31 C
Semarang
Kamis, 13 Mei 2021

Dua Proyek BPBD Mangkrak

KAJEN –  Dua proyek rehabilitas dan rekonstruksi penanggulangan bencana rob senilai Rp 11,7 miliar di Desa Wonokerto Wetan dan Desa Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan mangkrak. Proyek milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan itu tidak bisa digunakan secara maksimal. Pihak rekanan tidak mampu mengerjakan proyek tersebut sampai selesai.

Seperti proyek rehabilitas dan rekonstruksi penanggulangan bencana rob di Desa Pecakaran senilai Rp 2,1 miliar yang dikerjakan oleh CV Temu Redjeh, hanya mampu dikerjakan 56 persen. Sehingga proyek pembuatan jalan tembus berupa pavingisasi dan pelebaran jalan, nyaris tidak bisa digunakan. Karena jalan terputus dan tergenang oleh banjir rob.

Padahal BPBD Kabupaten Pekalongan telah memberikan perpanjangan waktu pengerjaan hingga satu bulan, sesuai dengan keinginan dari pihak rekanan CV Temu Redjeh. Namun rekanan tetap tidak mampu menyelesaikan proyek tersebut.

Direktur CV Temu Redjeh, Ahmad Yudhi, mengungkapkan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi penanggulangan bencana rob, berupa pekerjaan pavingisasi di Desa Pecakaran, sulit dikerjakan. Karena BPBD Kabupaten Pekalongan salah dalam pembuatan perencanaan.

Menurutnya pada perencanaan dari BPBD untuk pengurukan lahan banjir rob, hanya membutuhkan tanah urukan sedalam 0,5 meter. Namun pada kenyataannya lebih dari 1 hingga 2 meter. Sehingga banyak pekerjaan yang membutuhkan waktu lebih lama, dan biaya lebih mahal.

“Dari BPBD nya sudah salah perencanaan dulu, sehingga proyek rehabilitasi dan rekonstruksi penanggulangan bencana rob di Desa Pecakaran, tidak mampu kami kerjakan hingga tuntas,” ungkap Yudi.

Hal serupa juga dikatakan oleh Direktur CV Maeka Mandiri, Noval Maeka, pelaksana proyek rehabilitasi dan rekonstruksi penanggulangan bencana rob, berupa ridgid atau betonisasi sepanjang 3 kilometer, di Desa Wonokerto Wetan. Dia mengeluhkan sulitnya lokasi betonisasi, mengakibatkan pengerjaan beton sulit dilakukan.

Menurutnya kondisi banjir rob yang sering terjadi, membuat pekerjaan pengecoran sering gagal dilakukan, meski sepanjang lokasi tepi sungai telah dilakukan pembuatan tanggul, dan penyedotan air.

“Kami hanya mampu menyelesaikan 85 persen pekerjaan, karena sulitnya medan di lokasi. Karena tenaga kerja dan peralatan telah kami kerahkan secara maksimal, faktor alam yang tidak bisa kami tanggulangi, yakni banjir rob yang sering datang secara tiba-tiba,” kata Noval.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Djatmiko menegaskan dari 5 proyek rehabilitasi dan rekonstruksi penanggulangan bencana rob, di Kecamatan Wonokerto, hanya dua proyek yang akhirya harus diputus kontrak karena tidak selesai dalam pengerjaannya, yakni di Desa Wonokerto Wetan berupa betonisasi senilai Rp 8,9 miliar, dan pavingisasi senilai Rp 2,1 miliar di Desa Pecakaran.

Menurutnya agar kedua proyek rehabilitas dan rekonstruksi penanggulangan bencana rob, di Kecamatan Wonokerto, dapat digunakan dan tidak mangkrak. Maka BPBD Kabupaten Pekalongan, akan mengajukan anggaran kembali ke Bupati untuk menyelesaikan proyek tersebut. (thd/ric)

Latest news

Related news