Inventarisasi Pohon, Jadikan Aset Pemkot

  • Bagikan

SEMARANG – Manajemen pengelolaan pohon di Kota Semarang perlu ditingkatkan. Mengingat sudah banyak korban yang berjatuhan akibat tertimpa pohon tumbang.

Kejadian terakhir menimpa mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang (UNNES), Abdul Habib, asal Sumber Agung Kecamatan Megaluh Jombang Jawa Timur. Ia menjadi korban pohon tumbang di daerah Jalan Indraprasta dekat Stasiun Poncol Semarang pada Sabtu (17/12) lalu. Sempat dirawat di RSUP dr Kariadi, namun akhirnya meninggal Jumat (30/12). Ini menambah catatan adanya kejadian pohon tumbang yang mengakibatkan nyawa pengendara terenggut di Kota Semarang.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang Ulfi Imran Basuki mengatakan, pengelolaan maupun perawatan pohon di tepi jalan sejauh ini telah dilakukan secara rutin. Namun demikian, saking banyaknya jumlah pohon di Kota Semarang membuat pihaknya seringkali kewalahan.

”Kami meminta masyarakat agar bisa memberi informasi apabila ada pohon yang kondisinya (membahayakan) untuk melaporkan kepada kami. Kalau layak dipotong ya dipotong. Soalnya kami juga hati-hati,” kata Ulfi, Senin (2/1).

Dikatakannya, pohon-pohon perlu dirapikan agar tidak membahayakan pengendara yang melintas. Selain melakukan pemotongan pohon—bila diperlukan, pihaknya juga melakukan penanaman pohon sebanyak-banyaknya. ”Kami kan juga menanam pohon sebanyak-banyaknya karena kebutuhan lingkungan. Tentunya agar suhu udara terjaga baik. Seringkali ada orang-orang yang asal potong,” katanya.

WASPADA: Pemkot Semarang harus melakukan inventarisir pohon-pohon yang rapuh dan sekiranya membahayakan pengguna jalan. Sebuah pohon di kawasan Banjir Kanal Barat (BKB) tumbang, beberapa waktu lalu. (DOK)
WASPADA: Pemkot Semarang harus melakukan inventarisir pohon-pohon yang rapuh dan sekiranya membahayakan pengguna jalan. Sebuah pohon di kawasan Banjir Kanal Barat (BKB) tumbang, beberapa waktu lalu. (DOK)

Adanya pohon tumbang, kata Ulfi, biasanya dipengaruhi beberapa sebabnya. Paling banyak terjadi karena cuaca ekstrem, misalnya hujan deras disertai angin kencang. ”Atau terkena dampak proyek pembangunan, misalnya akar pohon ada yang terpotong. Sehingga menyebabkan pohon tersebut roboh,” katanya.

Tetapi pada prinsipnya, lanjut Ulfi, pemeliharaan pohon di Kota Semarang dilakukan secara rutin. Namun pihaknya mengakui sejauh ini pendataan jumlah pohon belum maksimal. ”Pendataan pohon baru dimulai 2017 ini. Sudah ada Perda (Peraturan Daerah) baru tentang RTH (Ruang Terbuka Hijau). Sudah kami anggarkan untuk inventarisasi pohon di Kota Semarang. Nanti semua pohon dicatat dan diberi nomor untuk kemudian menjadi aset milik Pemkot Semarang,” katanya.
Maka dari itu, pihaknya mengaku sedang merapikan pohon-pohon di tepi jalanan Kota Semarang agar lebih efektif. ”Manajemen pengelolaan pohon kami lakukan penataan agar lebih baik. Maka 2017 ini kami minta tolong konsultan,” katanya.

Terhadap korban pohon tumbang, lanjut Ulfi, Pemerintah Kota Semarang juga akan memberikan bantuan bersifat tali asih. ”Bantuan diberikan melalui BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Semarang. Sejumlah korban tertimpa pohon yang terjadi beberapa waktu juga mendapatkan bantuan,” katanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang, Iwan Budi Setiawan mengatakan, pihaknya mengimbau apabila ada kejadian pohon tumbang terlebih mengakibatkan korban agar segera dilaporkan ke pihaknya.
”Jadi, setiap korban tertimpa pohon tumbang karena bencana mendapatkan bantuan tali asih dari Pemerintah Kota Semarang. Baik yang meninggal maupun yang luka-luka. Sesuai dengan aturan Perwal (Peraturan Wali Kota) yang baru, nilainya di atas Rp 4 juta,” katanya. (amu/zal/ce1)

  • Bagikan