31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Menyatu dengan RM Padang, Diburu Kolektor Kaset

Zaman digital telah memudahkan kehidupan di segala hal. Termasuk dalam mengakses musik via internet. Namun rupanya pencinta musik dari kaset pita masih tetap bertahan. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

DI Jalan KH Agus Salim Semarang, terdapat sebuah toko kaset pita yang hingga kini masih bertahan. Toko kaset pita tersebut menyatu dengan Rumah Makan Padang. Di toko ini, ribuan koleksi kaset pita tersusun dengan rapi. Kaset-kaset ini merupakan kaset dari kali pertama ada rekaman hingga rekaman terakhir pada 2012.

Pemilik toko kaset, Amir, mengatakan, awalnya, pada 1970-an dirinya sempat berjualan kaset pita di beberapa tempat. Hingga pada akhirnya ia dapat mendirikan toko di Jalan Agus Salim tersebut enam tahun setelahnya.

”Saya membuka toko di sini tahun 1976 atau sudah 40 tahun lalu. Dulu dianggap orang gila karena jualannya macem-macem. Ada kaset, sekaligus rumah makan dan lain-lain. Tapi sekarang konsep ini justru ditiru minimarket,” ujarnya sembari tertawa.

Ia menyadari zaman telah berubah ke digital. Namun ia tidak takut untuk tetap berjualan kaset pita. Ribuan koleksi kaset pita itu ia anggap sebagai harta karun. Amir ingin memfasilitasi orang-orang yang ingin bernostalgia, mengenang masa lalunya.

”Kalaupun ndak laku saya juga tidak rugi, karena sekarang yang utama adalah rumah makannya. Ini termasuk harta karun saya. Karena yang produksi sudah nggak ada, tapi kaset-kasetnya semua masih ada, dan saya juga masih ada. Kalaupun kasetnya masih ada dan saya sudah tidak ada, itu cerita lain lagi,” kata pemilik toko yang membagi display kaset di lantai satu untuk kaset penyanyi Indonesia dan di lantai dua untuk kaset penyanyi Barat.

Jika kebanyakan orang menjual barang langka dengan harga selangit, Amir tetap menjual kaset-kasetnya dengan harga bersahaja. Satu kaset ia patok dengan harga tertinggi Rp 20 ribu. Bahkan ada juga yang ia jual Rp 10 ribu dapat 3 tergantung kondisi kasetnya.

”Kalau yang lain jual bisa sampai ratusan ribu rupiah, apalagi kalau yang cari itu para kolektor. Di sini tetap sama. Katakanlah, orang makan di sini minta kaset pun saya kasih hahah,” ujar Amir setengah berkelakar.

Di toko yang menjadi satu dengan rumah makan padang ini, Amir masih menyediakan kaset mulai dari penyanyi kawakan seperti Lilis Suryani, Ebiet G Ade, Benyamin S, Doel Sumbang dan lainnya hingga penyanyi era milenium seperti grup musik Ungu, Samson, dan lainnya.

”Di sini kasetnya dari baru hingga bekas, semuanya masih ada. Baru dalam artian barang lama tapi bersegel. Soalnya kan memang sudah tidak diproduksi lagi. Tapi, kalau macam God Bless misalnya, itu sudah jarang,” timpal pria asal Bukittinggi, Sumatera Barat ini.

Selain menjualnya, ia juga sering memutar tembang-tembang kenangan dari kaset yang dimiliki di rumah makannya. Setiap pagi, ia juga memutar murattal (memutar kaset bacaan Alquran, Red), yang katanya untuk siraman rohani. Bukan untuk dirinya saja, namun juga untuk orang-orang di sekitar.

Tidak hanya orang Semarang yang mencari kaset-kaset pita di tempatnya. Bahkan ada orang dari Batam dan Pekanbaru yang girang ketika menemukan kaset yang mereka cari di toko milik Amir ini.

”Mereka sudah cari ke mana-mana tidak ada. Dan ketika dapat di sini, senang sekali mereka,” ujarnya dengan logat Bukittinggi yang amat kental.

Kurangnya peminat kaset pita akhir-akhir ini juga ia rasakan. Sempat pula Amir ikut bersaing di pasar online dengan menjual kaset-kaset miliknya di dunia maya. Namun, permintaan pembeli yang terkadang tidak masuk akal membuatnya kembali berjualan secara konvensional di toko miliknya.

”Kebanyakan yang datang ke sini 90 persen adalah generasi tua yang ingin memutar memori masa lalu. Semoga masih bisa jalan dan laku. Bagaimana juga masih ada yang senang. Buktinya masih ada yang cari,” harapnya. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news