31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Desak RUU Pertembakauan Segera Disahkan

SEMARANG – Sekitar seribu petani tembakau yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jateng menggelar aksi di depan kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan Semarang, Senin (9/1). Mereka menuntut agar gubernur mendorong presiden segera mengesahkan RUU Pertembakauan. Sebab dalam RUU tersebut, mengatur batasan jumlah tembakau impor.

Dalam aksinya, para petani tembakau yang datang dari Temanggung, Wonosobo, Demak, Klaten, dan Boyolali dengan mengendarai bus ini menyuguhkan atraksi kesenian tradisional. Yaitu memainkan sejumlah angklung hingga menjadi instrumen. Sementara massa lain, membawa beberapa spanduk bertuliskan ”RUU Tembakau Segera Disahkan”, ”Tolak Impor Tembakau Sekarang”, dan ”Utamakan Tembakau Lokal”.

Koordinator Aksi, Ariyanto Sigit berorasi, aksi tersebut dilatarbelakangi keresahan petani tembakau yang tersingkir keberadaan tembakau impor. Praktis, nyaris seluruh petani tembakau di Jateng mengalami kerugian karena hasil tanam mereka tidak terserap industri. ”Padahal petani tembakau menyumbang Rp 170 triliun per tahun untuk negara. Tapi ironis, kebijakan pemerintah justru merugikan petani tembakau dalam negeri,” ucapnya.

Ketua APTI Jateng, Wisnu Brata menambahkan, pihaknya meminta Presiden Joko Widodo segera mengesahkan RUU Pertembakauan yang saat ini drafnya sudah sampai di meja DPR RI. Jika RUU itu disahkan, petani tembakau lokal akan terlindungi karena ada peraturan, industri hanya boleh mengolah tembakau impor sebesar 20 persen saja. Sedangkan 80 persennya harus hasil dari petani tembakau lokal.

Dijelaskan, dari tahun ke tahun, jumlah impor tembakau terus membengkak. 2016 lalu, sudah mencapai 65 persen. ”Pemerintah harus memproteksi petani lokal. Maka kami minta gubernur agar menyampaikan ke Pak Presiden. Produk kami sudah mencukupi kebutuhan tembakau Indonesia,” bebernya.

Dia mengaku, produksi tembakau lokal sudah mampu mencukupi kebutuhan industri. Memang, beberapa waktu lalu, hasil tembakau lokal jeblok karena diterjang cuaca ekstrem. Selain kuantitasnya terjun bebas, kualitasnya juga menurun. ”Tapi kalau menyumbang 80 persen kebutuhan industri, kami masih sanggup. Soal kualitas, bisa ditingkatkan,” tegasnya.

Siang itu, massa APTI Jateng yang menggeruduk kantor gubernur ditemui pihak Pemprov Jateng lewat Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Heru Setiadi serta perwakilan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan. Meski begitu perwakilan petani tembakau masih tidak terima. Mereka ingin ditemui Gubernur Jateng langsung. (amh/ric/ce1)

Latest news

Related news