33 C
Semarang
Jumat, 18 September 2020

Tak Merasa Doping, Mualipi Pasrah

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

SEMARANG – Tiga atlet Jateng yaitu Mualipi (binaraga), Mheni (binaraga) dan Jendri Turangan (berkuda) yang kemarin meraih medali di ajang PON Jabar 2016 tentu dibuat risau atas pengumuman ketiga nama tersebut masuk dalam 12 atlet PON dan 2 atlet Peparnas yang masu daftar atlet positif menggunakan doping.

Mualipi mengakui cukup pasrah mendengar kabar tersebut, walaupun dirinya menegaskan bahwa tudukan melakukan doping itu dianggapnya salah. ”Awalnya saya memang bingung karena dituduh pakai doping jenis Stanozolol, padahal saya tak pakai itu. Saya hanya menggunakan vitamin dan banyak memakai makanan bernutrisi tinggi yang terkontrol,” beber atlet asal Boyolali tersebut.

Peraih medali emas dari nomor 60 kilogram putra tersebut, mengakui sosialisasi pihak LADI jelang PON juga sangat minim. Hampir seluruh atlet kadang tak tahu standarisasi dan batasan untuk menghindari sebuah doping. ”Meminum obat pusing saja, ada takaran yang dianggap doping. Sebagai atlet jelas sosialisasi itu cukup kurang berjalan dengan baik, jadi kadang kita tak tau batasan zat ini dilarang atau tidak,” ucapnya yang sudah turun di PON sejak tahun 1998 tersebut.

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jateng, siap untuk mendampingi tiga atlet yang dinyatakan menggunakan doping, dalam memberikan pembelaan atas kasus ini nantinya. Ketua KONI Jateng Hartono juga menganggap bahwa besar kemungkinan para atlet ini tidak sadar ketika mengkonsumsi zat yang masuk kategori doping tersebut.

Hartono menyebut, pada pelaksanaan PON lalu, tidak ada penerbitan yang mengatur jenis-jenis obata n dan suplemen yang masuk kategori doping. Dia menduga kasus doping yang mencuat di PON Jabar, karena faktor ketidaksengajaan. Artinya, atlet mengonsumi obat atau suplemen yang dianggap doping. ”Di sinilah susahya. Tak ada buku petunjuk apa pun soal doping dan kurangnya kontrol terhadap apa yang dikonsumsi atlet, ini yang bisa menimbulkan kasus doping. Dan kami tentu akan meminta klarifikasi dulu dengan yang bersangkutan terkait hal tersebut,” imbuhnya.

Ketua Harian Pengprov PABBSI Jateng Agus S Winarto mengaku siap mengikuti mekanisme jalannya keputusan terkait atlet-atlet yang dinyatakan menggunakan doping pada pelaksanaan PON XIX di Jabar, September 2016. ”Kami akan ikuti saja prosesnya. Dari PB PON ke lembaga doping, ke PB PON lagi, baru ke PB PABBSI. Setelah itu, kita dengarkan pembelaan dari atletnya. Atlet Jateng yang disebut itu, tentu akan melakukan pembelaan diri,” kata Agus.

Agus yang pada PON lalu menjabat ketua umum Pengprov PABBSI menambahkan, bahwa secara organisasi, pihaknya sudah memberikan informasi dan upaya-upaya pencegahan terkait dengan doping. Artinya, sosialisasi tentang doping sudah dilakukan dan atlet tentunya sudah memahami. Namun yang jelas, kata dia, atlet memiliki hak membela diri dan tetap dinyatakan belum bersalah hingga sampel B dibuka. ”Akan ada pembelaan dari atlet, dan kalau perlu dibuka yang sampel B,” kata Agus. (bas/nik/JPG)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

DPRD Jateng Baru Sahkan 11 Perda

SEMARANG – Menjelang akhir 2017, DPRD Jateng hanya mengesahkan 11 Peraturan Daerah (Perda). Padahal mereka punya 20 Raperda yang harus disahkan. Artinya, hanya ada...

Galang Dana untuk Muslim Rohingya

TEMANGGUNG—Siswa-siswi SMA 1 Muhammadiyah (SMA MUHI) Temanggung, Jumat (8/9) kemarin, menggelar aksi solidaritas peduli Rohingya, Myanmar. Selain penggalangan dana, kegiatan lainnya adalah salat ghaib,...

DMI dan Takmir Diminta Aktif Netralisir Gejolak Sosial

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Semarang bersama seluruh takmir masjid diminta aktif menetralisir gejolak sosial yang terjadi di masyarakat. Peran DMI...

Sekda Jamin ASN Netral

RADARSEMARANG.COM - DUA incumbent resmi ditetapkan sebagai peserta Pilkada oleh KPU Kabupaten Magelang. Potensi keterlibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam mendukung paslon sangat tinggi....

Memartabatkan Bahasa Indonesia di Media Luar Ruang

APAKAH bahasa negara kita sudah tidak bermartabat ketika ruang publik kita sudah dipenuhi informasi dan nama berbahasa asing? Apakah bahasa negara tidak bermartabat ketika...

Jemur Jersey Hingga Lelang untuk Amal

RADARSEMARANG.COM - Kecintaan terhadap sepakbola, melahirkan hobi mengoleksi jersey. Para kolektor jersey klub bola yang jadi idola ini pun tergabung dalam komunitas. Namanya Komunitas...