31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Sejumlah Pengendara Nekat Melawan Arus

SEMARANG – Hari pertama pemberlakuan jalan serah di Jalan MT Haryono mulai simpang Sompok hingga perempatan Bangkong dan Bundaran Taman KB Jalan Menteri Supeno, Kamis (5/1) kemarin, masih banyak ditemui pelanggaran. Sejumlah pengendara motor dan mobil masih nekat melawan arus. Hal ini bisa ditemui di Jalan MT Haryono, tepatnya di depan Bank Mayapada dan Rumah Makan Gama Bangkong. Mereka nekat melawan arus dengan berbelok ke Jalan Siwalan. Kondisi jalan juga masih tampak semrawut lantaran banyak mobil yang diparkir hingga ke badan jalan.

Seorang pengendara motor, Junaedi, nekat melawan arus karena untuk mempersingkat waktu. ”Kebetulan saya mau ke Wonodri, kalau memutar lewat Jalan Ahmad Yani kan kejauhan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurut Junaedi, setelah pemberlakuan jalan searah di ruas jalan yang terkenal dengan nama Jalan Mataram ini, seharusnya jalur lambat di kanan kiri jalan difungsikan. Selama ini, jalur lambat itu dipakai sebagai parkir mobil karyawan kantor dan pengunjung rumah makan dan toko di kawasan tersebut.

”Seperti jalur lambat di Jalan MT Haryono mulai perempatan Bangkong hingga arah Bubakan kan difungsikan maksimal. Sehingga kalau kita kebablasen, tidak harus muter, cukup balik arah lewat jalur lambat,” ujarnya.

RAMBU LARANGAN: Pemasangan rambu larangan belok kiri di depan Kantor Pos Bangkong. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAMBU LARANGAN: Pemasangan rambu larangan belok kiri di depan Kantor Pos Bangkong. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kasat Lantas Polrestabes Semarang, AKBP Catur Gatot Efendi mengatakan, pemberlakuan jalan satu arah di sejumlah jalan protokol lantaran arus lalu lintas saat ini sudah terlalu krodit. Terutama di jalur utama Jalan Gajahmada, MH Thamrin, dan Pemuda. Dari data yang ada, dalam waktu satu tahun pertumbuhan kendaraan mencapai 10 persen.

”Jika dikalkulasi setiap bulan terjadi penambahan kendaraan roda dua maupun roda empat sebesar 3.000 kendaraan. Sedangkan jalan di Kota Semarang tidak ada pelebaran,” ungkapnya saat kegiatan pemberlakuan jalan searah MT Haryono, Kamis (5/1) kemarin.
Hal tersebut membuat Jajaran Satlantas Polrestabes bersama Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Semarang bersama Pemerintah Kota Semarang mengambil kebijakan mengubah sejumlah jalan protokol menjadi jalan satu arah.

”Hari pertama pemberlakuan jalan satu arah di dua tempat hari ini (kemarin), ada beberapa evaluasi, di antaranya marka jalan yang perlu diperbaiki garisnya, lampu traffic light yang perlu diubah durasi lampu merah, dan median jalan yang perlu diperbaiki,” bebernya.

Dikatakan, selama sosialisasi jalan satu arah ini, pihaknya belum melakukan penindakan bagi pengguna jalan yang melanggar lalu lintas. Penindakan baru akan dilakukan setelah 100 hari pemberlakuan jalan satu arah dimulai. ”Kami masih melakukan uji coba. Nanti akan dievaluasi agar berjalan efektif dan efisien,” katanya di sela memasang rambu dilarang belok kiri di depan Kantor Pos Bangkong.

MELAWAN ARUS: Sejumlah pengendara motor dan mobil nekat melawan arus di Jalan MT Haryono. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MELAWAN ARUS: Sejumlah pengendara motor dan mobil nekat melawan arus di Jalan MT Haryono. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Catur menambahkan, setelah dua jalan tersebut, pada Febuari 2017 mendatang rencananya juga akan diberlakukan jalan satu arah di enam titik, yakni Jalan Imam Bonjol,  Jalan Pemuda, Jalan MH Thamrin, Jalan Gajahmada, Jalan Veteran, dan Jalan Kyai Saleh.

Namun pemberlakuan tersebut belum bisa dipastikan, karena masih akan berkoordinasi dengan Dishubkominfo Kota Semarang. Hal ini dikarenakan titik jalan yang dibuat satu arah sangat banyak. Karena itu perlu sosialisasi secara intens. ”Kami berikan sosialisasi melalui pamflet-pamflet,” ujarnya.

