan kembali terseok seperti yang terjadi selama ini.

Sekda Jateng, Sri Puryono mengaku sudah berdiskusi dengan Dirut Perum Perhutani, belum lama ini. Dalam pertemuan itu, Puryono meminta ketegasan Perum Perhutani. Apakah proyek Jateng Park akan dilanjut atau tidak.

”Dia (Dirut Perum Perhutani) bilang go. Tapi kami meminta agar Perum Perhutani langsung membentuk newco dengan PT SPJT dalam minggu ini. Tidak didelegasikan PT Palawi karena prosesnya panjang,” ucapnya, Rabu (11/1).

Penegasan itu, lanjut sekda, karena Perum Perhutani dianggap berbelit-belit menggarap Jateng Park. Dijelaskan, sesuai rencana awal dahulu, Jateng Park bisa mulai digarap enam bulan setelah pembicaraan. Tapi kenyataannya, Perhutani justru berbelit. Mereka meminta Pemprov Jateng untuk mendorong adanya revisi Permenhut.

”Sudah dilayani sampai akhirnya menjadi Permenhut Nomor 31. Setelah itu, mereka minta kami untuk mengurus izin interchange ke Kementerian PUPR untuk mendapatkan akses jalan masuk dari jalan tol. Ini juga sudah. Kurang apa lagi?” tegasnya.

Penegasan Puryono tersebut dilatarbelakangi sudah adanya lima investor yang siap mendanai pembangunan Jateng Park. Yaitu dari Tiongkok, Taiwan, dan tiga investor lain dari Indonesia. Kepada lima investor tersebut, sekda juga bersikap tegas. ”Kalau tidak punya dana Rp 3 triliun, jangan ngomong Jateng Park. Saya sudah minta company profile masing-masing investor untuk mengetahui kekuatan mereka,” ucapnya.

Diejaskan, hari ini, Kamis (12/1), Pemprov Jateng akan menggelar rapat dengan Dirut Perum Perhutani dan Menteri BUMN di Magelang. Rapat ini untuk mematangkan kesiapan, sekaligus mengakselerasi pembangunan Jateng Park. Jika dalam pertemuan tersebut, Perum Perhutani masih berbelit, Puryono akan meminta Gubernur Jateng bertindak tegas. ”Kalau masih mbulet, saya akan meminta Pak Gub untuk memindah ke Tlogo saja. Di sana, lahannya milik pemprov. Jadi lebih mudah,” bebernya.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jateng, Didiek Herdiana Prasetyo juga menilai, wacana pembangunan Jateng Park terlalu lama. Kerja sama antara Pemprov Jateng dan Perum Perhutani pun sudah dibincangkan bertahun-tahun, tapi tak kunjung menghasilkan kesepakatan. ”Rencana sudah bertahun-tahun lalu, tapi sampai sekarang belum ada pembangunan. Ditunda-tunda terus.  Rasanya sudah saatnya untuk dievaluasi,” cetusnya.

Politikus PDIP ini mengaku sangat setuju jika proyek Jateng Park dialihakn ke Tlogo, Tuntang. Dia membayangkan, pembangunan di sana akan lebih mudah dan cepat karena lahan tersebut merupakan aset milik pemprov. Praktis, regulasi yang harus dilewati tidak serumit Jateng Park lantaran harus bergantung pada Perum Perhutani sebagai pemilik lahan. ”Perhutani kan sudah minta 51 persen saham kalau Jateng Park berdiri di Penggaron. Belum lagi harus dibagi sahamnya dengan pemprov, pemkab, dan investor. Apa bisa jalan? Bayangkan, dari pembagian saham saja sudah sulit dijalankan,” paparnya.

Terkait lokasi, lanjut Didiek, Tlogo dinilai lebih strategis karena dekat dengan pintu keluar tol Bawen.  Lahan yang tersedia pun cukup luas. Dari 400 hektare, jika dimanfaatkan untuk wisata, 10 persen saja sudah lebih dari cukup. ”Banyak kelebihannya. Kalau pembangunannya selesai, langsung dijual, pasti sangat laku dibanding Jateng Park di Penggaron. Jadi kami minta pemprov segera membuat master plan dan feasibility study untuk Tlogo Park,” tegasnya. (amh/zal/ce1)