31 C
Semarang
Sabtu, 8 Mei 2021

Banyak TKA di Kendal Tak Punya SKTP

KENDAL– Tim Pemantau Orang Asing (Timpora) Kabupaten Kendal menggelar sidak di sejumlah perusahaan. Tim terdiri atas Kesbangpol Kendal, Polres Kendal, Kodim 0715 Kendal, Dinas Tenaga Kerja dan Dispendukcapil. Sidak untuk memantau keluar masuknya tenaga kerja asing (TKA) ke Kendal. Selain itu juga untuk mengantisipasi TKA ilegal masuk ke Kendal.

“Melalui Timpora ini, kami selalu melakukan pemantauan terhadap TKA di Kendal. Dalam satu tahun biasanya kami lakukan dua kali sidak,” kata Kepala Kantor Kesbangpol Kendal, Ferinando Bonay kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dari hasil sidak, tercatat 60 Warga Negara Asing (WNA) di Kendal yang bekerja sebagai TKA dengan status tenaga ahli. TKA yang masuk ke Kendal, kebanyaakan dari Tiongkok, Singapura dan Hongkong. “Namun kami tidak menjumpai adanya TKA ilegal dari perusahaan yang kami lakukan sidak,” ujarnya.

Hanya saja, ada beberapa yang belum memiliki Surat Keterangan Tinggal Penduduk (SKTP). Sehingga mereka diminta untuk segera mengurusnya sebagai bukti domisili saat ini mereka tinggal.

“Selain WNA yang bekerja di perusahaan, ada juga yang belajar atau menuntut ilmu di pondok pesantren. Karena itu, ke depan ia berharap Dinas Pendidikan dan Kemenag juga dilibatkan,” katanya.

Namun Feri mengakui Timpora belum melakukan sidak ke Kawasan Industri Kendal (KIK). Sebab, sejauh ini belum ada pabrik yang beroperasi. Namun ke depan, di KIK juga akan dilakukan sidak.

“Rencananya, pemantauan WNA ini akan kami lakukan lima kali dalam setahun,” tambahnya.

Pemantauan akan dilakukan melalui operasi resmi dengan mekanisme pemberitahuan maupun sidak tanpa pemberitahuan.

Feri menambahkan, keberadaan KIK bukan hanya sebatas pemantauan para pekerja asing. Tapi akan lebih luas lagi. Sebab, jika KIK sudah berkembang menjadi besar, maka tidak menutup kemungkinan akan banyak turis asing yang datang.

Untuk itu, antisipasi dilakukan untuk menangkal adanya pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Sehingga pihaknya juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan upaya penguatan karakter bangsa. Yakni, dilakukan melalui pendidikan wawasan kebangsaan dan pendidikan politik dan paham radikalime. “Terutama menyasar pelajar dan anak-anak muda, sebab mereka yang paling mudah terkena pengaruh,” katanya.

Juru bicara PT KIK, Mifti Haris, membenarkan jika memang kebanyakan perusahaan yang akan berdiri di Kawasan Industri Kendal adalah perusahaan asing. Terutama dari Singapura, Jepang, Tiongkok, Malaysia, Thailand, dan Jerman. “Sejauh ini sudah ada 20 yang mendaftar, lima sedang proses pembangunan, dan satu perusahaan sudah mulai operasi,” bebernya.

CEO PT Jababeka, Setyono Djuandi Darmono, mengatakan , jika KIK adalah salah satu rintisan PT Jababeka dengan menggandeng perusahaan Singapura Sembawa Corporation (Sembcorp). “Berkaca pada PT Jababeka, untuk lahan seluas 500 hektare bisa kami selesaikan dalam waktu tiga tahun. Begitupun KIK ini nantinya, kami harapkan bisa selesai dalam waktu yang sama,” katanya.

Kesuksesan KIK nantinya, sambung Darmono, akan menjadi percontohan dan pemicu tumbuhnya kawasan-kawasann industri lain di Jateng maupun provinsi lain. Karenanya, ia berharap masyarkat Kendal bisa mengambil peran dengan menyiapkan SDM, sehingga bisa mendapat kesempatan pertama dalam penyerapan tenaga kerja. (bud/aro)

Latest news

Related news