SEMARANG — Selain kerap mengalami kecelakaan, armada Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang ternyata banyak yang kondisinya bobrok. Ini seperti yang tampak di BRT koridor II, Terboyo-Sisemut Ungaran saat melintas di Jalan Pemuda, kemarin (2/1). Bus warna biru itu sudah keropos di bagian bodi dan atapnya.

Ironisnya, saat bus berjalan, pintu tidak tertutup, hingga tampak sejumlah penumpang berdiri bergelantungan di dekat pintu layaknya bus kota pada umumnya. Tentu saja, ini mengurangi kenyamanan dan keamanan penumpangnya. Apalagi armada BRT Trans Semarang dilengkapi mesin pendingin atau AC.

”Kalau pintunya dibuka seperti itu, percuma dipasang AC,” kata Raditya, warga yang melihat bus BRT dengan pintu terbuka saat melintas di Jalan Pemuda, depan Mal Paragon.

Belum diketahui kenapa pintu BRT dibiarkan terbuka meski dalam keadaan berjalan. Ada dugaan, pintu BRT rusak, atau mesin pendinginnya (AC) trobel. Sehingga pintu dibiarkan terbuka agar para penumpangnya tidak kepanasan.

Pengamat transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengatakan, jika kondisi BRT seperti itu, maka telah melanggar Standar Pelayanan Minimal (SPM). Sebab, dalam kondisi pintu terbuka, seharusnya bus tidak boleh dijalankan. ”Sebab, ini menyangkut kenyamanan dan keselamatan penumpang. Berarti kalau ada kejadian seperti ini harus diambil tindakan. Harus diberi sanksi,” tegasnya. ”Sekarang bus pakai AC, masak pintu dibuka?” sambungnya.

Ia menambahkan, baik regulator maupun operator BRT Trans Semarang harus ditegur agar menaati aturan yang ada. Ia menduga, Dishubkominfo Kota Semarang tidak memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) jika memang bus dalam keadaan pintu terbuka tetap dijalankan.

”Karena SPM itu kan nasional. Kalau ada kejadian bus nggak ada pintunya, berarti tidak ada SOP-nya kan? Lagi pula, di setiap shelter kan ada operatornya. Harusnya bisa melaporkan kalau terjadi kerusakan. Kalau seperti ini, apa bedanya sama angkot?” sindirnya.

Menurut Djoko, kondisi tersebut akan memperburuk citra angkutan umum di Kota Semarang. Sebab, BRT Trans Semarang kehadirannya untuk memperbaiki image transportasi umum di Kota Lunpia. Tapi yang ada, justru terkesan dijalankan dengan asal-asalan. ”Adanya BRT kan salah satu upaya untuk mengubah image bahwa transportasi Kota Semarang itu baik, nyaman, dan mengutamakan keselamatan,” katanya.

Terkait pintu BRT Trans Semarang yang dibiarkan terbuka ini, pernah dialami Rena, warga Semarang. Ketika naik BRT, kata Rena, tiba-tiba AC bus rusak. Sehingga penumpang merasa kepanasan. Kondisi ini membuat petugas memutuskan untuk membuka pintu BRT meskipun bus dalam keadaan berjalan. Bahkan, BRT itu akhirnya tidak menerima penumpang lagi dalam perjalanan selanjutnya hingga ke titik pemberhentian akhir.

”Setiap ada penumpang di shelter yang dilewati disuruh naik bus berikutnya. Mungkin bus yang saya naiki itu mau langsung ngandang, sehingga menghabiskan penumpang yang ada dulu,” ujar Rena.

Selain AC bus BRT mati, Rena juga pernah mengalami BRT yang mesin AC-nya bocor. Sehingga air dari mesin AC menetes membasahi kursi penumpang. ”Akhirnya mesin AC dimatikan, dan pintu dibuka selama bus berjalan. Sebab, kalau nggak dibuka, penumpang akan kepanasan,” katanya.

Manajer Operasional BRT Trans Semarang, Mulyadi, saat dikonfirmasi soal pintu terbuka ini, belum mengetahui terkait permasalahan tersebut. ”Belum ada laporan masuk tentang hal tersebut, Mas. Besok coba saya cari info dulu njih,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Senin (2/1) malam.

Ia juga enggan memberikan keterangan terkait terbukanya pintu BRT meski dalam keadaan berjalan. ”Belum tahu kalau masalah itu, saya juga tidak bisa mengira-ngira, soalnya belum ada laporan. Besok akan diselidiki dan cari info dulu,” kilahnya. (sga/den/aro/ce1)