33 C
Semarang
Rabu, 5 Agustus 2020

Terboyo Mirip Kandang, Mangkang Dibuat Mewah

Masa Depan Terminal Terboyo dan Terminal Mangkang

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

Terminal Terboyo dan Terminal Mangkang Kota Semarang telah diambil alih oleh pemerintah pusat. Namun kondisinya kini masih memprihatinkan. Kondisi Terminal Terboyo rusak parah dan harus berkejaran dengan rob. Sementara Terminal Mangkang sepi bak kuburan. Lantas bagaimana pemerintah pusat menyulap Terboyo dan Mangkang menjadi terminal yang jadi etalase Kota Semarang?

TERMINAL Terboyo dulunya menjadi kebanggaan warga Kota Semarang. Namun kondisi terminal yang dibangun pada 1985 itu, sekarang sangat memprihatinkan. Selain tak terurus, Terminal tipe A seluas 22 ribu meter persegi ini sekarang hampir mirip bangunan kandang sapi.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (8/1) kemarin, kondisi bagian dalam Terminal Terboyo terlihat kumuh. Terlihat genangan rob di tempat pemberhentian bus. Selain itu, sampah berserakan di mana-mana. Bahkan, akibat bercampur rob dan hujan, menimbulkan bau tak sedap.

”Sudah satu minggu ini sampahnya menumpuk. Sekarang tidak ada yang menyapu,” kata salah satu petugas Dishub Kota Semarang yang enggan disebutkan namanya.

Menurut dia, penyapu yang sering membersihkan sampah di dalam Terminal Terboyo sudah tidak tampak lagi beraktivitas. Namun pihaknya tidak tahu alasan kenapa para penyapu terminal sudah tidak bekerja lagi. ”Mereka mogok kerja. Nggak tahu kenapa,” ujarnya.

Santoso, 45, warga yang ditemui koran ini mengatakan, saat ini bus dalam kota maupun luar kota maupun luar kota yang masuk Terminal Terboyo semakin berkurang. Rata-rata awak bus memilih menurunkan dan mengambil penumpang di jalan raya arah menuju terminal.

”Seharusnya kalau sudah keluar terminal kan gak boleh berhenti di luar. Tapi nyatanya mereka ngetem, ambil penumpang di sana. Gak tahu bagaimana itu cara petugas mengaturnya,” keluhnya.

Pihaknya menjelaskan, bus yang masuk ke Terminal Terboyo sudah dibebaskan membayar retribusi. Termasuk retribusi peron bagi pengunjung terminal juga dihapus.

”Retribusi peron sudah lama tidak ditarik. Bus yang masuk sini juga sudah tidak lagi ditarik retribusi sejak 1 Januari 2017 ini. Biasanya, kalau bus besar bayar Rp 3.000, dan bus kecil bayar Rp 2.500,” katanya.

Terkait Terminal Terboyo yang diambil alih pemerintah pusat, pihaknya enggan memberikan keterangan. Menurutnya, keterangan tersebut alangkah baiknya ditanyakan langsung ke Dishub. ”Kalau itu saya tidak tahu,” ujarnya.

Warga lain, Achmadi, juga mengakui kondisi lingkungan Terminal Terboyo sudah sangat memprihatinkan. Selain kotor dan kumuh, bangunan Terminal Terboyo semakin tidak terurus. Akibatnya, banyak bus yang enggan menunggu penumpang di dalam Terminal Terboyo.

”Sekarang bus nyari penumpang di luar terminal semua. Kalau di dalam sini sepi. Bahkan saat musim liburan kemarin, yang dulunya ramai, sekarang sepi nyenyet,” katanya.

Pengamatan koran ini kemarin, hanya terlihat beberapa armada bus yang menaikkan dan menurunkan penumpang di dalam terminal. Kios di dalam terminal pun banyak yang tutup.

”Sepi Mas, gak ada penumpang yang mau masuk ke sini. Lihat saja kondisinya, sudah tidak lagi terlihat seperti terminal. Warung-warung saja banyak yang kukut. Yang beli paling ya cuma sopir sama kernet bus,” ujar pria yang akrab dipanggil Moh.

Ironisnya, bagian dalam terminal kini justru banyak dipakai tiduran para pengemis gelandangan dan orang tua telantar (PGOT). Ini seperti terlihat di kursi panjang di depan ruang informasi terminal.

”Itu yang di belakang malah kumuh sekali. Saluran pembuangan dari toilet nggak ngalir. Ngecembeng di sampingnya, padahal di situ untuk jalan orang,” katanya.

