33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Transportasi Umum Masih Menyiksa Difabel

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

TRANSPORTASI umum di Kota Semarang dinilai belum ramah terhadap difabel. Beberapa shelter Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang bahkan dinilai cukup menyiksa para difabel karena terlalu tinggi. Shelter yang tinggi tersebut, juga tidak disediakan ramp atau jalan landai untuk pengguna kursi roda.

”Untuk teman yang pakai kruk sangat tidak nyaman. Bahkan pernah ada yang sampai merangkak ketika harus naik BRT,” ujar Noviana Dibyantari Ketua Komunitas Sahabat Difabel Semarang kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia mengatakan, idealnya akses transportasi umum harus disediakan sarana penunjang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemerintah telah menyediakan transportasi yang benar-benar akses untuk disabilitas.

Selain transportasi umum, beberapa fasilitas publik dinilai masih belum ramah terhadap difabel. Ia mencontohkan, area pedestrian dan fasilitas umum lainnya yang hanya menonjolkan tampilan daripada aksesibilitas difabel.

”Idealnya ya semua area pedestrian dilengkapi dengan blind tile (keramik khusus) untuk tunanetra tanpa hambatan pot, pohon atau pembatas jalan,” katanya.

Akses pelayanan umum, lanjutnya, harus dilengkapi dengan ramp untuk kursi roda, serta tempat parkir untuk motor roda 3. Dan yang perlu diperhatikan, imbuhnya, akses pelayanan umum harus dilengkapi dengan toilet khusus untuk disabilitas.

Dari pertemuan yang diikuti, yaitu Pertemuan Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus dari kota dan kabupaten se-Indonesia yang diselenggarakan KPAA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak), serta menjadi narasumber untuk Camp Tuna Netra Lintas Iman yang  juga dari perwakilan beberapa kota di Indonesia, ia mendapati bahwa rata-rata semua kota memang masih belum akses untuk difabel. Hanya Jakarta, Solo, Surabaya dan Bandung yang pemerintahnya sudah mulai konsisten untuk memikirkan aksesibilitas difabel.

”Semarang masih sangat-sangat jauh dalam memperhatikan aksesibilitas difabel. Termasuk area pedestrian warna-warni yang saya lihat  belum ada blind tile untuk sedulur tunanetra. Saat di-posting di akun Instagram wali kota, langsung saya komentari, minta tolong agar pembangunan infrastruktur jangan lupa memperhatikan kepentingan sedulur difabel,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, hotel dan rumah makan juga masih belum akses untuk difabel. Beberapa bangunan besar di Kota Semarang, katanya, selalu ada tangga tetapi kebanyakan tidak dilengkapi ramp untuk akses kursi roda.

”Ini saya temui saat mencari lokasi untuk kegiatan makan bareng 1.000 anak duafa, yatim dan anak jalanan beberapa waktu lalu,” katanya.

”Begitu juga beberapa tempat wisata juga masih banyak yang belum akses difabel, termasuk rumah sakit yang hanya menyediakan kursi roda di Poli atau IGD saja,” tambahnya. (sga/aro/ce1)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Realisasikan Berobat Gratis, Hendi Raih Penghargaan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Pemerintah Pusat memberikan penghargaan kepada Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dalam ajang Universal Health Coverage (UHC) Award 2018. Penghargaan tersebut diberikan...

WTP Kota Salatiga Hasil Penilaian Murni

SALATIGA – Kota Salatiga menjadi salah satu kabupaten/kota yang memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Penyerahan LHP LKPD diserahkan...

Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pedesaan

RADARSEMARANG.COM, KAJEN - Guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan yang berada di sekitar hutan dan masyarakat luas pada umumnya dengan pengelolaan pemanfaat hutan, Bupati Pekalongan,...

Buat Kejar Paket Wajib Mengantongi NPSN

WONOSOBO—Ketiadaan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (juklak-juknis) yang menyulitkan penyelenggaraan sekolah Kejar Paket A,B,C di desa-desa, kemarin, menemui jawabannya. Kepala Bidang PAUD Dikmas Dikpora Wonosobo,...

Ingatkan Tak Sebar Hoax dan Persekusi

MUNGKID—Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Nasional Demokrat (Nasdem) KH Choirul Muna meminta masyarakat untuk tidak mudah menghujat, mencaci maki, bahkan mendiskreditkan seseorang melalui medsos...

Gali Peradaban di Lemah Abang

KAJEN- Penelitian batu purbakala yang diduga peninggalan zaman Mataram kuno abad 1, di Dusun Bogol, Desa Lemah Abang, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, terus dilakukan...