31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Selama 2016, Ungkap 16 Kasus Narkoba

KENDAL- Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di Kendal masih relatif tinggi. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kendal sepanjang 2016 mengungkap 16 kasus dengan 20 tersangka penyalahgunaan narkoba jenis sabu dan obat daftar G. Rinciannya, untuk sabu delapan kasus dan obat daftar G delapan kasus. Adapun pelaku laki-laki usia 17-26 tahun yang terdiri atas  pelajar dua orang, pekerja sembilan orang dan pengangguran sembilan orang.

“Dua pelaku di antaranya masih di bawah umur,” beber Kepala BNN Kabupaten Kendal, AKBP Sharlin Tjahaja Frimer Arie kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Para tersangka berikut barang bukti diserahkan kepada penyidik BNN Provinsi Jateng dan Polres Kendal.

Dikatakan, selama ini BNN Kendal hanya bisa melakukan tindakan terhadap penyalahgunaan narkotika. Sementara untuk penyalahgunaan minuman keras seperti ciu, obat batuk, dan trihex merupakan wewenang polisi, Dinas Kesehatan maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Mulai tahun 2017 ini, BNN Kendal boleh melaksanakan penyidikan dan penyelidikan terhadap penyalahgunaan narkoba. Sebelumnya kami hanya bisa melakukan operasi dan menyerahkan pelaku kepada pihak berwajib untuk ditindaklanjuti,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga telah berhasil merehabilitasi 36 orang pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang. Jumlah itu mengalami penurunan dibanding 2015 sebanyak 58 orang.

Pecandu yang direhabilitasi merupakan usia produktif, 13-36 tahun. Sementara jenis obat yang disalahgunakan didominasi obat daftar G, seperti trihex, eximer, dan dextro sebesar 86,11 persen, sabu 11,11 persen, dan alprazolam atau obat penenang 2,78 persen.

Dari 36 korban yang direhabilitasi, yang tertinggi adalah kalangan pelajar sebanyak 29 orang. Berikutnya, pekerja swasta tiga orang, dan tidak bekerja empat orang. “Sejak 2012 rehabilitasi terhadap pecandu narkoba cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya,” katanya.

Pada 2012, pihaknya merehabilitasi tiga orang. Pada 2013, sebanyak 10 orang. Pada 2014 sebanyak empat orang, dan pada 2015 mencapai 58 orang.

“Sejak awal Januari silam, kami melaksanakan berbagai sosialisasi yang diikuti berbagai institusi mulai dari sekolah dasar hingga instansi dinas, kantor, badan, kecamatan, dan ormas,” ujar Kasi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Kabupaten Kendal, Sapto Nugroho.

Sosialisasi tersebut antara lain pembangunan berwawasan antinarkoba, bahaya narkoba, hingga membentuk relawan P4GN di berbagai kecamatan dan sejumlah SMP. “Sosialisasi sebagai bentuk mencegah penyalahgunaan narkoba di berbagai kalangan, khususnya pelajar sebagai generasi muda penerus bangsa,” katanya. (bud/aro)

Latest news

Related news