31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Ribuan Warga Gelar Zikir di Tengah Jalan

NGALIYAN – Pembangunan apartemen di Permata Puri kembali mendapatkan respons negatif dari warga sekitar. Kurang lebih 1.500 warga perumahan Permata Puri Ngaliyan, menggelar aksi zikir bersama di tengah jalan, Sabtu (7/1) malam.

Aksi ini sendiri dilakukan sebagai simbol keprihatinan warga yang rencananya akan berdiri apartemen Payon Amarta View di lingkungan perumahan tersebut, sekaligus berdoa agar pengembang bisa dibukakan pintu hatinya untuk melakukan rekomendasi yang tertuang dalam perizinan. Aktivitas proyek pun terus berjalan, padahal pengembang diduga belum melaksanakan amanah rekomendasi di antaranya membuka akses jalan baru.
”Saat ini akses jalan pengembang masih mendompleng jalan perumahan, padahal dari rekomendasi pengembang harus membuka akes jalan baru. Saat ini yang digunakan adalah jalan milik warga dan sebagai halaman rumah warga,” kata Ketua Forum Komunikasi Rukun Warga (FKRW) Permata Puri, Yulianto.

Menurutnya, penggunaan jalan milik warga yang terdiri atas lima RW ini akan menjadi masalah di antaranya masalah keamanan, kenyamanan, kesehatan dan aspek sosiial yang diabaikan oleh pihak pengembang. Apalagi pembangunan apartemen letaknya berada di sebelah barat perumahan dan letaknya di ujung yang artinya pengembang tidak memperhatikan nasib warga sekitar. ”Letak apartemen ini di dalam perumahan, artinya setiap hari warga akan terkena efek pembangunan apartemen,” ungkapnya.

Sebelumnya, warga telah melakukan mediasi dengan Pemerintah Kota Semarang dan DPRD Kota Semarnag, mediasi tersebut terkait prosedural atau izin perumaham mulai dari amdal, izin mendirikan bangunan dan yang lainnya. meskipun izin telah dikeluarkan, namun saat itu wali kota meminta agar pembangunan ditahan, namun kenyataan di lapangan pembangunan tetap dilakukan oleh pihak pengembang yakni PT PP Properti. ”Harusnya kan pembangunan dihentikan, ini malah terus lanjut dan kian parah,” keluhnya.

Sementara itu, Yulianto warga Permata Puri membeberkan jika pihak pengembang diduga melakukan manipulasi data untuk mengajukan izin, salah satunya adalah pengambilan data kuesioner yang hanya mengambil 60 orang sampling, padahal di wilayah perumahan Permata Puri ada sekitar 6 ribu warga yang tinggal. Selain itu pengembang pun belum melakukan sosialisasi pembangunan kepada warga sekitar. Warga pun mempertanyakan keabsahan perizinan apartemen mulai dari IMB, KRK, dan Amdal. (den/zal/ce1)

Latest news

Related news