Plt Kepala Dishubkominfo Kota Semarang, Triwibowo, mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi penerapan jalan satu arah di Jalan MT Haryono dan Bundaran Jalan Taman Menteri Supeno. Evaluasi tersebut bertujuan untuk mengetahui respons dari masyarakat. ”Kalau nanti respons masyarakat bagus, maka akan diberlakukan jalan satu arah yang lainnya,” katanya.

Pihaknya juga akan melengkapi fasilitas di dua titik yang diberlakukan jalan satu arah, yakni pengecatan kembali garis marka, lampu bangjo yang perlu disesuaikan kembali waktunya, serta median jalan yang perlu dipapras. ”Hal ini diharapkan dapat memaksimalkan jalan tanpa harus dilakukan pelebaran,” ujarnya.

Triwibowo menambahkan, dengan adanya pemberlakuan satu jalur, maka terdapat perubahan trayek angkutan umum. Perubahan tersebut menjadi prioritas yang dipikirikan oleh pihak Dihubkominfo Kota Semarang. ”Perubahan trayek ada, tapi tidak terlalu signifikan. Kami prioritaskan angkutan umum agar tidak berputar terlalu jauh,” katanya.

Linggar, petugas keamanan showroom komputer di Jalan MT Haryono setuju dengan pemberlakuan jalan satu arah di depan tempat kerjanya. Sebab, dengan jalan satu arah, arus kendaraan bisa menjadi lebih lancar, meskipun belum sepenuhnya.

”Kalau saya yang penting lancar. Kalaupun harus muter pun tidak masalah, daripada macet parah seperti sebelumnya. Tapi tadi sekitar jam makan siang masih sedikit krodit. Beberapa kendaraan keluar masuk di rumah makan membuat jalanan sedikit terganggu,” ujarnya.

Selain kendaraan yang keluar masuk rumah makan, kemacetan juga dipicu oleh banyaknya mobil yang diparkir hingga memakan bahu jalan. Parkir kendaraan, bisa sampai dua shaf sehingga mengganggu kelancaran arus lalu lintas. ”Kalau parkir bisa diatasi mungkin akan lebih baik lagi. Kasusnya sama seperti di Jalan Sriwijaya, parkirnya sampai makan badan jalan,” katanya.

Hal senada diungkapkan Ismail, siswa SMA Islam Sultan Agung Semarang. Ia juga setuju diberlakukan jalan dua arah, meskipun untuk berangkat sekolah dirinya harus memutar terlebih dahulu. Menurutnya, dengan sistem satu arah, lalu lintas di Jalan MT Haryono tidak  semrawut lagi.

”Kendalanya ya agak lama saja untuk pergi ke sekolah, soalnya harus muter. Yang rumahnya  Kedungmundu, pas pulang juga harus muter. Tapi, tidak apa-apa, supaya nggak macet saja, demi kenyamanan bersama,” ujarnya.

Pengamat transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengatakan, sebenarnya beberapa ruas jalan yang akan dibuat satu arah, dulunya pernah diberlakuan sistem satu arah. Seperti Jalan Imam Bonjol, Jalan Piere Tendean, Jalan Thamrin dan Jalan Gajahmada.

Kebijakan arus satu arah ini, ujarnya, bertujuan untuk melancarkan laju arus kendaraan bermotor. Namun yang perlu diperhatikan juga, kata dia, banyaknya gangguan samping atau side friction juga dapat menghambat gerak kendaraan.

”Gangguan samping yang cukup besar pengaruhnya yakni aktivitas parkir di tepi jalan. Parkir di tepi jalan menyita ruang jalan sekitar 30-50 persen kapasitas jalan yang ada. Kerugian yang ditimbulkan pun tidak sebanding dengan pendapatan dari retribusi parkir yang diterima,” katanya.

Untuk mengurangi aktivitas parkir tersebut, ia menyarankan agar dibuatkan kantong-kantong parkir. Adanya kantong parkir, menurutnya, akan meningkatkan PAD dari retribusi parkir, menertibkan aktivitas parkir, dan yang paling utama mengembalikan fungsi jalan.

”Agar aktivitas ekonomi di sepanjang jalan searah tidak berkurang drastis, perlu contra flow untuk transportasi umum,” ujarnya.

Hingga Kamis (5/1) sore, petugas Satlantas dan Dishubkominfo masih berjaga di beberapa titik, mereka memberitahukan masyarakat bahwa Jalan MT Haryono sudah diberlakukan sistem satu arah.

”Hari pertama masih banyak yang belum tahu. Banyak yang masih mengira jalan ini diberlakukan dua arah,” ujar Yudha, anggota Satlantas Polrestabes Semarang. (mha/sga/aro/ce1)

Latest news

Related news