Jadi Ajang Sharing dan Praktik Ilmu yang Dipelajari

  • Bagikan

Para arsitek dan mahasiswa arsitektur di Kota Semarang membentuk komunitas. Namanya  Komunitas Arsitektur Semarang (KAS). Tak hanya sebagai ajang sharing, KAS juga kerap bekerja sama dengan sejumlah instansi mengadakan kegiatan sosial berupa pembangunan fasilitas untuk masyarakat. Seperti apa?

FIRAS DALIL

PARA akademisi membutuhkan wadah khususnya untuk mempraktikkan ilmu yang dipelajari, sekaligus mencari pengalaman. Inilah yang menjadi latar belakang berdirinya Komunitas Arsitektur Semarang (KAS) yang diprakarsai para praktisi maupun akademisi dari bidang arsitektur.

”Komunitas Arsitektur Semarang merupakan wadah bagi kalangan arsitek Semarang, entah mahasiswa maupun praktisi untuk berkreasi di luar rutinitasnya,” kata Marthian Sularso, anggota KAS, yang masih tercatat sebagai mahasiswa Teknik Arsitektur Unika Soegijapranata kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Marthian Sularso menjelaskan, KAS didirikan pada Juli 2016 lalu. Sekarang KAS memiliki 15 anggota, terdiri atas mahasiswa maupun praktisi yang menggeluti dunia arsitektur.

Menurut Marthian, ilmu arsitektur yang dipelajari di kampus hanyalah sebagian kecil dari dunia arstitektur. Selebihnya, arsitektur dalam praktiknya mempertimbangkan beragam aspek, seperti masyarakat, budaya, sejarah, lingkungan hingga politik. Hal tersebut menjadi salah satu yang melatarbelakangi berdirinya KAS sebagai forum diskusi bagi para arsitek.

Tidak sekadar kumpul-kumpul dan diskusi belaka, KAS juga menunjukkan keseriusan eksistensinya dengan menjalankan program hasil kerja sama dengan lembaga di Semarang. Salah satunya proyek pembuatan Rumah Inspirasi Buruh. Proyek ini sudah dimulai sejak 7 September 2016 lalu, dan merupakan hasil kerja sama KAS bersama Lembaga Pendamping Usaha Buruh, Tani dan Nelayan (LPUBTN), Keuskupan Agung Semarang, serta pemerintah setempat.

”Program ini juga merupakan program dari LPUBTN. Awalnya saya diminta tolong oleh Pak Pudji dari LPUBTN yang juga warga kawasan industri Banjardowo. Program ini namanya Rumah Inspirasi Buruh, rumah di sini bukan sebagai ruang hunian tapi sebagai ruang berkumpul, jadi di satu area itu nanti akan ada tempat-tempat workshop keterampilan seperti menjahit sampai menanam. Jadi, tujuannya lebih ke bagaimana akhirnya memberdayakan teman-teman buruh ini agar memiliki keterampilan lain. Saat ini pembangunannya masih dalam progres,” beber Ondang Ghifari, anggota KAS yang tercatat sebagai mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro (Undip).

ASAH SKILL: Anggota Komunitas Arsitektur Semarang dalam membuat karya arsitektur dari bahan bambu di Taman KB Jalan Menteri Supeno. (DOKUMEN KAS)
ASAH SKILL: Anggota Komunitas Arsitektur Semarang dalam membuat karya arsitektur dari bahan bambu di Taman KB Jalan Menteri Supeno. (DOKUMEN KAS)

Rumah Inspirasi Buruh ini memang dikhususkan untuk para buruh di wilayah industri Banjardowo agar mereka memiliki keterampilan lain. ”Diharapkan, buruh yang didominasi oleh perempuan memiliki keterampilan yang nantinya dapat menjadi modal untuk membuka usaha mandiri,” katanya.

Rumah ini akan didirikan pada dua tempat di areal industri Banjardowo, yakni di lahan yang tidak terpakai di belakang Gereja Santo Ignatius Banjardowo.  Harapannya, buruh yang telah keluar atau di-PHK tidak perlu bingung lagi untuk mencari penghasilan.

