31 C
Semarang
Minggu, 9 Mei 2021

Transportasi Umum Masih Menyiksa Difabel

TRANSPORTASI umum di Kota Semarang dinilai belum ramah terhadap difabel. Beberapa shelter Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang bahkan dinilai cukup menyiksa para difabel karena terlalu tinggi. Shelter yang tinggi tersebut, juga tidak disediakan ramp atau jalan landai untuk pengguna kursi roda.

”Untuk teman yang pakai kruk sangat tidak nyaman. Bahkan pernah ada yang sampai merangkak ketika harus naik BRT,” ujar Noviana Dibyantari Ketua Komunitas Sahabat Difabel Semarang kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia mengatakan, idealnya akses transportasi umum harus disediakan sarana penunjang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemerintah telah menyediakan transportasi yang benar-benar akses untuk disabilitas.

Selain transportasi umum, beberapa fasilitas publik dinilai masih belum ramah terhadap difabel. Ia mencontohkan, area pedestrian dan fasilitas umum lainnya yang hanya menonjolkan tampilan daripada aksesibilitas difabel.

”Idealnya ya semua area pedestrian dilengkapi dengan blind tile (keramik khusus) untuk tunanetra tanpa hambatan pot, pohon atau pembatas jalan,” katanya.

Akses pelayanan umum, lanjutnya, harus dilengkapi dengan ramp untuk kursi roda, serta tempat parkir untuk motor roda 3. Dan yang perlu diperhatikan, imbuhnya, akses pelayanan umum harus dilengkapi dengan toilet khusus untuk disabilitas.

Dari pertemuan yang diikuti, yaitu Pertemuan Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus dari kota dan kabupaten se-Indonesia yang diselenggarakan KPAA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak), serta menjadi narasumber untuk Camp Tuna Netra Lintas Iman yang  juga dari perwakilan beberapa kota di Indonesia, ia mendapati bahwa rata-rata semua kota memang masih belum akses untuk difabel. Hanya Jakarta, Solo, Surabaya dan Bandung yang pemerintahnya sudah mulai konsisten untuk memikirkan aksesibilitas difabel.

”Semarang masih sangat-sangat jauh dalam memperhatikan aksesibilitas difabel. Termasuk area pedestrian warna-warni yang saya lihat  belum ada blind tile untuk sedulur tunanetra. Saat di-posting di akun Instagram wali kota, langsung saya komentari, minta tolong agar pembangunan infrastruktur jangan lupa memperhatikan kepentingan sedulur difabel,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, hotel dan rumah makan juga masih belum akses untuk difabel. Beberapa bangunan besar di Kota Semarang, katanya, selalu ada tangga tetapi kebanyakan tidak dilengkapi ramp untuk akses kursi roda.

”Ini saya temui saat mencari lokasi untuk kegiatan makan bareng 1.000 anak duafa, yatim dan anak jalanan beberapa waktu lalu,” katanya.

”Begitu juga beberapa tempat wisata juga masih banyak yang belum akses difabel, termasuk rumah sakit yang hanya menyediakan kursi roda di Poli atau IGD saja,” tambahnya. (sga/aro/ce1)

Latest news

Related news