Sebaliknya, pemandangan di luar Terminal Terboyo terlihat cukup ramai, khususnya di terminal bayangan pertigaan Jalan Kaligawe-Terboyo, depan pos polisi. Padahal lokasi tersebut seharusnya menjadi area larangan pemberhentian kendaraan untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Ironisnya, sejumlah petugas yang berjaga di dalam pos membiarkan begitu saja.

Disulap seperti Bandara

Berbeda dengan Terminal Terboyo, pemerintah pusat justru akan menyulap Terminal Mangkang menjadi terminal modern layaknya bandara mulai tahun  ini. Kebijakan tersebut diambil sebagai upaya standardisasi terminal tipe A yang ada di seluruh Indonesia.  Dengan begitu, aktivitas di terminal bisa kembali hidup dan pelayanan kepada masyarakat semakin maksimal.

Direktur Prasarana Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, JE Wahjuningrum, mengatakan, sesuai Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, terminal tipe A pengelolaannya dialihkan ke pemerintah pusat. Saat ini, pihaknya terus melakukan kajian untuk menata seluruh terminal agar menjadi modern dan bagus.

”Konsep awalnya seperti bandara atau stasiun. Jadi, Terminal Mangkang nanti akan kami tata dan kelola dengan konsep modern,” ujarnya.

Ia menambahkan, penataan akan mengacu kepada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 132 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Terminal Penumpang Angkutan Jalan. Di antaranya, dengan diberlakukan zonasi di Terminal Mangkang. Rinciannya, zona pertama untuk kedatangan bus temasuk penumpang dan pengantar. Zona kedua, tempat pembelian tiket di mana pembeli dan pengantar masih boleh memasuki zona tersebut. Zona ketiga, tempat yang sudah steril, yakni tempat penumpang menunggu keberangkatan bus, serta zona keempat, tempat keberangkatan bus-bus untuk penumpang naik.

”Jadi nanti akan lebih tertata. Hanya mereka yang sudah memiliki tiket yang bisa masuk,” katanya.

Karena anggaran terbatas, untuk penataan Terminal Mangkang masih belum bisa dialokasikan anggaran dari APBN 2017. Saat ini, masih dilakukan kajian dan disusun Detail Engineering Design (DED) Terminal Mangkang. Dengan pengalihan pengelolaan tersebut, lanjut dia, otomatis pemerintah pusat memiliki kewenangan untuk menata Terminal Mangkang karena sudah menjadi aset pemerintah pusat. ”Untuk Semarang memang yang diambil alih hanya terminal tipe A Mangkang. Kalau yang Terboyo tidak, karena bukan tipe A,” ujarnya.

Selain itu, ketika terminal sudah ditata, seluruh armada bus harus masuk ke dalam Terminal Mangkang tanpa terkecuali. Pihaknya mengultimatum, jika tidak taat aturan, maka akan diberikan punishment sampai pembekuan izin trayek. Sebab, ia mengaku selama ini pengelolaan di terminal tidak tertata dan banyak kendaraan yang tidak masuk terminal.

”Ini merupakan tantangan bagi kita agar penataan bisa berjalan maksimal. Jika bus bandel ya bisa dicabut izin trayeknya, ini sudah kami lakukan di sejumlah daerah,” tegasnya.

Untuk Jateng, yang sudah siap dioperasikan dengan model terminal modern adalah Terminal Tirtonadi Solo dan Terminal Klaten. Sementara untuk Terminal Bawen dan Terminal Cilacap tahun ini mulai digarap dan optimistis bisa cepat digunakan. Penataan dilakukan perlahan mengingat anggaran dari APBN pun terbatas, dan tidak semua terminal langsung bisa disentuh. ”Jadi untuk penataan harus bertahap, karena ada 143 terminal yang akan distandardisasikan seperti bandara,” katanya.

Dikatakan, Kementerian Perhubungan juga melakukan penataan Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan ditugaskan di terminal. Karena selama ini kesadaran masyarakat masih belum besar ketika ingin diajak maju dan menjadikan terminal modern.

Ia mencontohkan, banyak masyarakat yang tidak sadar dan bahkan marah ketika diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. ”Ya, kalau terminal bagus, tetapi kesadaran masyarakat belum ada, percuma. Makanya masyarakat juga  harus ikut berperan, karena ini untuk kenyamanan bersama,” ujarnya.

