31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Kreatif Ciptakan Koreografi Tari dan Musik Pengiring

Untuk melestarikan budaya Jawa, sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Jawa (KJ). Mereka menciptakan beragam koreografi tari dan musik pengiring tanpa menghilangkan unsur budaya Jawa. Seperti apa?

FIRAS DALIL 

KOMUNITAS Kesenian Jawa adalah salah satu UKM di Undip yang berkonsentrasi di bidang seni tari dan musik. UKM ini telah berdiri sejak September 1970, yang mewadahi para mahasiswa Undip yang memiliki minat dan bakat di bidang kesenian, baik sebagai pemusik maupun penari.

Di sini, para anggota UKM bisa menunjukkan kreasi mereka di bidang musik dan koreografi. Salah satunya dengan menciptakan berbagai macam tarian baru beserta musik pengiringnya. Karya – karya mereka ini memiliki beragam kisah dalam kehidupan yang dikemas dalam gerakan tari yang elok diiringi musik gamelan khas Jawa setiap kali tampil di atas panggung.

Menurut Tringgar Pradipta, Wakil Ketua UKM KJ Undip, sesuai namanya, Kesenian Jawa merupakan unit kegiatan mahasiswa yang mewadahi kreativitas para mahasiswa Undip yang tertarik dalam bidang seni.  Tidak terbatas hanya pada tarian Jawa saja, anggota KJ juga pernah menampilkan tarian – tarian daerah lain.

Tringgar yang sudah menjadi anggota aktif  KJ Undip selama dua tahun mengaku sudah berkali-kali melakukan pementasan di sejumlah tempat. Tak hanya di Semarang, tapi juga di luar kota.  “Kami pentas rutin di kampus ISI Solo setiap tahunnya dalam menyambut hari tari dunia. Kami juga pentas produksi setiap tahunnya di Semarang,” kata mahasiswi Fakultas Hukum Undip angkatan 2014 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat ini, kata dia, mahasiswa Undip yang aktif di UKM Kesenian Jawa mencapai 20 orang. Mereka rutin berlatih sepekan sekali di sekretariat UKM Kesenian Jawa Undip yang bertempat di PKM Joglo Jalan Imam Bardjo SH, Undip, Pleburan. Latihan rutin ini diadakan sesuai dengan agenda tahunan KJ Undip.

“Di sini, setiap calon anggota kami dapat memilih bidang mana yang diminati, baik itu tari maupun musik, tapi seiring jalannya waktu kalau ada anggota kami yang ingin belajar keduanya juga boleh, tergantung dari orangnya. Kami tidak pernah membatasi anggota untuk berkarya” ujar Tinggar.

Tidak hanya aktif dalam pementasan seni tari, KJ Undip juga beberapa kali membawa pulang gelar juara dari sejumlah lomba seni tingkat nasional. Salah satunya saat Pekan Seni Mahasiswa Nasional yang rutin digelar setiap tahunnya. KJ Undip pernah menjadi juara I sebanyak dua kali pada ajang tersebut di Lampung (2004) dan Makassar (2006), serta dua kali meraih juara II di Solo pada 2012 dan 2014. Juga pernah dua kali meraih juara III pada ajang yang sama  di Jambi (2008) dan Pontianak (2010).

Tika, anggota lain mengakui, saat ini minat masyarakat terhadap seni dan budaya Jawa mulai menurun. Meski begitu, KJ Undip tetap eksis dalam melestarikan kesenian tradisional.  “Di Semarang, minat masyarakat dalam menonton dan mengapresiasi kesenian juga masih kurang. Terkadang kalau kita pentas, kebanyakan yang datang ya dari komunitas – komunitas di bidang yang sama. Jarang yang dari umum. Alhamdulillah, kami masih sering nonton sekaligus pentas” ujar mahasiswi Fakultas Teknik Undip ini.

Gadis asal Jakarta ini berminat mempelajari tarian dan musik khas Jawa lantaran ada keunikan tersendiri. Ia berharap agar komunitas – komunitas seni di Semarang lebih aktif lagi, dan lebih sering berkumpul dan berkarya bersama. Hal ini guna menciptakan karya – karya dan pentas – pentas baru yang lebih besar, dan dapat menarik minat dan apresiasi masyarakat umum.

“Semarang ada banyak komunitas seni, tidak hanya musik dan tari, harapan saya agar ikatan komunitas seni ini dapat lebih erat dan berinovasi dalam berkarya,” harap Tika yang sudah menjadi anggota KJ selama 2 tahun.

Selain aktif melakukan pementasan, mahasiswa yang tergabung dalam KJ Undip juga kreatif menciptakan koreografi tarian baru. Salah satunya tarian Candu. Tarian ini dimainkan oleh sembilan penari wanita dengan dandanan ala wanita Jawa pada zaman dahulu, dengan latar belakang hitam diiringi musik dan nyanyian Jawa. Tarian ini mengisahkan tentang kehidupan para abdi dalem sebagai pengabdi di keraton.

“Tarian Candu ini pernah ditampilkan dalam acara Pameran Wayang Sobokarrti, Semarang. Tarian ini juga pernah ditampilkan dalam acara World Dance Day 24 Jam Menari di kampus ISI Surakarta tahun 2014,” katanya. (*/aro)

Latest news

Related news