31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Tak Ditempati, Kios Diambil Alih

SEMARANG – Dinas Perdagangan Kota Semarang memberi ultimatum kepada para pedagang agar segera menempati bangunan baru yang telah direvitalisasi. Jika tidak, kios akan diambil alih pemkot dan diberikan kepada yang membutuhkan.

Ketegasan tersebut disampaikan Kepala Dinas Perdagangan Fajar Purwoto saat meninjau kesiapan tempat penampungan sementara Pasar Waru, Kamis (5/1). ”Ada 9 pasar tradisional yang pedagangnya harus masuk. Saat ini kita mulai di Pasar Waru dulu,” terang Fajar. Seperti diketahui, ada 9 pasar tradisional yang selesai direvitalisasi namun pemanfaatannya belum optimal. Seperti Pasar Bulu, Rejomulyo, Waru, Genuk, Rasamala, Wonodri, Suryokusumo, Peterongan, dan Pedurungan.

Menurut Fajar, sebanyak 389 pedagang Pasar Waru yang menjadi korban kebakaran beberapa waktu lalu, sudah harus menempati bangunan baru pada Sabtu (7/1) besok.  Untuk pembangunan Pasar Waru permanen, saat ini baru penyusunan Detail Engineering Design (DED). Sedangkan pembangunan fisik akan dianggarkan pada 2018 mendatang. Rencananya akan dibangun dua lantai.

Sementara pedagang mengaku siap menempati kios sementara sesuai arahan Dinas Perdagangan. ”Pedagang sudah tidak ada masalah. Sudah menerima. Hanya saja kami berharap pemkot bisa melengkapi fasilitas yang memang masih kurang,” terang Ketua Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Waru, Mashab.

Fajar pun memastikan persoalan Pasar Waru telah clear, kemudian meninjau kesiapan Pasar Rejomulyo. Pihaknya pun memberi tenggat waktu hingga 31 Januari 2017, semua pedagang harus menempati bangunan baru. ”Target kami 31 Januari (pedagang) sudah harus masuk 100 persen,” tegasnya.

Ketua Persatuan Pedagang Ikan Basah dan Pindang (PPIBP) Pasar Rejomulyo Didik Setyo Utomo menyatakan, pihaknya belum bisa mengiyakan terkait batas waktu yang diberikan Dinas Perdagangan tersebut. Menurutnya, masih banyak persoalan mendasar yang belum dilengkapi pemkot. Seperti tempat bongkar muat, lantai, dan penutup kios. ”Dari keinginan kami, baru dipenuhi 10 persen saja, itu pun tidak sesuai spek,” katanya.

Menyikapi hal tersebut, Fajar Purwoto menegaskan, pihaknya akan memenuhi sejumlah kekurangan yang selama ini dikeluhkan pedagang secara bertahap. Sesuai anggaran yang ada. ”Kekurangan adalah hal wajar, kita akan perbaiki. Tapi terkadang pedagang minta di luar teknis,” ujarnya.

Menurut Fajar, tidak ada alasan lagi bagi pedagang menolak masuk ke bangunan baru. Sebab, lokasi lama akan dibongkar dan dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH). ”Mau tidak mau bangunan lama segera dibongkar untuk RTH. Kalau memang tidak mau menempati (kios) pemkot akan ambil alih,” tandasnya.

Kebijakan serupa juga berlaku untuk pedagang Pasar Bulu yang enggan menempati kios. Kemarin, Fajar juga telah bertemu dengan pedagang Pasar Bulu untuk menyosialisasikan kebijakan tersebut. ”Target kami Rabu (11/1) atau Kamis (12/1) kios sudah terbuka semua (dimanfaatkan). Kami tidak peduli dan tidak pandang kios itu milik siapa, kalau memang tidak difungsikan akan kami tarik dan menyerahkannya kepada pedagang yang mau menempati,” tegasnya. (zal/ce1)

Latest news

Related news