31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Selesai Dibangun, 9 Pasar Belum Ditempati Pedagang

SEMARANG – Sebanyak sembilan pasar tradisional di Kota Semarang hingga Januari 2017 ini belum ditempati pedagang. Padahal sembilan pasar tradisional tersebut telah selesai dibangun. Dinas Pasar Kota Semarang yang sekarang berubah menjadi Dinas Perdagangan Kota Semarang menargetkan hingga 31 Januari 2017 mendatang, sembilan pasar tersebut harus sudah ditempati pedagang.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, sebagai pejabat baru mengaku memiliki tanggung jawab berat untuk menyelesaikan persoalan pasar di Kota Semarang.

”Ada sembilan pasar yang sudah selesai dibangun, tetapi belum ditempati. Kami sudah menargetkan hingga 31 Januari mendatang, pedagang harus sudah menempati pasar,” kata Fajar saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (4/1).

Dikatakannya, sejauh ini masih menerima keluhan-keluhan pedagang, sehingga tidak mau menempati pasar yang sudah dibangun. ”Biasanya, keluhan pedagang terkait dengan luasan kios dan fasilitas. Makanya, nanti pedagang akan kami kumpulkan untuk mengetahui apa keinginan pedagang,” ujarnya.

Fajar meminta, agar semua pedagang segera menempati bangunan pasar yang telah dibangun. ”Yang penting harus masuk dulu. Pemkot Semarang sudah membangun pasar dengan biaya besar. Jika memang ada fasilitas yang kurang, nanti akan kami perbaiki dengan mengajukan anggaran,” katanya.

Kesembilan pasar tersebut adalah Pasar Pedurungan, Pasar Peterongan, Pasar Suryokusumo, Pasar Waru, Pasar Bulu, Pasar Wonodri, Pasar Genuk, Pasar Rejomulyo, dan Pasar Rasamala.

Diakui, sejumlah pedagang masih enggan menempati pasar tersebut. Padahal bangunan pasar yang dibangun tersebut telah diberikan secara gratis kepada pedagang. ”Pasar Bulu misalnya, menghabiskan biaya kurang lebih Rp 70 miliar. Jangan sampai pengelolaannya tidak maksimal, apalagi sampai nganggur,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya mengaku akan memberi waktu kepada pedagang untuk segera menempati bangunan pasar yang telah dibangun tersebut. ”Kami akan beri peringatan sampai tiga kali hingga 31 Januari. Apabila pedagang tidak mau menempati kios yang telah disediakan, maka kami akan melakukan sikap tegas. Status kios akan kami tarik,” tegasnya.

Untuk Pasar Rejomulyo, jika memang pedagang merasa ada fasilitas yang kurang, pihaknya akan memperbaiki sesuai dengan keinginan pedagang. ”Namun akan kami anggarkan terlebih dahulu. Yang penting pedagang menempati pasar dulu,” katanya.

Ia menegaskan, semua kios pasar tidak dipungut biaya sepeser pun. Apabila ada oknum dinas yang berani melakukan praktik jual beli kios, maka pihaknya mengaku tidak segan-segan mengambil tindakan tegas. ”Jangan sampai ada oknum dinas jual beli kios. Kami tidak akan menolerir,” tegasnya.

Karena itu, Fajar meminta agar semua pihak membantu untuk program revitalisasi pasar tradisional di Kota Semarang. ”Pemkot Semarang terus berusaha melakukan perbaikan fasilitas dan merevitalisasi pasar agar lebih modern dan nyaman untuk kegiatan perdagangan. Kami ingin menjadikan pasar kembali hidup dan menjadi primadona di Kota Semarang,” katanya.

Ketua Bidang Advokasi Hukum Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Kota Semarang, Zaenal Abidin Petir, mengatakan, jika Pemkot Semarang serius membangun pasar harus melibatkan pedagang. Agar hasilnya sesuai haraan. ”Pada prinsipnya, para pedagang siap pindah ke pasar yang baru. Tetapi tempat baru tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik pasar tersebut. Termasuk keinginan pedagang,” ujarnya.

Zaenal mencontohkan, perencanaan Pasar Rejomulyo yang baru tidak sesuai dengan karakter pedagang ikan basah. Misalnya, minimnya fasilitas air, los pedagang ikan gereh yang tidak layak ditempati, lahan parkir untuk bongkar-muat ikan sempit, lantai pasar yang licin, dan sebagainya. Selama ini, kata dia, pedagang tidak mau menempati lantaran pembangunan pasar tidak sesuai dengan kebutuhan pedagang. ”Sehingga ini masih menjadi persoalan bagi pedagang,” katanya.

Ia menjelaskan, lantai di Pasar Rejomulyo dibangun menggunakan keramik. Ini sangat tidak sesuai dengan karakter dan kebutuhan. Jika menggunakan keramik, ikan gereh itu cepat busuk. Seharusnya menggunakan bahan kayu. ”Saat melakukan proses pembangunan tidak melibatkan pedagang, sehingga begitu bangunan jadi, justru tidak sesuai harapan,” ujarnya. (amu/aro/ce1)

Latest news

Related news