Dengan modal keterampilan yang mereka terima dari kegiatan-kegiatan pelatihan di Rumah Inspirasi Buruh, lanjut dia, diharapkan para buruh ini dapat memulai usahanya. Bahkan LPUBTN dan KAS berharap para buruh ada yang memulai untuk menjalankan usahanya dan memutuskan untuk berhenti menjadi buruh.

Selain proyek tersebut, KAS juga rutin menggelar diskusi untuk memperkaya wawasan dari para anggotanya. Diskusi tidak melulu membahas tentang desain dan bangunan, KAS kadang membicarakan tentang aspek-aspek lain yang juga mendukung praktik dari ilmu yang mereka pelajari. Perkembangan budaya dan teknologi membuat bahan-bahan diskusi mereka ini menjadi lebih banyak dan beragam. Bahkan Marthian mengakui KAS kerap berdiskusi semalaman suntuk karena luasnya dunia arsitektur itu sendiri.

”Ilmu pengetahuan ini kan bisa menjadi bahan yang bisa dikulik lagi, karena semuanya juga pasti berkembang. Kalau diskusi itu bisa sampai 3 kali dalam sebulan. Sekali diskusi bisa berjam-jam, karena bagi kami, arsitektur itu sangat luas sekali, banyak aspek yang memengaruhi,” paparnya.

Ondang menilai arsitektur memiliki ciri khas yang menjadi identitas dari suatu daerah. Ciri khas dari arsitektur bangunan tersebut tentunya terpengaruh dari masyarakat, lingkungan, dan kebudayaan yang ada di dalamnya. Sementara masyarakat dan kebudayaan sendiri seiring waktu dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Ia juga menuturkan bahwa arsitektur sendiri dapat menunjukkan zamannya dari bangunan tersebut.

Ondang menambahkan, Komunitas Arsitektur Semarang juga pernah ikut memamerkan karya mereka di Pandanaran Art Festival 2016 lalu. KAS membuat bangunan unik dengan bahan sederhana dari tirai dan bambu. ”Kalau di Pandanaran Art Fest itu hanya project untuk senang-senang sih. Kan kebetulan kita diberi tempat untuk berkarya, dibiayai, dan difasilitasi juga,” ujar Ondang.

KAS juga kerap melakukan Ekskursi atau istilah dalam dunia arsitektur melakukan survei dan mencari referensi di sekitar tempat yang akan didirikan bangunan. KAS juga sering menonton dan diskusi mengenai film dokumenter yang ada hubungannya dengan arsitektur.

Selain itu, lanjut dia, KAS juga sedang mempersiapkan program jangka menengah, yakni untuk mengenalkan arsitektur kepada anak-anak SMA sederajat. Hal ini mereka lakukan setelah melihat pemahaman mengenai jurusan arsitektur sendiri untuk anak SMA masih sangat kurang.

”Jadi kami ingin memperkenalkan kepada anak-anak SMA bahwa jurusan arsitektur bukan sekadar bisa menggambar dan mendesain, tapi juga perlu memahami aspek-aspek yang lain. Terlebih lagi, arsitektur juga berkembang dengan software yang juga beragam. Harapannya, dari kegiatan ini, teman-teman yang masih SMA lebih paham mengenai arsitektur sehingga mereka tidak salah jurusan nantinya,” jelas Ondang

Ke depan, baik Ondang maupun Marthian berharap Komunitas Arsitektur Semarang dapat menjadi pusat berkembangnya ilmu arsitektur di Semarang. ”Harapannya dengan adanya KAS ini para arsitek muda dan mereka yang ingin mempelajari arsitektur tidak hanya memandang bahwa arsitektur adalah ilmu yang terbatas pada pembuatan dan perancangan bangunan. Tapi, dari situ kita juga merancang lingkungan masyarakat itu sendiri,” pungkasnya. (*/aro/ce1)

  • Bagikan