31 C
Semarang
Selasa, 18 Mei 2021

Karyanya Sudah Sampai Swedia dan Amerika

Kreativitas Samuel Enggar membuat miniatur dan diorama tak diragukan lagi. Padahal alumnus Diploma III Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang (Polines) ini membuat kerajinan tersebut awalnya hanya iseng saja. Seperti apa?

HARIYANTO

MEMBUAT sejumlah miniatur yang digabung hingga membentuk diorama seperti layaknya gambar hidup tentu tidak mudah. Sebab, butuh kreativitas, ketelitian plus kesabaran tinggi. Itu pula yang saat ini dilakukan  Samuel Enggar, warga Semarang.

Pria 44 tahun ini mengaku membuat miniatur dan diorama berawal dari keisengan. Saat itu, ia mengoleksi miniatur mainan, seperti motor, patung orang-orangan hingga mobil-mobilan.  ”Setelah bosan mengoleksi, saya mencoba membuat sendiri. Saya amati, lalu otak-atik di dalam kamar,” kenangnya.

Miniatur pertama yang dibuat berbentuk orang-orangan. Ia menggunakan bahan bekas yang diperoleh di rumahnya. ”Ada jarum pentol, senar gitar yang gak kepakai, dan plastik PVC. Itu kan mudah didapat. Kalau yang beli, kayu balsa,” katanya.

Barang bekas itu lantas dirangkai. Miniatur yang dibuat dengan skala ukuran 1 banding 87 sentimeter. Diakui, pembuatan miniatur itu cukup sulit lantaran ukurannya sangat kecil. Butuh konsentrasi dan kesabaran tinggi.

Setelah berhasil membuat miniatur tersebut, Enggar terus mengasah otaknya untuk merangkai sejumlah miniatur yang dibuatkan menjadi diorama yang lebih hidup. ”Lama-lama pada tahu hasil karya saya itu. Hingga banyak yang pesan. Biasanya pemesan menyerahkan contoh gambarnya. Saya diminta membuat sesuai gambar tersebut,” jelasnya.

Enggar mengaku menekuni seni kreatif itu sejak 2013. Bahkan, hasil karyanya telah dikirim hingga luar negeri, seperti Swedia, Amerika dan Vietnam. ”Pesanan dari Swedia diorama menggambarkan aktivitas perkampungan Senggol Pedamaran. Kalau yang orang Amerika, miniatur mobil Jeep Wilis. Terakhir, orang Vietnam pesan diorama aktivitas warga,” terangnya.

Diakuinya, proses pembuatan miniatur dan diorama membutuhkan waktu paling lama dua bulan tergantung tingkat kesulitannya. Ia mengerjakan seorang diri di dalam kamar tidurnya. ”Yang sulit kalau ukurannya sangat kecil, karena kan harus detail. Ini menjadi tantangan saya,” katanya.

Dari karyanya itu, Enggar sekaligus mempromosikan wisata Kota Semarang. Sebab, beberapa karyanya tentang ikon Kota Lunpia. Salah satunya diorama kawasan Kota Lama Semarang. ”Kalau sekarang banyak pesanan dari lokalan. Yang sedang saya kerjakan sekarang membuat miniatur kereta api,” ujarnya.

Selain itu, sejumlah perusahaan besar di Indonesia pernah memesan diorama kepada Enggar. Di antaranya, diorama mesin gilingan tebu dan padi, hingga truk pesanan dari TNI. ”Kemarin Yon Kavaleri Bandung pesan miniatur tank. Untuk harganya paling mahal Rp 8 juta. Ada juga harga Rp 1,3 juta sampai Rp 1,5 juta. Kalau yang kecil-kecil paling Rp 150 ribu, miniatur figur orang,” jelasnya.

Ke depan, Enggar akan terus menggeluti profesinya ini. Ia juga punya obsesi membuka galeri. ”Saya ingin punya tempat workshop sendiri. Selama ini kan masih dibuat di rumah,” pungkas bapak dua anak yang tinggal di Sampangan, Gajahmungkur ini. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news