SOLO – Sudah dua edisi Bengawan Cup sukses digeber di Solo dalam kurun dua tahun terakhir. Setidaknya, sukses Bengawan Cup bisa memacu pemerhati sepak bola nasional pada umumnya dan Jawa Tengah khususnya untuk mempertahankan konsistensi kejuaraan tersebut. Bahkan kalau bisa menggugah PSSI sebagai otoritas sepak bola tertinggi di Tanah Air untuk mewadahi sepak bola wanita dalam sebuah kompetisi resmi.

Sebagai catatan, prestasi sepak bola wanita Indonesia di kancah internasional belum terlalu mengkilat. Pertama kali dibentuk pada 1977 silam, timnas wanita Indonesia belum pernah sekali pun tampil di ajang Piala Dunia. Prestasi tertinggi hanya runner-up Piala AFF pada 1982 dan 1985.

Di pentas SEA Games, prestasi tertinggi timnas putri hanya sampai semifinal pada 1997 dan 2001. Belakangan, kondisi sepak bola wanita sangat memprihatinkan. Ini disebabkan kurangnya perhatian dalam hal pembinaan dan pembibitan pemain. Plus tidak adanya kompetisi regular yang berjalan. Semisal ada, hanya turnamen singkat tanpa adanya jenjang promosi-degradasi.

”Harusnya ada kompetisi rutin tiap tahun untuk pemain-pemain wanita. Di hampir seluruh kota, sejatinya sudah punya klub dan pemainnya. Kenapa tidak dibuat liga seperti kompetisi kaum pria saja. Ini jadi pandangan besar yang perlu segera dibenahi,” terang Papat Yunisal, satu-satu wanita dalamn keanggotaan Komite Eksekutif (Exco) PSSI kepada Radar Solo.

Papat mencontohkan, Liga Wanita (Galanita) cukup jarang digelar. Tak heran, dia memberi apresiasi terhadap gelaran Bengawan Cup di Solo dan Bude Karwo di Kediri. Ini sebagai bukti bahwa sepak bola wanita banyak peminatny, serta punya potensi untuk berkembang di tiap-tiap kota.

”Jangan sampai kita tertinggal dari negara-negara lainnya. Terutama dalam sisi pengembangan sepak bola wanita,” tutur mantan pemain timnas era 80-an tersebut.

Dia mencontohkan lagi, Thailand sudah mencicipi panggung Piala Dunia wanita 2015 di Kanada. Negeri Gajah Putih ini sukses mengikuti jejak wakil Asia lainnya, seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang.

Terpisah, Indonesia memastikan berpartisipasi pada kejuaraan sepak bola wanita Asia Tenggara atau AFF Women Championship 2017 di Myanmar, Juli 2017. ”Ini jadi tugas bersama untuk mengembangkan wanita-wanita Indonesia agar bisa sukses membawa Indonesia berprestasi. Perlu ada regulasi kompetisi agar regenerasi juga berjalan baik dan pemain potensial muncul,” bebernya. (nik/fer)