Saat ini, kondisi Terminal Mangkang memang belum maksimal. Terminal yang dibangun menelan dana puluhan miliar rupiah tersebut terlihat sepi. Bus antar kota dalam provinsi (AKDP) maupun bus antar kota antar provinsi (AKAP) masih enggan masuk ke dalam terminal.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (8/1) siang, hanya ada dua bus yang mangkal di terminal. Bus ini tampak ngetem untuk menunggu penumpang limpahan dari bus kota atau angkutan lainnya. ”Jangankan hari biasa, wong pas musim mudik Lebaran aja terminal sepi penumpang, Mas,” keluh Suyuti, salah satu sopir bus AKAP.

Ia menuturkan, sepinya Terminal Mangkang lantaran banyak bus jurusan Solo, Surabaya dan kota besar lainnya enggan masuk ke dalam terminal. Padahal sebelumnya sudah ada agen-agen dari bus yang menjual tiket, namun penumpang lebih suka ke Terboyo ataupun Terminal Sukun. ”Banyak yang nunggu di Sukun untuk jurusan ke selatan, sementara dari jurusan ke Jatim dan Jabar milih nunggu di Terboyo,” ungkapnya.

Kepala Terminal Mangkang, Joko Umboro Jati, mengatakan, setelah diambil alih oleh Kementerian Perhubungan pada Oktober 2016 lalu, rencananya akan ada penambahan pembangunan fasilitas terminal, personel dan aset. ”Kalau ke depannya pasti dibuat lebih baik, saya hari ini (kemarin) berangkat rakor di Kemenhub Jakarta untuk menerima arahan teknik dari Dirjen Perhubungan Darat,” tuturnya.

Karena diambil alih oleh pusat, lanjut dia, maka semua pengendalian dan pembiayaan akan ditekel oleh pemerintah pusat, seperti anggaran perawatan dan perbaikan. ”Anggarannya mencapai Rp 7,2 miliar. Bisa jadi dana itu untuk perbaikan atau tambahan fasilitas,” katanya.

Heri Sudarmaji, Inspektur V Kementerian Perhubungan RI saat melakukan monitoring di Terminal Mangkang, Minggu (8/1) siang, mengaku kecewa dengan kondisi terminal yang cukup megah tersebut, ternyata belum bisa maksimal. ”Pengelolaannya tidak maksimal, infrastruktur dan sarananya belum lengkap. Sayangnya kita tidak bisa berkomunakasi dengan orang yang berkompeten,” katanya.

Lebih parahnya lagi, kata dia, bangunan megah tersebut terkesan mangkrak dan sepi dari aktivitas penumpang. Ia heran mengapa bus-bus tidak ada yang masuk ke dalam terminal.

”Nanti kalau sudah dioptimalkan, bus harus masuk terminal, kalau tidak akan ditindak tegas. Kalau sepi kayak gini tidak bisa menggerakkan perekonomian, bahkan pendapatan negara atau daerah pun tidak ada. Anggaran negara untuk membangun terminal kan sia-sia. Ini akan diperbaiki,” tegasnya. (mha/fth/den/aro/ce1)

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

15 Persen Tamu Hotel dari Semarang

SEMARANG – Warga Kota Semarang manjadi salah satu primadona sasaran pasar hotel dari Jogjakarta. Salah satunya adalah hotel bintang 5 Hyatt Regency. Hotel ini...

Tercepat dan Terluas

TERCEPAT DAN TERLUAS: Sony dan Ariel sedang menujukan video liburan dengan smartphone menggunakan jaringan 4G LTE Telkomsel saat berkunjung di sawah neneknya di jalan...

Dorong RSUD Tingkatkan Pelayanan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi meminta RSUD K.R.M.T Wongsonegoro untuk meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Hal itu ia ungkapkan saat memimpin apel...

Gelar Khitanan Massal Diikuti 46 Anak

BOYOLALI-Kegiatan Khitanan Massal yang diselenggarakan Polres Boyolali bersama Djarum Foundation, Selasa (16/5) kemarin, diikuti 46 anak. Kegiatan sosial yang berlangsung di aula Bhara Merapi,...

Sorot Minimnya Anggaran untuk Madrasah

SEMARANG - DPRD terus menyorot anggaran yang minim untuk madrasah di Jateng. Hal itu, membuat kondisi bangunan madrasah hanya seadanya dan jelas menganggu aktifitas...

Relokasi BKT Tuntas sebelum Agustus

SEMARANG - Pemerintah pusat meminta agar Pemkot Semarang mempercepat pembebasan lahan proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meminta...