31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Menuju Transportasi Kendal yang Tertata

Oleh: Djoko Setijowarno

KABUPATEN Kendal yang merupakan bagian dari wilayah Aglomerasi Kedungsepur akan mengalami lonjakan ekonomi. Utamanya setelah diresmikan Kawasan Industri Khusus (KIK) Kendal oleh Presiden RI Joko Widodo bersama Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong beberapa waktu lalu. Pasti akan ada peningkatan mobilitas yang berdampak peningkatan ekonomi.

Sejumlah harapan dan kegiatan yang dapat menjadi perhatian dalam lima tahun ke depan untuk membangun layanan transportasi Kabupaten Kendal yang lebih tertata.

Pertama, meninjau ulang Rencana Induk atau Masterplan Transportasi Kabupaten Kendal selaras dengan peninjauan ulang RTRW Kabupaten Kendal. Antara transportasi dan tata ruang harus sejalan dan selaras.

Kedua, menata kembali transportasi umum dengan membuat Rencana Induk atau Masterplan Tranportasi Umum. Aksesibilitas layanan transportasi umum harus dapat menjangkau kawasan perumahan dan permukiman, serta melewati kawasan perkantoran, kawasan pendidikan, kawasan perbelanjaan, kawasan wisata, dan simpul transportasi.

Ketiga, sebelum nantinya mengelola transportasi umum dengan konsep buy the service (membeli pelayanan), dapat dimulai dengan mengkhususkan angkot untuk mengangkut pelajar pada jam berangkat dan pulang sekolah. Operator angkot dapat diberikan subsidi sebagai bentuk kepedulian

Keempat, rencana jaringan bus rapid transit rute Weleri-Kendal-Semarang yang sudah direncanakan Pemprov Jawa Tengah dapat segera direalisasi untuk membantu mobilitas warga.

Kelima, kemungkinan adanya kereta komuter Weleri-Semarang juga rencana kereta ringan (light rail transit) Kendal-Semarang-Demak-Kudus dapat meningkatkan mobilitas warga.

Keenam, memiliki dua jalan lingkar (ring road) yang sudah dapat mengurai lalu lintas menerus (through traffic) tidak masuk ke dalam lalu lintas lokal cukup membantu kelancaran lalu lintas. Namun yang sering terjadi, dengan adanya jalan lingkar tidak akan bertahan lama, karena terlalu banyak akses masuk akibat munculnya kawasan pertumbuhan baru di sepanjang jalan lingkar, seperti SPBU, rumah makan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kendal perlu membuat jalur lambat untuk menjaga kecepatan dan mengurangi jumlah akses langsung dari kawasan terbangun dengan jalan lingkar.

Ketujuh, memanfaatan teknologi informasi untuk peningkatan pelayanan transportasi dengan intelligent transport system (ITS). Dengan penerapan teknologi maju di bidang elektronika, komputer dan telekomunikasi bertujuan membuat prasarana dan sarana transportasi lebih informatif, lancar, aman dan nyaman sekaligus ramah lingkungan.

Kedelapan, pengelolaan parkir modern dengan meminimalkan aktivitas parkir di tepi jalan, membuat kantong-kantong parkir. Termasuk juga kantong parkir untuk truk barang yang kerap menggunakan bahu jalan untuk beristirahat. Dengan membuat Rencana Induk atau Masterplan Pengelolaan Parkir, selain dapat meningkatkan pendapatan, juga bagian untuk menertibkan dan menambah kapasitas jalan yang ada dengan mengurangi titik-titik lokasi parkir di tepi jalan.

Kesembilan, membangun transportasi logistik dan penumpang hingga ke kawasan pedesaan, sehingga dapat memunculkan sistem transportasi pedesaan. Transportasi pedesaan menjadi penting mengingat wilayah Kabupaten Kendal yang pedesaan lebih dominan, sehingga perlu dipikirkan transportasi umum yang manusiawi. Ke depan, tidak boleh angkutan barang digunakan untuk mengangkut orang di pedesaan yang sering dilakukan selama ini.

Kesepuluh, dampak pembangunan jalan tol ruas Batang-Semarang terhadap perekonomian di Kabupaten Kendal pasti ada. Terutama bagi warga yang terdampak tidak langsung, seperti pelaku ekonomi di jalur pantura dan warga penggarap lahan pertanian. Hal ini perlu dipikirkan jangan sampai memunculkan pengangguran baru. Rest area yang berada di ruas tol dapat menjual produk warga Kabupaten Kendal. Pemanfatan rest area untuk mengembangkan potensi Kabupaten Kendal dengan melibatkan pelaku ekonomi yang terkena dampak tidak langsung. Warga petani penggarap dapat bekerja di sektor nonformal pengelolaan jalan tol tersebut.

Kesebelas, Kawasan Industri Kendal akan menimbulkan kawasan tarikan baru mobilitas warga. Letak KIK yang bersisian dengan jalan lingkar Kaliwungu diprediksi akan menghambat perjalanan lalu lintas kendaraan untuk perjalanan menerus (through traffic). Pihak manajemen KIK diminta menyediakan sarana transportasi umum bagi pekerja. Baik dari luar menuju ke kawasan KIK maupun sebaliknya dan di dalam kawasan KIK tersebut.

Keduabelas, menyediakan fasilitas fasilitas jalur transportasi tidak bermotor (non motorized transport), seperti jalur trotoar (pedestrian) dan jalur sepeda di kawasan perkotaan, seperti di Kaliwugu, Kota Kendal, Weleri, dan Sukorejo. Membangun sarana dan prasarana (sarpras) transportasi harus memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas sesuai amanah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Disabilitas.  Harapannya, dalam lima tahun ke depan sudah nampak pelayanan transportasi di Kabupaten Kendal yang lebih tertata. (*)

Latest news

Related news