31 C
Semarang
Kamis, 13 Mei 2021

Pendanaan dengan Menjual Merchandise

SETIAP mendirikan sekolah gratis, tentu biaya operasional yang harus dipikirkan matang-matang. Namun selama ini dana operasional DOES University bisa teratasi.

Iwan Pribadi,  pengurus DOES University menjelaskan, selama ini, Erix bersama  pihaknya membuka peluang bagi siapapun yang ingin berdonasi untuk menjunjang proses berjalannya “pesantren” untuk animator ini.  Aksi Erix ini sendiri sangat didukung oleh banyak pihak, termasuk dari komunitas penggemar setianya.

Tidak hanya itu, Erix juga mengusahakan pendanaan dari penjualan merchandise berupa kaos, kaca mata, topi, jaket, sepatu, tas dan lain sebagainya. Seluruh keuntungan dari penjualan merchandise ini disalurkan untuk menunjang proses belajar-mengajar  di DOES University.

Merchandise tersebut bisa dibeli di doesuniversity.com, seluruh biaya operasional dari sana, meskipun untuk makan murid generasi kedua ini bayar sendiri, tapi itupun selama sebulan biaya makan itu masih disubsidi,” jelasnya.

Dari usaha pendanaan inilah, Erix secara langsung turut berkontribusi tidak hanya dalam soal pendidikan, tapi juga untuk memasarkan produk – produk milik sejumlah pengusaha dari daerah asalnya, Jogja. Merchandise yang dijual untuk pendanaan DOES University ini tidak lain merupakan hasil karya dari para pengusaha dan pengrajin di Jogja. Mulai dari usaha konveksi, tas, sepatu sampai dengan pembuatan bass dan gitar custom diberdayakan oleh Erix, Iwan dan rekan – rekannya demi pendanaan untuk DOES University.

Selain itu, Erix dan tim Euforia Audiovisual juga membuat sebuah karya untuk mendanai sekolah gratisnya ini. Karya tersebut berupa sebuah film dengan format 360 derajat yang dapat ditonton menggunakan VR Glass yang sudah ada sepaket apabila Anda membeli karyanya ini.

Ia mengatakan, karya tersebut menjadi film pertama yang menggunakan format 360 derajat baik di Indonesia dan di dunia. VR Glass sendiri merupakan sebuah kacamata untuk smartphone  yang didukung oleh aplikasi tertentu yang membuat Anda dapat melihat gambar ataupun video dalam bentuk 360 derajat.

Tidak hanya itu, Erix juga secara langsung membuat hotel  yang ditempati dan disulap menjadi “pesantren” sekarang menjadi lebih produktif lagi dengan mengusahakan tidak hanya usaha perhotelan, tetapi cathering dan laundry.

“Awal pendanaannya ini dari donasi, dan untuk donatur yang berdonasi senilai lebih dari sekian rupiah akan mendapatkan t-shirt DOES sebagai cindera mata. Namun perkembangan selanjutnya, kita benar-benar menjual t-shirt dan merchandise lainnya sebagai sarana pencarian dana. Tentu saja di luar itu masih banyak donasi-donasi dari berbagai pihak,” papar Iwan.

Dari aksinya ini, lanjut Iwan, pada akhir 2016 lalu Erix meraih penghargaan Danamon Social Enterpreneur Award yang diperuntukan bagi pengusaha yang juga berkontribusi di bidang sosial. Indikator yang membuat Erix layak diberi penghargaan ini adalah yang pertama kontribusinya dalam pendidikan dengan membuat  sekolah gratis. Dan yang kedua adalah kontribusinya pula dalam memajukan usaha – usaha lokal untuk mendanai sekolah gratisnya itu.

Iwan berharap, lulusan dari DOES University  nantinya dapat bersaing dalam industri animasi, serta dapat membuka lapangan kerja di bidangnya. Tahun ini, DOES University membuka jurusan baru, yakni jurusan untuk programmer. Pembukaan jurusan ini didukung dan bekerja sama dengan perusahaan cloud server asal Indonesia, CloudKilat.

“Untuk calon peserta DOES University kelas programmer, kemarin sudah dilakukan interview, rencananya seminggu lagi akan ada pengumuman siapa yang akan diterima, lalu sebulan yang akan datang sudah mulai masuk karantina untuk memulai pendidikannya. Rencananya kita akan menerima 10 orang,” katanya.

Yoga Haris Aladaf, salah satu murid DOES University generasi pertama menambahkan, nantinya usai generasi dua selesai masa studinya pada Februari 2017, mereka akan fokus pada pembuatan konten sekaligus penerimaan untuk generasi ketiga. Selain itu, katanya, ia dan rekan – rekannya juga akan membuat perusahaan, konten, dan juga penjualan sendiri bersama para alumnus DOES University generasi pertama dan kedua.

“Kami menargetkan secepatnya bisa produksi, mungkin sebulan atau dua bulan ke depan. Kalau proyek Save Lagu Anak kemarin memang sengaja kami buat, karena memang konten untuk anak – anak sekarang kurang. Selain itu, nanti kita akan buat film – film animasi untuk anak,” ujarnya. (mg25/aro)

Latest news

Related news