31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Tak Perlu Khawatirkan Pekerja Asing Asal Penuhi Aturan Boleh Masuk

DEMAK-Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Hanif Dhakiri menegaskan bahwa keberadaan tenaga asing (TKA) di Indonesia tidak perlu dikhawatirkan. Asalkan mereka memenuhi aturan, boleh masuk untuk bekerja di negeri ini.

Demikian disampaikan Menaker Hanif Dhakiri di sela menghadiri wisuda sarjana kedua Sekolah Tinggi Ilmu Alquran (STIQ) Islamic Centre Demak di Pendopo Kabupaten, kemarin. Menurutnya, sejauh ini TKA yang bekerja telah memiliki sertifikasi profesi. Ini seperti TKA Tiongkok yang bekerja sebagai tukang batu bata saja punya sertifikasi.

Meski demikian, diakui juga ada TKA yang bekerja secara ilegal. Hanya saja, kata dia, jumlah mereka tidak banyak. “Jumlah TKA ilegal kecil dan masih terkendali,” katanya didampingi anggota DPR RI dari Fraksi PKB Fathan Subchi, Sekda dr Singgih Setyono MMR, Ketua STIQ H Niam Anshori dan Kepala Prodi Ilmu Alquran H Masrohan.

TKA di Indonesia hanya sekitar 7,4 ribu. Sedangkan, yang ilegal sekitar 800 orang. Jumlah itu dinilai masih kecil dibandingkan dengan TKA di negara tetangga seperti di Singapura dan Negara lainnya. Fakta lain, jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri mencapai 6,5 juta.

“Jadi, tidak seperti yang didengungkan di media sosial (medsos). Berita di medsos itu tidak semua benar (hoax). Kalau TKA memenuhi aturan, tentu saja boleh masuk. Sebaliknya, jika melanggar aturan ditindak tegas,” kata menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Menurutnya, angkatan kerja sekarang ini mencapai 60 persen atau 125 juta angkatan kerja. “Mayoritas mereka bekerja di industri padat karya dan informal karena minim keterampilan. Karena itu, perlu kekuatan akses untuk memberdayakan mereka,” kata Hanif.

Dia menambahkan, di Indonesia persoalan yang terjadi dalam ketenagakerjaan bukanlah soal lapangan kerja. Namun, rata-rata karena tenaga kerja tidak nyambung dengan pekerjaan yang dibutuhkan. Kebutuhan tenaga kerja guru misalnya, lebih banyak guru normatif dan adaptif daripada guru vokasi.

“Di Indonesia jumlah penduduk mencapai 255 juta dengan perguruan tinggi (PT) 4 ribu. Sedangkan, di Tiongkok penduduknya mencapai 1,4 miliar dan jumlah PT hanya 2 ribu. Artinya, meski di Indonesia banyak lulusan PT, namun pengangguran masih banyak,” katanya.

Hanif mengatakan, tiga masalah negeri ini masih berkutat pada kemiskinan, ketimpangan sosial dan pengangguran. Kemiskinan menurun dari 11,1 persen menjadi 10,8 persen. Kemudian, ketimpangan sosial dari 0,41 persen menjadi 0,39 persen dan pengangguran dari 6,18 persen menjadi 5,61 persen. “Meski menurun, tapi tantangannya besar,” katanya.

Hanif berharap, para wisudawan STIQ tetap optimistis dalam menatap masa depan. Penguasaan ilmu agama masih perlu dilengkapi dengan skill atau keterampilan.

Ketua Kopertais X Prof Muhibin mengatakan, para lulusan STIQ yang mayoritas hafal Alquran menjadi modal penting dalam mengembangkan keilmuan. “Kami bangga para wisudawan hafal Alquran,” katanya.

Sekda Demak dr Singgih Setyono MMR menyampaikan sambutan Bupati HM Natsir berharap agar wisudawan dapat memegang teguh kejujuran dan dapat membanggakan daerah sekaligus menjawab tantangan masa depan depan. “Selamat dan sukses untuk wisudawan semua,” katanya. (hib/ida)

Latest news

Related news