31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Kalangan Perempuan Lebih Siap Bercerai

“Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) atau kekejaman jasmani, juga menjadi salah satu faktor perceraian meskipun tidak banyak, hanya 4 perkara yang kami data,” Panitera Muda Permohonan Pengadilan Agama Kota Pekalongan, Mamnukhin

PEKALONGAN-Angka perceraian selama tahun 2016 terbilang tinggi. Berdasarkan jumlah perkara di Pengadilan Agama (PA) Kota Pekalongan pada tahun 2015 tercatat sebanyak 430 perkara perceraian. Di tahun 2016 meningkat menjadi 496 perkara yang terdaftar.

Sejumlah perkara perceraian tersebut, perceraian yang diajukan pihak istri (cerai gugat) sebanyak 357 perkara, artinya lebih banyak daripada jumlah perceraian yang diajukan pihak suami (talak) yakni 139 perkara.

Panitera Muda Permohonan PA Kota Pekalongan, Mamnukhin, menjelaskan bahwa kasus perceraian di Kota Pekalongan paling banyak disebabkan oleh faktor tidak ada tanggung jawab yang dilakukan oleh suami. Hal demikian yang membuat kasus perceraian lebih banyak diajukan oleh pihak istri.

“Ada 216 perkara perceraian yang disebabkan oleh faktor tersebut. Biasanya pihak terkait kurang memiliki sikap yang dewasa dalam menghadapi permasalahan keluarga, karena kebanyakan mereka nikah di usia dini,” terannya, Rabu (4/1) kemarin.

Faktor lain seperti ekonomi, lanjutnya, juga menjadi faktor kedua penyebab perceraian dengan 70 kasus. Tidak ada keharmonisan, selisih pendapat, cekcok, bahkan gangguan pihak ketiga juga cukup banyak dengan jumlah masing-masing 60 dan 39. Selebihnya ada yang dikarenakan faktor cemburu, krisis akhlak, kawin paksa, dihukum, maupun cacat biolagis.

“Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) atau kekejaman jasmani, juga menjadi salah satu faktor perceraian meskipun tidak banyak, hanya 4 perkara yang kami data,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa usia pihak yang bercerai antara 25-40 tahun. Menurutnya, usia-usia tersebut sangat rawan memiliki sifat labil dan belum matang. Karena kebanyakan yang bercerai berprofesi sebagai karyawan atau buruh yang penghasilannya masih minim. “Seumur itu tingkat kedewasaan memang belum matang. Bahkan penghasilan pun belum stabil,” cetusnya.

Sementara itu, perceraian di kalangan menengah ke atas juga terjadi, biasanya disebabkan faktor perselingkuhan dan krisis moral lainnya. Ia juga menyebutkan selama tahun 2016, PA Kota Pekalongan mengeluarkan surat dispensasi pernikahan dini sebanyak 8 perkara. Kebanyakan usia pemohon belum mencapai usia pernikahan yakni baru berusia 14-15 tahun, baik untuk laki-laki maupun perempuan. (tin/ida)

Latest news

Related news