31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Mencuplik Kisah Mistis Percintaan Alam Gaib

Kisah percintaan dua insan berbeda alam diceritakan dalam sebuah lagu bernuansa gothic oleh Cultural Band. Seperti apa?
ABDUL MUGHIS 

KELOMPOK band asal Kota Semarang, Cultural Band, mewarnai dunia musik dengan karya-karya unik. Mereka konsisten memilih jalur gothic yang kental dengan nuansa mistik. Baik aransemen maupun lirik menuangkan kisah-kisah epic yang sulit dipercaya.

Band ini berusaha mencuplik kisah-kisah nyata yang memiliki ”kekuatan magic”. Salah satunya dituangkan dalam syair lagu berjudul Ada dan Tiada.

”Idenya sebenarnya berasal dari kisah nyata. Dikisahkan, ada seseorang yang bermula ditinggalkan oleh kekasih untuk selama-lamanya. Tetapi seseorang tersebut tidak bisa berpisah meski dalam kondisi alam berbeda,” jelas gitaris Cultural Band, Cahyo Sulistiyo, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (5/1).

Dikatakanya, percaya atau tidak, dunia gaib ada di tengah kehidupan sehari-hari. Ia selaku arranger musik menangkap setiap peristiwa menarik, terutama berkaitan dengan kisah cinta yang unik.

”Kami mengolah konsep musik Gothic Rock, dengan mengangkat kisah-kisah mistisisme cinta dan kehidupan di dunia kegelapan. Lagu Ada dan Tiada menceritakan kisah percintaan antara dua insan yang berbeda alam,” katanya.

Kisah tersebut dikemas dalam jenis fiksi-realis, karena diolah menggunakan sastra puisi. Album ”Ada dan Tiada” merupakan album ketiga sejak kelompok band ini didirikan pada 2003 silam. Di bawah komando Cahyo Sulistiyo, Cultural Band didukung Michelle, vokalis wanita belia yang masih duduk di bangku SMA. Selanjutnya, Anthony (gitar 2), Sanwar (bass), Wahyu (drum), dan Irwan (additional keyboard).

”Kami sengaja mengemas gothic yang terkesan garang, menjadi musik yang enak didengar. Tema-temanya percintaan, tetapi tidak cengeng. Tetap menampilkan distorsi yang kental,” bebernya.

Selain kisah percintaan dua insan berbeda dunia, di lagu lain ada kisah makhluk halus. Album ini memuat lima lagu, masing-masing; Ada dan Tiada, Selamanya, Sadness, Hidup tak Selamanya Indah, dan Kau yang telah Pergi.

”Kami memang mengolah warna gothic dengan memadukan beberapa unsur, di antaranya syairnya cenderung pop karena bercerita kisah percintaan dan kehidupan, aransemen musiknya lebih ke klasik rock Eropa,” katanya.

Ia mengaku, menggarap album tersebut secara maraton selama dua bulan. Mulai proses mengarang lagu, mengaransemen, hingga proses produksi. Bahkan mereka seringkali tidak tidur untuk sekadar menemukan aransemen yang tepat.

”Paling berkesan, justru mengaransemen di album ini lebih sulit ketimbang mengaransemen musik rock murni ataupun pop murni. Karena kalau salah memilih instrumen terlalu keras akan cenderung ke arah metal. Sebaliknya jika terlalu lembut akan terjebak ke arah pop. Jadi, saya sangat hati-hati dan harus berpikir keras agar tidak meleset dari konsep,” kata pemilik lembaga kursus musik Larissa Art Course Centre (LACC) Semarang ini.

Cahyo mengakui, warna musik Cultural Band terinspirasi dari Within Temptation dan Evanescence. Tetapi, Cultural Band tetap saja memiliki ciri khasnya tersendiri. Baik dari karakteristik aransemen, lirik, maupun pemilihan sound. Saat ini, lanjutnya, ia bersama tim sedang mempersiapkan tour lintas kota. Di antaranya, di Jakarta, Purbalingga, Kendal, Semarang, dan Surabaya.

”Album ini telah resmi di-launching 18 Desember 2016 lalu di Grand Charly Semarang,” ujarnya.

Sedangkan klip video di album ini baru satu lagu yakni Ada dan Tiada. Digarap dengan melibatkan komunitas di Kota Semarang. ”Kami menyajikan musik dengan kisah-kisah unik. Video klipnya kami konsep sesuai genre gothic dengan nuansa kegelapan,” jelasnya. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news